Kisah Pemuda Penghuni Surga yang Tak Memiliki Dengki




Ada seorang pemuda yang saat ia lewat , Rasulullah mengatakan bahwa ia adalah calon penghuni surga . Hal itu membuat seorang sahabat , Abdullah bin Umar penasaran . Maka ia pun mencari tahu tentang ha ihwal pemuda itu .

Abdullah bin Umar berkisah,  selama tiga hari ia bersama seorang pemuda.  Pemuda itu diperhatikannya tidak  melakukan qiyamul lail (shalat malam) sedikitpun. Pemuda itu hanyalah bertakbir dan berzikir setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas tempat tidurnya sampai dia bangun untuk shalat shubuh.

Abdullah berkata, ‘Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Setelah tiga hari berlalu dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah ada pertengkaran antara aku dengan bapakku, dan tidak pula aku menjauhinya. Sebenarnya, aku hanya mendengar Rasulullah berkata tentang engkau tiga kali, ‘Akan muncul di hadapan kalian saat ini seorang laki-laki calon penghuni surga.’ Dan ternyata engkaulah yang muncul sebanyak tiga kali itu. Karena itu, aku jadi ingin tinggal bersamamu agar aku bisa melihat apa yang engkau lakukan untuk kemudian aku tiru. Akan tetapi, aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang besar. Lantas, amalan apa sebenarnya yang bisa menyampaikan engkau kepada kedudukan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah?"

Orang tersebut berkata, "Aku tidak melakukan kecuali apa yang kamu lihat."

Maka Abdullah bin Umar pun berlalu.  Namun,  tak berapa lama pemuda itu memanggilnya,  lalu berkata, ‘Sebenarnyalah aku memang tidak melakukan apa-apa selain yang engkau lihat. Hanya saja, selama ini aku tidak pernah merasa dongkol dan dendam kepada seorang pun dari kaum muslimin, serta tidak pernah menyimpan rasa hasad terhadap seorang pun terhadap kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya."

Maka Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang membuatmu sampai pada derajat tinggi, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan.'” (HR. Ahmad)

Abdullah bin Umar bertanya, “Ya Rasulullah! siapakah orang yang terbaik itu?"

Maka Beliau ﷺ bersabda,  "Yaitu orang mukmin yang bersih hatinya." Maka ditanyakan lagi,  "Apakah artinya orang yang bersih hatinya itu wahai Rasulullah?" Beliau ﷺ menjawab, "Ialah orang yang takwa, bersih tidak ada kepalsuan padanya, tak ada kedurhakaan, pengkhianatan, dendam dan kedengkian”. (HR. Ibnu Majah)

Alhamdulillah

Beratnya Sakit Rasulullah ﷺ

 

Saat sakit,  Rasulullah ﷺ merasakan kesakitan dua kali lipat dari orang biasa.

🌿 Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,

دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم وهو يوعك، فوضعت يدي عليه فوجدت حره بين يدي فوق اللحاف، فقلت: يا رسول الله، ما أشدها عليك! قال: إنا كذلك يضاعف لنا البلاء ويضاعف لنا الأجر، قلت: يا رسول الله، أي الناس أشد بلاءً؟ قال: الأنبياء، قلت: يا رسول الله، ثم من؟ قال: ثم الصالحون، إن كان أحدهم ليبتلى بالفقر حتى ما يجد أحدهم إلا العباءة يحويها، وإن كان أحدهم ليفرح بالبلاء كما يفرح أحدكم بالرخاء

“Aku pernah mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang sakit. Kemudian Aku letakkan tanganku di atas selimut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku dapati panasnya.
Aku berkata, ‘wahai Rasulullah, betapa beratnya demam ini!’

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Sesungguhnya kami para nabi, diberi ujian yang sangat berat, sehingga pahala kami dilipat gandakan.’


Abu Said pun bertanya, ‘wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;

‘Para nabi, kemudian orang shaleh. Sungguh ada di antara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih bangga dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan kalian ketika mendapat rezeki.'


 🌿 Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: ‘Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah.’ Maka aku berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا؟ قَالَ: «أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ» قُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: «أَجَلْ، ذَلِكَ كَذَلِك

“Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘iya benar, aku sakit sebagimana rasa sakit dua orang kalian (dua kali lipat)’, aku berkata, ‘oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.’ Beliau menjawab, ‘Benar, karena hal itu’. “

 🌿 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi adalah yang paling berat ujiannya dan yang paling sabar.

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Dari Mus’ab dari Sa’ad dari bapaknya berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau dien-nya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar dien-nya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”

Demikian.  Sungguh berat penderitaan Nabi Muhammad ﷺ. Beliau berjuang demi tegaknya Islam.  Shalawat dan salam kepada Baginda Muhammad ﷺ.

Alhamdulillah

Perumpamaan Tiga Jenis Batu dalam Al Quran



Batu ibarat hati, ada yang keras, ada memancarkan mata air, ada yang terbelah dan ada yang menggelinding jatuh.

Al Quran Al Baqarah 74
Bismillaahi Rahmaani Rahiim

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِّنۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِىَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan."
Shodaqollahul'adziim

Batu seringkali digunakan sebagai permisalan sebuah hati. Hati yang keras sekeras batu dimiliki mereka yang tidak beriman, ditandai dengan sifat dan perilaku yang buruk.

Sedangkan air digunakan untuk membuat permisalan akan iman. Air adalah lambang kesucian atau mensucikan. Air juga dijadikan permisalan akan wahyu. Wahyu Allahﷻ yang diturunkan kepada manusia ibarat air hujan dari langit yang menjadi sumber kehidupan di bumi. Wahyu yang diturunkan Allahﷻ dalam Al Quran adalah sumber kehidupan bagi hati.

Penjelasan ini pernah diungkapkan Nouman Ali Khan. Ia mengambil batu sebagai perumpamaan hati dan air sebagai perumpamaan iman seseorang dalam rangka memahami Al Quran Al Baqarah 74.

Sungguh disayangkan jika manusia memiliki hati sekeras batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal sebagaimana Allahﷻ gambarkan dalam ayat tersebut, batu saja ada yang bisa hancur dan tidak selamanya keras. Tiga jenis batu tersebut yaitu:

1. Memancarkan air

وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهٰرُ
"Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar daripadanya"

Iman dalam hati orang ini begitu besar sehingga ibarat mata air yang memancar dari sela-sela batu. Imannya menjadi keberkahan bagi dirinya dan orang lain karena begitu mudahnya ia menerima agama.

Salah satu contoh seorang yang memiliki karakter demikian adalah Abu Bakar Asshiddiqie radhiyallahu. Beliau begitu lembut hatinya, sehingga apabila Al Quran turun langsung mengalir dalam hatinya, bibirnya mengulangi dan air matanya menetes. Ibarat air yang memancar dari sela batu yang terbuka, demikianlah keimanan dalam hati Beliau.

2. Retak atau Terbelah

وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَآءُ
"Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya."

Batu seperti ini baru bisa mengalirkan air manakala retak atau dibelah terlebih dahulu. Ibaratnya, seseorang baru akan tersentuh keimanannya manakala hatinya mengalami keguncangan atau saat seseorang mengalami peristiwa yang dahsyat terlebih dahulu.

Penggambaran hati ibarat batu yang terbelah ini cocok dengan kisah saat Umar bin Khattab memeluk Islam. Beliau adalah seorang yang tidak sesering Abu Bakar dalam merenungkan tentang agama. Kegelisahan hati yang membuatnya terguncang adalah saat adiknya sendiri lebih dahulu memeluk Islam. Ia bahkan pernah ingin menemui dan membunuh Nabi Muhammad karena marahnya. Tapi keguncangan hatinya itu malah menjadikan keimanan tumbuh dalam dirinya sehingga memeluk Islam.

Hati yang ibarat batu dibelah ini perlu dipahami oleh mereka terutama yang aktif berdakwah. Tidak semua hati begitu mudahnya menerima nasehat. Adakalanya diperlukan lebih banyak waktu dan kesabaran untuk membuka hati ini.

3. Meluncur Jatuh

وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
"Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah."

Kita mengenal tiga kata dalam memahami derajat atau keadaan hati mereka yang memeluk agama Islam. Tiga kata itu adalah Ihsan, Iman dan Islam. Batu yang memancarkan air ibarat hati orang yang ihsan. Batu yang terbelah ibarat hati orang beriman. Sedangkan batu yang meluncur jatuh ibarat hati mereka yang telah mengakui dirinya Islam namun keimanan belum bertumbuh dalam hatinya.

Orang yang telah mengaku beragama Islam belum tentu serta merta terisi keimanan dalam hatinya. Hal ini berkaitan pula dengan firman Allah:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلٰكِنْ قُولُوٓا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ أَعْمٰلِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Orang-orang Arab Badui berkata, Kami telah beriman. Katakanlah (kepada mereka), Kamu belum beriman, tetapi katakanlah Kami telah tunduk (Islam), karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Quran Al-Hujurat 14

Batu yang meluncur jatuh dan takut kepada Allah ibarat hati mereka yang telah mengakui dirinya memeluk Islam namun keimanan belum bertumbuh dalam hatinya. Namun, bagi orang-orang yang mengakui Allah dan Rasul-Nya, maka mereka tetap memperoleh rahmat Allah karena tidak ada kesyirikan dalam hatinya.

Demikianlah perumpaan tiga jenis batu dalam Al Quran. Ada pula yang menafsirkan air dan batu ini sebagai hati yang banyak menangis. Menangis karena ingat dan takut kepada Allahﷻ.

Adapun orang yang hatinya sekeras bahkan lebih keras dari batu adalah mereka yang kafir atau ahli kitab yang mengubah isi kitab Allah agar mereka tidak dituntut di hari pembalasan. Hati mereka ibarat batu, bahkan lebih keras lagi. Kedustaan mereka membuat Allahﷻ menghilangkan keimanan dalam hati mereka.

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:
"لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةُ الْقَلْبِ، وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي".
Janganlah kalian banyak bicara selain dzikir kepada Allah, karena sesungguhnya banyak bicara selain dzikir kepada Allah mengakibatkan hati menjadi keras. Sesungguhnya sejauh-jauh manusia dari Allah ialah orang yang berhati keras." (HR Tirmidzi)

Semoga Allah yang Maha pembolak-balik hati mengarahkan hati kita kepada-Nya agar hati kita tidak sekeras batu.

Alhamdulillah

Kisah Sahabat Rasulullah SAW 40: Umeir bin Wahab



Umeir bin Wahab adalah seorang Quraisy yang memerangi Islam di perang Badar. Ia diutus untuk memata-matai tentara muslimin dan memperkirakan kekuatan pasukan waktu itu hanya 300 orang.

Para pembesar jahiliyah bertanya padanya apakah di belakang pasukan muslimin ada bala bantuan.

Umeir menjawab, "Aku tidak melihat apa-apa lagi di belakang mereka, tetapi wahai kaum Quraisy, aku bisa membayangkan pusara yang menganga di depan mereka. Mereka itu kaum yang tidak mempunyai pertahanan dan perlindungan kecuali pedang mereka sendiri. Demi Allah, tidak mungkin salah seorang di antara kita sebagai imbalannya. Maka apabila jumlah kita yang tewas sama dengan jumlah mereka, kehidupan mana lagi yang lebih baik setelah itu? Nah, cobalah kamu pikirkan baik-baik."

Kata-kata Umeir bin Wahab cukup mempengaruhi pemikiran para pembesar Quraisy. Abu Jahal pun tidak henti-hentinya memanaskan suasana dengan penuh kebencian agar perang segera dilaksanakan. Ternyata api peperangan yang disulut Abu Jahal membakar dirinya sendiri dan ia tewas di perang Badar.

Orang Mekah sering memanggil Umeir bin Wahab dengan sebutan jagoan Quraisy. Namun, usaha sang jagoan ini di perang Badar kalah telak. Umeir terpaksa meninggalkan anaknya yang kemudian tertawan di Madinah oleh pasukan muslim.

Rencana Buruk

Umeir bercakap-cakap dengan pamannya, Shafwan bin Umaiyah, mengenai kebencian mereka kepada kaum muslimin. Shafwan sendiri kehilangan ayahnya, Umaiyah bin Khalaf, di perang Badar, dimana tulang belakang mayat ayahnya terkubur di sebuah sumur tua.

Mereka kemudian memanggil Urwah bin Zubeir. Shafwan berkata: "Demi Allah, tak ada lagi gunanya hidup kita setelah peristiwa itu."

Umeir berkata, "Kau benar dan demi Allah, kalau karena utang yang belum sempat kubayar dan keluarga yang kukhawatirkan akan tersia-sia sepeninggalku, niscaya aku berangkat mencari Muhammad untuk membunuhnya! Aku mempunyai alasan kuat untuk berbicara dengannya, akan kukatakan bahwa aku datang untuk membicarakan anakku yang tertawan itu."

"Biarlah aku yang menanggung utangmu, akan kulunasi semua dan keluargamu hidup bersama keluargaku akan kujaga mereka seperti keluargaku." Shafwan berjanji untuk menguatkan Umeir akan rencana buruknya membunuh Rasulullah ﷺ.

Umeir berkata, "Nah, kalau begitu marilah kita simpan rahasia ini." Umeir lalu meminta pedangnya untuk diasah dan dibubuhi racun. Ia lantas berangkat ke Madinah.

Kala itu di Madinah, Umar bin Khattab tengah bercakap-cakap dengan sekelompok muslimin mengenai pertolongan Allah di perang Badar. Saat menoleh, tampaklah olehnya Umeir bin Wahab sedang menambatkan tunggangannya di muka masjid sembari bersiap memakai pedangnya.

"Itu Umeir bin Wahab, anjing musuh Allah. Demi Allah, pastilah kedatangannya untuk maksud jahat. Ia lah yang telah menghasut orang banyak dan mengarahkan mereka untuk memerangi kita di perang Badar."

Umar bergegas mengahadap Rasulullah ﷺ dan berkata, "Ya Nabi Allah, itu si Umeir musuh Allah, ia telah datang siap menghunus pedangnya! "

Rasulullah ﷺ menjawab, "Suruhlah dia masuk menghadapku! "

Umar menyuruh beberapa muslim berada di dekat Nabi untuk menjaganya, sementara ia menjemput Umeir dengan pedang terhunus di pundak. Rasulullah ﷺ melihat hal itu kemudian berkata, "Biarkanlah ia wahai Umar. Dan Anda wahai Umeir, dekatlah kemari! "

Umeir pun mendekati dan berkata, "Selamat pagi! "

Nabi ﷺ menjawab, "Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan suatu ucapan kehormatan yang lebih baik dari ucapanmu hai Umeir, yaitu salam, penghormatan ahli surga! "

Umeir berkata, "Demi Allah, aku masih hijau tentang hal itu. "

Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, "Apa maksudmu datang kemari hai Umeir? "

Umeir menjawab, "Kedatanganku ke sini sehubungan dengan tawanan yang berada di tangan Anda. "

"Apa maksudmu dengan pedangmu yang terhunus itu? " Tanya Rasulullah ﷺ lagi.

"Pedang-pedang keparat, menurut Anda apakah ada faedah manfaatnya pedang iru bagi kami? " Jawab Umeir.

"Berkatalah terus terang hai Umeir, apa maksud kedatanganmu yang sebenarnya? "

Umeir menjawab, "Tidak ada yang lain hanyalah yang kusebutkan tadi. "

Rasulullah ﷺ berkata, "Bukankah kamu telah duduk bersama Shafwan bin Umaiyah di atas batu lalu kamu berbincang-bincang tentang orang-orang Quraisy yang tewas di sumur Badar kemudian kamu berkata, 'Kalau bukan karena utangmu dan memegang keluargamu, niscaya aku akan pergi membunuh Muhammad'. Lalu Syahwan menjamin akan membayar utangmu dan keluargamu, asal kamu membunuhku, padahal Allah telah menjadi penghalang bagi maksudmu itu. "

Umeir sangat kaget, ternyata Rasulullahﷺ mengetahui pembicaraannya dengan Syahwan. Seketika itu juga ia berkata:

"Asyhadu alla ilaha illallah aa asyhadu Anna ka Rasulullah. Urusan ini tidak ada yang menghadirinya selain aku dengan Shafwan saja. Demi Allah! Maha puji syukur kepada Allah yang telah menunjuki aku kepada Islam. "

Maka berkatalah Rasulullah ﷺ kepada sahabat-sahabatnya, "Ajarilah saudaramu ini soal agama, bacakan kepadanya Al Quran dan bebaskan tawanan itu serta serahkanlah kepadanya. "

Demikianlah asal mula Umeir bin Wahab masuk Islam. Ia kemudian menjadi pembela Islam yang gigih.

Umar bin Khattab berkata, "Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku lebih suka melihat babi daripada Umeir sewaktu ia mula-mula muncul di hadapan kita. Tetapi sekarang aku lebih suka kepadanya daripada sebagian anakku sendiri."

Sejak Umeir meninggalkan Mekah menuju Madinah, Shafwan bin Umayah seringkali mondar-mandir di kota Mekah dengan sombong. Orang-orang bertanya padanya mengapa ia terlihat senang. Shafwan menjawab dengan yakinnya, "Bersenang hatilah kalian karena bakal ada satu kejadian yang akan datang beritanya dalam beberapa hari lagi yang akan menghapus malu kita di perang Badar. "

Setiap hari ia pergi ke pinggiran kota Mekah, bertanya pada para musafir sekiranya ada kabar mengenai peristiwa yang terjadi di Madinah. Namun, tidak didapatinya kabar itu. Sampai suatu hari ia bertanya, "Apa tak ada suatu kejadian di Madinah? "

Salah seorang musafir akhirnya berkata, "Benar, telah terjadi suatu kejadian besar! "

Wajah Shafwan menjadi ceria karena ia begitu yakin Umeir telah berhasil membunuh Rasulullah ﷺ. "Apa sebenarnya yang terjadi tolong ceritakan kepadaku! "

Orang tadi menjawab, "Umeir bin Wahab telah memeluk Islam, ia di sana sedang memperdalam agama dan mempelajari Al Quran. "

Shafwan pun menjadi lemas, terkejut ibarat disambar petir.

Kembali ke Mekah

Suatu hari Umeir menghadap Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, dahulu aku berusaha memadamkan cahaya Allah, sangat jahat terhadap orang yang memeluk agama Allah Azza wajalla, maka sekarang aku ingin agar Anda izinkan aku pergi ke. Mekah. Aku akan menyeru mereka kepada Allah dan kepada RasulNya serta kepada Islam semoga mereka diberi hidayah oleh Allah. Kalau tidak, aku akan menyakiti mereka karena agama mereka sebagaimana dulu aku menyakiti sahabat-sahabatmu karena agama yang diikuti mereka. "

Sampailah suatu ketika Umeir kembali ke Mekah. Shafwan sangat ingin menemui dan menebaskan pedangnya kepada Umeir. Namun, dilihatnya pedang Umeir telah terhunus, ia pun mengurungkan niatnya. Shafwan hanya melontarkan caci maki.

Umeir berkata, "Demi Allah, tidak akan kubiarkan satu tempat pun yang pernah kududuki dengan kekafiran melainkan akan kududuki lagi dengan keimanan."

Banyak penduduk Mekah yang mengikuti masuk Islam lantaran pengaruh keteguhan iman Umeir bin Wahab.

Saat pembebasan kembali kota Mekah, Umeir pun turut memasuki masjidil haram. Ia tak hendak melupakan sahabatnya Shafwan bin Umayah lalu pergi ke tempat saudaranya ltu.

Sayangnya, Shafwan telah pergi menuju Jeddah untuk berlayar ke Yaman. Umeir sangat kasihan dan kecewa dengan sahabatnya. Ia pergi menghadap Rasulullahﷺ dan berkata, "Ya Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan itu adalah milik penghulu kaumnya, ia hendak pergi melarikan diri dengan menerjuni laut karena takut dengan Anda. Maka mohon Anda beri ia keamanan dan perlindungan, semoga Allah melimpahkan karunia-nya kepada Anda. "

Nabi menjawab, "Ia aman. "

Umeir berkata lagi, "Ya Rasul Allah berilah aku suatu tanda sebagai bukti keamanan dari Anda. "

Maka Rasulullah ﷺ memberikan sorbannya yang dipakai saat memasuki Mekah. Umeir pergi dengan sorban itu menyusul Shafwan yang hendak berlayar. Ia berseru kepada Shafwan, "Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu. Ingatlah kepada Allah, janganlah engkau silap dan berputus asa. Inilah tanda keamanan dari Rasulullah yang sengaja aku bawa untukmu. "

Shafwan menjawab, "Enyahlah engkau tak perlu bercakap denganku! "

Umeir menjelaskan, "Benar Syafwan, jaminanmu ayah dan ibuku, sesungguhnya Rasulullah itu adalah manusia yang paling utama, paling banyak kebajikannya, paling penyantun dan paling baik. Kemuliaannya kemuliaanmu, martabatnya martabatmu. "

Shafwan berkata, "Aku takut terhadap diriku. "

Umeir berkata, "Beliau orang yang paling penyantun dan paling mulia, lebih dari apa yang engkau duga! "

Akhirnya hati Shafwan luluh. Ia pun mengikuti Umeir dan menghadap Rasulullah ﷺ. Shafwan berkata, "Kawan ini mengatakan bahwa Anda telah memberiku keamanan."

"Betul. " Jawab Nabi.

Shafwan berkata, "Berilah aku kesempatan untuk memilih selama dua bulan. "

Rasulullahﷺ menjawab, "Engkau diberi kesempatan memilih selama empat bulan. "

Kemudian akhirnya Shafwan pun menjadi Islam. Tak terkira bahagianya Umeir bin Wahab akan keadaan saudara yang juga temannya itu.

Demikianlah kisah Umeir bin Wahab. Setelah pembebasan Mekah, Umeir melanjutkan hidupnya mengikuti jejak Rasulullahﷺ menyeru kepada umat manusia untuk melepaskan mereka dari kesesatan menuju cahaya terang.

Salam untukmu Umeir bin Wahab, semoga Allah meridhoimu.

Alhamdulillah
Kisah Sahabat lainnya:
Kisah Sahabat Rasulullah SAW

Asmaul Husna: An Nur


An Nur - Maha Pemberi Cahaya

Allahﷻ adalah sumber cahaya langit dan bumi. 

اللَّهُ نُورُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكٰوةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلٰى نُورٍ ۗ يَهْدِى اللَّهُ لِنُورِهِۦ مَنْ يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Quran An-Nur 35

Allahﷻ adalah cahaya terang yang akan bersinar saat tiada lagi yang mampu bercahaya,  cahaya dengan sendiri-Nya,  bukan dinyalakan cahaya lain. Cahaya-Nya di dunia ini adalah agama-Nya.  Cahaya yang diturunkan melalui Al Quran,  kemudian meresap ke dalam hati mereka yang percaya.


فَئَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَالنُّورِ الَّذِىٓ أَنْزَلْنَا ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Qur'an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
Quran At-Taghabun 8

Mereka yang tidak mempercayai Allahﷻ berada dalam kegelapan yang segelap-gelapnya.

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُۥ لِلْإِسْلٰمِ فَهُوَ عَلٰى نُورٍ مِّنْ رَّبِّهِۦ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولٰٓئِكَ فِى ضَلٰلٍ مُّبِينٍ
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."
Quran Az-Zumar 22

أَوْ كَظُلُمٰتٍ فِى بَحْرٍ لُّجِّىٍّ يَغْشٰىهُ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهِۦ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهِۦ سَحَابٌ ۚ ظُلُمٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَآ أَخْرَجَ يَدَهُۥ لَمْ يَكَدْ يَرٰىهَا ۗ وَمَنْ لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُۥ نُورًا فَمَا لَهُۥ مِنْ نُّورٍ
"atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun."
Quran An-Nur 40

Tak ada yang sanggup memadamkan cahaya Allah.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوٰهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُونَ
"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya."
Quran As-Saff 8

Mereka yang percaya memohon dilimpahkan cahaya kepada Allah.

رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Ya Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 8)

Rasulullah ﷺ biasa memanjatkan doa:

اَللّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُوْرًا وَفِى لِسَانِى نُوْرًا وَاجْعَلْ فِى سَمْعِى نُوْرًا وَاجْعَلْ فِى بَصَرِى نُوْرًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِى نُوْرًا وَمِنْ اَمَامِى نُوْرًا وَمِنْ فَوْقِى نُوْرًا وَمِنْ تَحْتِى نُوْرًا اَللّهُمَّ اَعْطِنِى نُوْرًا

“Ya Allah ! Jadikanlah cahaya didalam hatiku dan di lidahku, jadikanlah cahaya dalam pendengaranku, jadikanlah cahaya dalam penglihatanku, jadikan cahaya dari belakangku , dari hadapanku dari atasku dan dari bawahku! Ya Allah berilah aku cahaya.” (HR Bukhari-Muslim)

Amal kebaikan akan menjadi cahaya bagi mereka yang beriman di hari akhir .

Alhamdulillah

Kisah Taubatnya Sang Pencuri Kain Kafan



Sudah sampaikan kisah tentang taubatnya seorang pencuri kain kafan kepada sahabat sekalian? Kisah ini melatar-belakangi turunnya ayat dalam Al Quran, yaitu surat Ali Imran ayat 135-136.

Bismillahi Rahmaani Rahiim

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلٰى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
أُولٰٓئِكَ جَزَآؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَنِعْمَ أَجْرُ الْعٰمِلِينَ

"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.
Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal."
Shodaqollahul'adziim

Abdurrahman bin Ghannam Al Daws memgisahkan bahwa suatu hari Muadz bin Jabal mendatangi Rasulullah ﷺ. Setelah mengucapkan salam, ia berkata, "Wahai Rasulullah, di depan pintu ada seorang pemuda tampan sedang menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Dia ingin menemui Anda."

Nabi ﷺ berkata, "Suruh masuk pemuda itu wahai Muadz!" Muadz pun membawa pemuda itu masuk untuk menghadap Rasulullah ﷺ.

"Apa yang membuatmu menangis wahai pemuda? " tanya Rasulullah ﷺ.

"Bagaimana aku tidak menangis ya Rasulullah, aku telah melakukan dosa besar yang kurasa tidak mungkin akan diampuni Allah."

Rasulullah ﷺ pun bertanya, "Apakah engkau menpersekutukan-Nya? "

Pemuda itu serta merta menjawab, "Aku berlindung kepada Allah untuk tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apa pun."

Rasulullah ﷺ bertanya lagi, "Apakah engkau membunuh seseorang yang diharamkan Allah untuk membunuhnya?"

"Tidak ya Rasulullah."

"Kalau begitu Allah akan mengampuni dosa-dosamu walaupun dosamu itu sebesar gunung yang menjulang ke langit, " kata Rasulullah ﷺ.

Namun pemuda itu menangis keras seraya berkata, "Dosa apakah yang lebih besar dari gunung itu?! "

"Allah akan mengampuni dosa-dosa mu meskipun dosamu sebesar tujuh bumi berikut lautan dan segala yang ada padanya."

"Namun dosaku lebih besar dari itu ya Rasulullah," kata pemuda itu.

Rasulullah ﷺ berkata, "Allah akan mengampuni dosa-dosamu meskipun dosamu sebesar langit berikut bintang gemintang dan singgasana-Nya."

Kembali pemuda itu menangis dan berkata, "Dosaku lebih besar daripada itu, ya Rasulullah."

"Wahai pemuda, apakah yang lebih besar, dosa-dosamu atau Tuhanmu? "

Pemuda itu tersungkur lalu berkata, "Subhanallah, tidak ada yang lebih besar daripada Tuhanku."

"Kalau begitu dosa apa yang telah kau perbuat?"

Sambil berlinang air mata pemuda itu berkisah:
"Sudah tujuh tahun ini pekerjaanku mencuri kain kafan mayat yang baru meninggal untuk kujual ke pasar. Pada suatu hari ada seorang anak gadis Anshar meninggal dunia. Setelah dikubur dan ditinggalkan oleh keluarganya, sebagaimana biasanya aku mendatangi kuburannya untuk melucuti kain kafannya. Kutinggalkan dia telanjang di bibir kuburan, kemudian bergegas aku pulang ke rumah membawa hasil jarahanku. Di rumah aku membayangkan betapa mulusnya mayat gadis itu sampai akhirnya aku tergoda untuk melihatnya kembali. Ketika melihat mayat gadis itu, aku tidak dapat menguasai diriku sehingga aku menggaulinya. Ketika itu aku mendengar suara yang seolah-olah mengatakan,
'Wahai pemuda, celakalah engkau di hadapan penghisab pada hari kiamat kelak tempatmu adalah di neraka...''
Aku sangat terkejut dan takut sekali . Lalu bagaimana menurut pendapatmu, ya Rasulullah?"

Dengan terkejut Rasulullah ﷺ berkata, "Pergilah engkau dari sisiku, aku takut terbakar bersama apimu."

Pemuda itu pun pergi meninggalkan Rasulullah ﷺ dengan lemas. Ia pergi ke Madinah. Selama 40 hari ia menangis terus menerus, tak henti-hentinya memohon ampun kepada Allah. "Ya Allah ampunilah segala kesalahanku dan berikanlah wahyu kepada Nabi-Mu. Jika Engkau tidak mengampuniku, maka berikanlah segera siksaan-Mu yang menghancurkanku di dunia ini, tetapi selamatkanlah aku dari siksa-Mu di hari kiamat kelak."

Rupanya taubat pemuda itu diterima Allah ﷻ dan diturunkan sebuah ayat kepada Rasulullah ﷺ yaitu Al Qur'an surat Ali Imran 135-136.

Setelah menerima wakyu tersebut, Rasulullah ﷺ bersama para sahabat mencari si pemuda. Pemuda itu ditemukan di antara dua buah batu besar dalam keadaan lemah dan mata yang bengkak karena banyak menangis. Rasulullah ﷺ kemudian menghampirinya dan membersihkan debu di kepalanya, lalu bersabda, "Aku ingin memberi kabar gembira kepadamu bahwasannya engkau kini adalah orang yang dibebaskan Allah dari api neraka." Kemudian Rasulullah ﷺ berpaling kepada para sahabat seraya berkata, "Beginilah kalian seharusnya menyertai dosa yang kalian lakukan, seperti yang dilakukan pemuda ini."

Demikian kisah si.pemuda.pencuri kain kafan. Tiada kata terlambat untuk memohon ampun. Semoga Allah ﷻ mengampuni dosa-dosa dan menerima taubat kita.

Alhamdulillah

Asmaul Husna: Al Muizz


Al Muizz - Maha Memuliakan

 وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ
"Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki."
Quran Ali Imran 26

Allahﷻ adalah Aziz,  Pemilik Kemuliaan dan Muizz,  Pemberi Kemuliaan.  Dia memberi kemuliaan kepada hamba-hamba-nya yang patuh dan pengasih.  Kemuliaan bukanlah dalam segi materi,  tapi kebesaran jiwa di dunia dengan tujuan kekekalan alam akhirat.

Kemuliaan diberikan kepada mereka yang beriman dan kedudukan mereka ditinggikan di atas orang-orang kafir,  sebagaimana Allahﷻ pernah mengabarkan kepada nabi Isa Alaihissalam tentang kedudukan para pengikut Nabi yang lurus.

إِذْ قَالَ اللَّهُ يٰعِيسٰىٓ إِنِّى مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَىَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوٓا إِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ  ۖ  ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
"(Ingatlah), ketika Allah berfirman, Wahai 'Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan."
Quran Ali 'Imran 55

Mereka yang beriman tak akan tertipu dengan kemuliaan semu yang nampak di dunia. Mereka memberikan bagian kepada dunia tidak lain demi kebaikan di negeri akhirat.

وَابْتَغِ فِيمَآ ءَاتٰىكَ اللَّهُ الدَّارَ الْأَاخِرَةَ  ۖ  وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا  ۖ  وَأَحْسِنْ كَمَآ أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ  ۖ  وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْأَرْضِ  ۖ  إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."
Quran Al-Qasas 77

Allahﷻ senantiasa membantu mereka yang beriman.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهٰدُ
"Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat),"
Quran Ghafir 51

Merasa diri sendiri paling baik akan menjauhkan seseorang dari Allah.

Alhamdulillah


Asmaul Husna: Al Wakil



Al Wakil - Maha Mewakili

  وَكَفٰى بِاللَّهِ وَكِيلًا
"...Cukuplah Allah sebagai pelindung."
Quran An Nissa 81

Allahﷻ Maha Baik dan Maha Berkuasa. Segala urusan kita paling bauk kalau dipercayakan kepada-nya untuk diurus karena Dia-lah Pelindung yang terbaik  dari segala kepentingan. Allahﷻ bebas dari segala kekurangan sebagaimana halnya manusia sehingga Dia-lah yang paling layak untuk dipercayai.  Mempercayai Allahﷻ sebagai Al Wakil berarti bertawakal kepada-Nya.

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ  ۖ  وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِى يَنْصُرُكُمْ مِّنۢ بَعْدِهِۦ  ۗ  وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
"Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang beriman bertawakal."
Quran Ali 'Imran 160

Menaruh kepercayaan kepada-Nya berarti melakukan segala ikhtiar seperti petunjuk yang diberikan-nya dan tidak melakukan hal-hal yang dilarang-Nya. Setelah itu menyerahkan segala hasilnya di tangan Allah. Allahﷻ mengetahui jalannya setiap peristiwa lebih baik dari apa yang dapat dipikirkan manusia.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ  ۖ  وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ  ۖ  فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْأَمْرِ  ۖ  فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ  ۚ  إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal."
Quran Ali 'Imran 159

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa sebelum tidur sebagaimana dimuat dalam riwayat Bukhari dari Al-Bara' bin `Azib:

 "‏ يَا فُلاَنُ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلِ
 اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ‏.‏
فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ فِي لَيْلَتِكَ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ، وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا ‏"‏‏.‏

"Hai fulan,  jika kalian hendak tidur ucapkanlah:
'Allahumma,  aku menyerahkan diriku kepada Mu,  aku memalingkan wajahku kepada Mu,  aku menyerahkan urusan-urusanku kepada Mu dengan penuh harapan dan rasa takut kepada Mu,  tidak ada perlindungan,  tidak ada pelarian dari Mu kecuali di dalam diri Mu.  Aku percaya kepada kitab Mu yang Engaku turunkan dan kepada Nabi Mu yang Engkau kirim.'
Jika kau meninggal malam itu,  maka kau meninggal sebagai muslim dan bila terbangun di pagi hari maka engkau mendapat pahala."

Buah dari tawakal adalah ridho pada qadha atau takdir Allahﷻ.

Alhamdulillah

Kembali Kepada yang Kekal




Janganlah berhenti setelah membaca:
Bismillahi Rahmaani Rahiim
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa,"
Quran Ar Rahman 26
Sebelum meneruskan membaca:
وَيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْإِكْرَامِ
"Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan."
Quran Ar Rahman 27
Shodaqollahul'adziim
Serelah semua penduduk bumi mati, dan bahwa mereka akan dikembalikan ke negeri akhirat, lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang memiliki kebesaran dan keagungan akan memutuskan terhadap seluruh manusia dengan hukum­-Nya yang adil.
Sebuah doa:
يَا حَيُّ، يَا قَيُّومُ، يَا بديع السموات وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، بِرَحْمَتِكَ نَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَلَا إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ
Wahai (Rabb) Yang Hidup Kekal Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya, wahai (Rabb) Pencipta langit dan bumi, wahai (Rabb) yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau, dengan memohon rahmat-Mu kami meminta pertolongan, perbaikilah bagi kami semua urusan kami, dan janganlah Engkau serahkan diri kami kepada hawa nafsu kami barang sekejap mata pun, dan jangan pula kepada seseorang dari makhluk-Mu

Alhamdulillah
#Quran

Pohon Tauhid Dan Pohon Syirik

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan sebuah perumpamaan tentang kalimat-kalimat.  Kalimat yang baik adalah kalimat tauhid,  dimisalkan sebagai pohon yang kuat.  Sebaliknya kalimat yang buruk adalah kalimat syirik ibarat pohon yang rapuh.

Menulis ulang Al Quran surat Ibrahim ayat 24-27. Pohon tauhid sebagai perumpamaan kalimat yang baik digambarkan pada ayat 24 dan 25. Sedangkan pohon syirik sebagai gambaran kalimat buruk pada ayat 26 dan 27.

Bismillahi Rahmaani Rahiim

Pohon tauhid:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى السَّمَآءِ
"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit," (24)

تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۢ بِإِذْنِ رَبِّهَا  ۗ  وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
"(pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Rabbnya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat." (25)

Pohon syirik:
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ
"Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun." (26)

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْأَاخِرَةِ  ۖ  وَيُضِلُّ اللَّهُ الظّٰلِمِينَ  ۚ  وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَآءُ
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (27)
Shodaqollahul'adziim

Ibnul Qoyim Al Jauziyah memberikan gambaran tentang perumpamaan pohon ini:

السنة شجرة والشهور فروعها والأيام أغصانها والساعات أوراقها والأنفاس ثمرها فمن كانت أنفاسه في طاعة فثمرة شجرته طيبة ومن كانت في معصية فثمرته حنظل وإنما يكون الجداد يوم المعاد فعند الجداد يتبين حلو الثمار من مرها

Hitungan tahun ibarat sebatang pohon, hitungan bulan ibarat cabangnya, hitungan hari ibarat rantingnya, dan hitungan jam ibarat dedaunan, sementara bilangan nafas adalah buahnya. Karena itu, siapa yang sepanjang nafasnya berisi ketaatan, maka akan muncul buah pohon yang nikmat. Dan siapa yang hitungan nafasnya berisi maksiat, buahnya seperti handzal (buah sangat pahit). Dan musim panennya adalah saat kiamat. Ketika panen, barulah kita tahu rasa buahnya, manis ataukah pahit.

Lebih lanjut Beliau menjelaskan:

والإخلاص والتوحيد شجرة في القلب فروعها الأعمال وثمرها طيب الحياة في الدنيا والنعيم المقيم في الآخرة وكما أن ثمار الجنة لا مقطوعة ولا ممنوعة فثمرة التوحيد والإخلاص في الدنيا كذلك

Ikhlas dan tauhid adalah pohon dalam hati. Cabangnya amal soleh, buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat. Sebagaimana buah surga tidak pernah terhenti dan tidak pernah putus, demikian pula buah dari tauhid dan ikhlas ketika di dunia, juga demikian.

والشرك والكذب والرياء شجرة في القلب ثمرها في الدنيا الخوف والهم والغم وضيق الصدر وظلمة القلب وثمرها في الآخرة الزقوم والعذاب المقيم

Syirik, dusta, dan riya juga pohon dalam hati. Buahnya ketika di dunia bentuknya rasa takut, bingung, cemas, hati yang sempit, dan gelapnya hati. Sementara buah di akhirat adalah buah zaqqum dan siksa yang abadi. (al-Fawaid, hlm. 164).

Demikian. Semoga pohon tauhid senantiasa terpelihara dalam hati kita.

Alhamdulillah

Kisah Sahabat Rasulullah SAW 39: Salamah bin Al-Akwa


"Ayahku tak pernah berdusta," kata Iyas menggambarkan pribadi ayahnya. Iyas adalah putra dari Salamah bin Al Akwa. Bagi seorang sholeh,  orang yang tak pernah berdusta cukup menggambarkan sifat-sifat mulia pada dirinya.

Salamah bin Al Akwa adalah salah satu dari orang-orang Bai'atur Ridwan.  Ini adalah peristiwa bai'at yang dilakukan para sahabat Rasulullah ﷺ di bawah naungan sebuah pohon pada tahun 6 Hijriah.  Kala itu Rasulullah ﷺ bermaksud kembali ke Mekah hendak berziarah dengan damai ke Kabah. Beliau ﷺ mengutus Ustman bin Affan untuk menyampaikan kehendak kaum muslimin kepada pemuka Quraisy.  Namun,  tersiar kabar bahwa Ustman bin Affan telah mereka bunuh.  Maka Rasulullah ﷺ meminta para sahabat dan kaum muslim kala itu untuk tetap bersamanya dan berbai'at kepada Beliau.

Salamah pun ikut berjanji setia kepada Rasulullah ﷺ pada peristiwa itu.  Salamah bercerita:

"Aku mengangkat bai'at kepada Rasulullah di bawah pohon dengan pernyataan menyerahkan jiwa raga ku untuk Islam,  lalu aku mundur dari tempat itu. Tatkala mereka tidak berapa banyak lagi,  Rasulullah bertanya,  "Hai Salamah,  mengapa engkau tidak ikut bai'at?"
"Aku telah bai'at ya Rasulullah, " ujarku.
"Ulanglah kembali, " perintah Nabi ﷺ.
Maka kuucapkanlah bai'at itu kembali."

Salamah selalu membuktikan janjinya.  Ia selalu setia bersama agama yang dianutnya,  berjuang bersama-sama.  "Aku berperang bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali dan bersama Zaid bin Haritsah sebanyak sembilan kali."

Salamah adalah seorang pejuang yang tangguh,  kuat dalam berjalan kaki.  Ia mahir memanah dan melempar tombak serta lembing. Ia layaknya seorang gerilya.  Jika musuh menyerang,  ia akan sedikit mundur.  Namun,  saat lawan beristirahat,  diserangnya tanpa ampun.

Hanya seorang diri ia pernah mampu melakukan siasat ini.  Bahkan seorang diri ia mampu menghalau pasukan kafir yang akan menyerang dari luar kota Madinah yang kala itu dipimpin oleh Uyainah bin Hishan al Fizari dalam perang Dzi Qarad.

Salamah membuntuti mereka seorang diri lalu menghalau mereka agar lebih lama masuk ke Madinah,  sebelum akhirnya bala bantuan Rasulullah ﷺ  datang dan menghalau lawan bersama-sama.

Kepada para sahabat,  karena kemampuan Salamah itu,  Rasulullahﷺ berkata,  "Tokoh pasukan jalan kaki kita yang terbaik ialah Salamah bin Al Akwa."

Sungai Surga

Salamah tak pernah menyesal apalagi kesal berperang di jalan Allah.  Kecuali rasa kecewa saat saudaranya bernama Amir bin Al Akwa tewas di perang Khaibar.

Saat perang,  Amir mengucapkan kata-kata: "Kalau tidak karena-Mu,  tidaklah kami akan dapat hidayah.  Tidak akan sholat dan tidak pula berzakat.  Maka turunkanlah ketetapan ke dalam hati kami dan dalam berperang nanti,  teguhkanlah kaki-kaki kami."

Lalu saat berperang itu,  Amir akan memukulkan pedangnya kepada salah seorang tentara musyrik.  Tiba-tiba pedang yang dipegangnya itu meleset sehingga berbalik dan mengenai kepalanya sendiri.  Pedang itu menghujam ubun-ubunnya sehingga menyebabkan kematiannya.

Beberapa orang Islam yang menyaksikan kala itu berkata,  "Kasihan Amir,  ia terhalang mendapatkan mati syahid."

Salamah sangat kecewa mendengar perkataan itu.  Ia sangat tidak rela jika saudaranya itu dikatakan tidak mati syahid lantaran dianggap mati bunuh diri.

Maka Salamah mendatangi Rasulullah ﷺ dan menanyakan perihal saudaranya. "Wahai Rasulullah,  betulkah pahala Amir telah gugur?"

Rasulullah ﷺ menjawab,  "Ia gugur sebagai pejuang,  bahkan mendapat dua macam pahala.  Dan sekarang ia sedang berenang di sungai-sungai surga."

Demikian salah satu kisah seorang Salamah bin Al Akwa.  Ia juga seorang yang sangat dermawan.  Ada kalanya orang mengetahui kedermawanannya dan memenuhi permintaan mereka kepada Salamah atas nama Allah.  "Ku pinta pada anda atas nama Allah... " ungkap mereka. Maka,  Salamah akan memenuhinya. "Jika bukan atas nama Allah,  atas nama siapa lagi kita akan memberi?"

Kembali ke Madinah

Kala Ustman bin Affan dibunuh orang,  saat itu fitnah mulai melanda kaum muslim,  Salamah memilih untuk tidak berada dalam pusaran konflik. Ia yang selama ini telah banyak berjuang,  berperang di jalan Allah,  tak ingin berperang melawan saudara sesama muslim.

Maka,  dipilihlah Rabdzah,  sebuah daerah baginya untuk meninggalkan Madinah sementara waktu saat fitnah tengah berkobar. Ia mengemasi barang-barangnya dan pergi ke sana.  Rabdzah adalah juga tempat bagi Abu Dzar untuk mengasingkan diri dari permusuhan sesama muslim setelah terbunuhnya khalifah.

Salamah menghabiskan sisa hidupnya di Rabdzah,  beramal ibadah kepada Allah.  Sampai suatu hari di tahun 74 Hijriah,  ia merasa rindu untuk kembali ke Madinah. Maka,  pergilah ia kembali ke Madinah.  Setelah sehari,  dua hari,  tiga hari Salamah tinggal di Madinah,  Allah subhanahu wa ta'ala memanggilnya.  Demikianlah kerinduannya itu kepada Madinah sebagaimana kerinduannya menghadap Sang Khalik.  Ia kembali ke tanah suci untuk menghadap Rabb,  di tanah yang sama saat ia pernah berkumpul bersama sahabat-sahabat  Rasulullah ﷺ yang mulia.

Salam untukmu Salamah bin Al Akwa,  semoga Ridho Allah atasmu.

Alhamdulillah
Kisah Sahabat lainnya:
Kisah Sahabat Rasulullah SAW






Asmaul Husna: Al Muizz



Al Muizz - Maha Pemberi Kemuliaan

وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ
"Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki."
Quran Ali Imran 26

Allah adalah Aziz,  Pemilik Kemuliaan, dan Muizz,  Pemberi Kemuliaan. Dia memberi kemuliaan kepada hamba-hambanya yang patuh dan pengasih. Kemuliaan bisa berarti derajat yang lebih tinggi di alam baka.

إِذْ قَالَ اللَّهُ يٰعِيسٰىٓ إِنِّى مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَىَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوٓا إِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ  ۖ  ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
"(Ingatlah), ketika Allah berfirman, Wahai 'Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan."
Quran Ali 'Imran  55

Allah memberikan kekuatan berupa materi kepada siapa yang dikehendakiNya untuk menambah kemuliannya. Bagi sebagian yang lain,  materi ini tak lebih dari sebuah ujian.

بِيَدِكَ الْخَيْرُ  ۖ  إِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
"Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Quran Ali Imran 26

Saat materi adalah sebuah ujian,  maka saat manusia menjadi budak materi,  hilanglah kemuliaan dirinya.

وَابْتَغِ فِيمَآ ءَاتٰىكَ اللَّهُ الدَّارَ الْأَاخِرَةَ  ۖ  وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا  ۖ  وَأَحْسِنْ كَمَآ أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ  ۖ  وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْأَرْضِ  ۖ  إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."
Quran Al-Qasas 77

Seorang yang beriman akan yakin bahwa Allah akan membimbing dan mendukungnya.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهٰدُ
"Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat),"
Quran Ghafir 51

Hanya mementingkan diri sendiri menjauhkan seseorang dari kemuliaan dirinya.

Alhamdulillah

Asmaul Husna: Al Basit



Al Basit- Maha Melapangkan

Allahﷻ mampu melapangkan kehidupan bagi hamba-Nya.  Allahﷻ menjadikannya luas dan terasa mudah.

  ...وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
"... Dan Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan."
Quran Al-Baqarah  245

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَآءُ وَيَقْدِرُ  ۚ  وَفَرِحُوا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْأَاخِرَةِ إِلَّا مَتٰعٌ
"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat."
Quran Ar-Ra'd 26

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ  ۚ  غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا  ۘ  بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَآءُ  ۚ  وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِّنْهُمْ مَّآ أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ طُغْيٰنًا وَكُفْرًا  ۚ  وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدٰوَةَ وَالْبَغْضَآءَ إِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ  ۚ  كُلَّمَآ أَوْقَدُوا نَارًا لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ  ۚ  وَيَسْعَوْنَ فِى الْأَرْضِ فَسَادًا  ۚ  وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
"Dan orang-orang Yahudi berkata, Tangan Allah terbelenggu. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki. Dan (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha (menimbulkan) kerusakan di bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
Quran Al-Ma'idah  64

اللَّهُ الَّذِى يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُۥ فِى السَّمَآءِ كَيْفَ يَشَآءُ وَيَجْعَلُهُۥ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهِۦ  ۖ  فَإِذَآ أَصَابَ بِهِۦ مَنْ يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦٓ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
"Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira."
Quran Ar-Rum 30: Ayat 48

Allahﷻ Maha Melapangkan manusia dengan cara memberi pengampunan yang seluas-luasnya.  

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إن الله عز وجل يبسط يده بالليل ليتوب مسيء النهار، ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيء الليل، حتى تطلع الشمس من مغربها

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat hamba yang berdosa di siag hari. Dan Allah Ta’ala membentangkan tagan-Nya di siang hari untuk menerima taubat hamba yang berdosa di malam hari, sampai matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim)

Untuk mendapatkan keluasan dari Allah,  seorang muslim berserah diri dan beramal tanpa rasa khawatir menjadi miskin. 

مَّنْ ذَا الَّذِى يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً  ۚ
"Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak."
Quran Al-Baqarah  245

Allahﷻ melapangkan jalan bagi manusia untuk mencari karunia-Nya. 

وَمِنْ ءَايٰتِهِۦٓ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرٰتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهِۦ وَلِتَجْرِىَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِۦ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِۦ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran) Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan agar kamu merasakan sebagian dari rahmat-Nya dan agar kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur."
Quran Ar-Rum  46

Berpuas hatilah dengan apa yang telah ditakdirkan Allah. 

Asmaul Husna:Al Qabid


Al Qabid - Maha Penahan

Salah satu tanda-tanda kekuasaan Allahﷻ kepada manusia adalah memberi atau menahan pemberian.  Salah satunya menahan rezeki.   Al Qabid juga visa berarti Maha Penyempit,  Allahﷻ menahan perasaan pada hati manusia,  adakalanya merasa lapang atau sempit. 

مَّنْ ذَا الَّذِى يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهُۥ لَهُۥٓ أَضْعَافًا كَثِيرَةً  ۚ  وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

"Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan."
Quran Al-Baqarah 245

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَآءُ وَيَقْدِرُ  ۚ  وَفَرِحُوا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْأَاخِرَةِ إِلَّا مَتٰعٌ

"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit) dibanding kehidupan akhirat."
Quran Ar-Ra'd 26

Al Qabid bisa juga berarti Maha Penyita.  Allahﷻ mampu menahan nyawa manusia setiap kali tidur. Tapi,  Allahﷻ juga mampu menyita roh itu keluar dari jasad kapan saja.

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِى لَمْ تَمُتْ فِى مَنَامِهَا  ۖ  فَيُمْسِكُ الَّتِى قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرٰىٓ إِلٰىٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى  ۚ  إِنَّ فِى ذٰلِكَ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir."
Quran Az-Zumar 42

Allahﷻ mampu menahan kejahatan agar tidak menimpa seorang manusia.

إِنَّ عِبَادِى لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ  ۚ  وَكَفٰى بِرَبِّكَ وَكِيلًا
"Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai penjaga."
Quran Al-Isra' 17: Ayat 65

Hendaklah seseorang itu banyak memohon ampunan kepada Sang Maha Penahan. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasûlullâh, ajari aku do’a yang akan aku panjatkan dalam shalatku.” Nabi ﷺ  bersabda, ”Katakanlah :

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

‘Ya Allâh, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, karenanya, ampunilah dosa-dosaku dengan ampunan dari-Mu dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” HR Bukhari

Doa hanya kepada Allahﷻ untuk memganpuni dosa dan mencurahkan rahmat-Nya.


Alhamdulillah

Kisah Sahabat Rasulullah SAW 38: Al Barra bin Malik




Al Bara bin Malik adalah saudara dari Anas bin Malik. Mengenai Anas, ibu mereka, Ummu Sulaim, pernah menyerahkan Anas kepada Rasulullah ﷺ untuk dijadikan sebagai khadam, orang yang membantu di sisi Rasulullah ﷺ.

"Ya, Rasulullah ini Anas, pelayan Anda yang akan melayani Anda, doakanlah ia kepada Allah."

Maka, Rasulullah ﷺ mencium keningnya dan mendoakannya, "Ya, Allah banyakkanlah harta dan anaknya, berkatilah ia dan masukkanlah ia ke surga." Anas kemudian hidup sampai usia 99 tahun, dengan banyak anak, cucu serta memiliki kebun luas dan subur dengan panen buah-buahan dua kali setahun.

Bagaimana halnya dengan Al Barra bin Malik? Ia adalah golongan terkemuka yang memiliki semboyan hidup, 'Allah dan surga'.

Al Barra bin Malik tak pernah melewatkan perang di jalan Allah. Mati syahid adalah tujuan hidupnya.

Suatu kali ia sakit dan dikunjungi teman-temannya. Al Barra berkata, "Mungkin kalian takut aku mati di atas tempat tidurku, tetapi tidak. Demi Allah, Rabb tidak akan menghalangiku mati syahid."

Barra memang dikenal berani menghadang maut dalam peperangan. Sampai-sampai dalam perang Yamamah, lantaran begitu beraninya Barra, khalifah Umar bin Khattab mewasiatkan agar tidak menjadikannya komandan pasukan karena bisa membahayakan anak buahnya.

Perang Yamamah adalah perang melawan nabi palsu Musailamah. Ibarat binatang pemburu, Al Barra menunggu detik-detik saat pemimpin pasukan kala itu, Khalid bin Walid, meneriakkan perintah maju. Ia tak sabar menunggu momentum penyerbuannya kepada pasukan musuh.

Barra berdiri di medan perang Yamamah. Ia berdiri dan merasakan detik-detik itu, yakni sebelum panglimanya memerintahkan untuk maju, terasa baginya begitu lama.

Khalid mengumandangkan takbir, "Allahu Akbar! " Maka majulah pasukan muslim, demikian pula Barra bin Malik. Jumlah pasukan muslim lebih sedikit dibanding pasukan kafir.

Barra menyerbu dengan beraninya, menyerang pasukan Musailamah yang juga sengit dan keras. Pasukan musuh ini begitu keras sehingga hampir mengambil alih pertempuran karena selalu bisa menyerang balik. Situasi ini membuat pasukan muslim sulit dan terpojok.

Allah dan Surga


Kala pasukan muslim mendapati suasana genting di perang Yamamah, pemimpin pasukan, Khalid bin Walid, memerintahkan Barra untuk berteriak menyemangati seluruh pasukan.

Barra berteriak, "Wahai penduduk Madinah, tidak ada Madinah bagi kalian sekarang, yang ada hanya Allah dan surga!"

Seruan ini seketika membakar semangat pasukan muslim, menyala berkobar-kobar. Tidak ada lagi yang mereka khawatirkan, tidak lagi keluarga, Madinah, dunia, semuanya menjadi tidak berarti dibandingkan bertempur sampai mati dan mendapatkan kenikmatan surga yang dijanjikan Allah. Inilah seruan yang tak lekang menempel dalam citra diri Al Barra bin Malik.

Pasukan musuh pun mulai mundur. Mereka mundur dengan cepat dan masuk ke sebuah perkebunan yang dijadikan sebuah benteng yang terkunci.

Pasukan muslim kala itu tidak dapat menyerbu ke dalam benteng. Sampai akhirnya terbitlah sebuah ide dari Barra agar dirinya melompat ke dalam benteng dan segera membuka kunci pintu dari dalam.

"Wahai kaum muslimin, bawalah aku dan lemparkan ke tengah-tengah mereka ke dalam kebun itu! " Demikian Barra berkata kepada anggota pasukan, seolah tak mempedulikan dirinya yang pasti bakal ditebas pedang oleh pasukan musyrik di dalam benteng jika dirinya berusaha membuka pintu.

Namun, tanpa menunggu dilemparkan, Barra sudah memanjat dan meloncat ke dalamdala Benteng.  Benarlah, pedang-pedang berseliweran menebas tubuhnya. Tapi memang itulah tujuannya sejak semula, mencari mati syahid. Tidak kurang dari 80 lubang menembus tubuhnya, luka yang parah dan menganga agar ia berhasil membuka pintu.

Usaha Barra tak sia-sia. Pintu berhasil dibuka. Pasukan muslim berhasil menyerbu masuk dan kekalahan menimpa pasukan Musailamah. Tapi,  Barra tidaklah gugur lantaran luka itu. Sungguh takdir Allah berkata lain, bahkan pemimpin pasukan Khakid turut merawat lukanya sehingga Barra bisa sembuh dan di kemudian hari terus ikut berperang.

Pengait Besi yang Panas

Barra turut berperang melawan orang Persia di Iraq bersama saudaranya Anas bin Malik. Orang-orang Persia lebih sadis dan biasab dalam berperang. Mereka memakai rantai-rantai yang ujungnya dipasangkan pengait yang panas membara. Mereka melempar rantai-rantai ini keluar benteng sehingga jika mengenai pasukan muslimin akan sulit dilepaskan.

Barra dan Anas mendapat tugas untuk merebut benteng ini. Namun, sayang, Anas terkena pengait berantai besi yang sungguh panas di kulit. Tubuhnya tersangkut dan tertarik ke arah dinding benteng. Anas kesulitan melepaskan diri karena panasnya besi pengait. Barra yang menyaksikan saudaranya lantas berlari dan tanpa mau merasakan panasnya bara itu, dilepaskannya sehingga saudaranya terbebas.

Setelah saudaranya terlepas dari rantai, Barra baru menyadari kedua telapak tangannya sudah tak berbentuk karena hangus. Butuh waktu lama setelah peristiwa itu bagi Barra untuk memulihkan lukanya.

Perang Tutsur

Penduduk Ahwaz dan Persi telah berhimpun dalam suatu pasukan tentara yang amat besar hendak menyerang kaum muslimin. Amirul mukminin, Umar bin Khattab, menulis surat kepada Saad bin Abi Waqqash di Kuffah agar mengirimkan pasukan ke Ahwaz. Begitu pula surat kepada Abu Musa Al Asyari di Basrah agar mengirim pasukan ke Ahwaz.

"Angkatlah sebagai komandan pasukan Suhail bin Adi dan hendaklah ia didampingi Al Barra bin Malik." Demikian pesan Khalifah.

Saudara Barra, Anas bin Malik juga turut berperang kali ini. Pertempuran dimulai dengan perang tanding satu lawan satu. Barra sanggup menjatuhkan 100 penantang dari Persia.

Penyerbuan tak terhindari sehingga perang besar yang berkecamuk terjadi setelah adanya perang tanding ini. Sebagian sahabat mendekati Barra dan berkata kepadanya:

"Masih ingatkah engkau hai Barra akan sabda Rasulullah tentang dirimu: Berapa banyak orang yang berambut kusut Masai dan berdebu dan punya hanya dua pakaian lapuk sehingga tidak diperhatikan orang sama sekali padahal seandainya ia memohon kutukan kepada Allah bagi mereka pastilah akan diluluskannya!. Dan diantara orang-orang itu adalah Barra bin Malik. Wahai Barra, bersumpahlah kamu kepada Tuhanmu agar Dia mengalahkan musuh dan menolong kita! "

Barra mengangkat kedua tangannya ke arah langit kemudian membuat permohonan kepada Allah Subhanahu wa Taala.

"Ya Allah, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami atas mereka dan pertemukanlah daku hari ini dengan nabi-Mu."

Sejenak dilayangkannya pandangan kepada saudaranya, Anas, seolah ingin mengucapkan selamat tinggal. Kemudian berkecamuklah perang dahsyat yang besar dan korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Demikianlah Barra bin Malik. Pada perang inilah ia mendapati impiannya selama ini, gugur sebagai syuhada. Di tengah-tengah para syuhada yang gugur di medan perang, wajahnya tersenyum dan bercahaya dengan pedang yang masih tergeletak di samping jasadnya. Pedangnya yang telah digunakan untuk menebas musuh terlihat tetap kuat tanpa goresan ataupun rusak sedikitpun.

Barra menemui impiannya dengan memenuhi panggilan Allah.

وَنُودُوٓا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Diserukan kepada mereka, Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan."
Quran Al Araf 43

Salam untukmu Al Barra bin Malik. Salam untukmu para syuhada.

Alhamdulillah

Kisah Sahabat lainnya:
Kisah Sahabat Rasulullah SAW

Kisah Taubatnya Sang Pencuri Kain Kafan