Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendakinya menuju jalan yang lurus. Quran An Nur 46
Kisah Sahabat Rasulullah SAW 34: Zaid bin Tsabit
Pada suatu hari di Madinah, seorang bocah berumur 11 tahun merengek kepada Rasulullah ﷺ ingin diajak turut serta ke medan perang Badar. Namun, karena masih terlalu kecil, tentu saja ia tak diijinkan oleh Rasulullah ﷺ.
Menjelang perang Uhud, kembali sang bocah meminta diajak turut bertempur. Kala itu menghadap pula beberapa anak lelaki yang lain. Umurnya lebih besar sekitar 15 tahun.
Salah seorang diantaranya Rafi bin Khudaij. Ia membawa tombaknya lalu memperagakan kemahirannya. Maka ia diijinkan turut berperang.
Ada lagi Samurah bin Jundub. Ia memperlihatkan kekuatan lengannya. Keluarganya mengatakan, "Samurah mampu merebahkan badan orang yang lebih tinggi sekalipun." Maka Rasulullah ﷺ pun memperkenankannya.
Lagi-lagi si bocah kecil tadi belum diijinkan untuk berperang. Bocah itu adalah Zaid bin Tsabit. Ada enam orang anak kala itu yang tertinggal, dua diantaranya yaitu Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar.
Demikianlah seterusnya Zaid bin Tsabit, setiap kali ada peperangan ia akan meminta turut serta. Sampai akhirnya ia diijinkan berperang kala usianya beranjak 19 tahun pada tahun kelima hijriah yaitu di perang Khandaq.
Kemampuan Zaid bin Tsabit sebenarnya bukan hanya di medan perang. Ada kelebihan lain yang dimilikinya yaitu menghafal Al Quran dengan baik. Ia juga sangat baik dalam menulis dan menerjemahkan surat-surat yang akan dikirim kepada Raja atau kaisar negeri lain.
Zaid sangat disegani karena kemampuannya menghafal dan kepandaiannya berbahasa itu. Suatu kali Sya'bi bercerita:
"Pada suatu kali Zaid ingin pergi berkendaraan, Ibnu Abbas kemudian memegang tali kudanya. Zaid berkata kepada Ibnu Abbas, "Tak usah wahai putera paman Rasulullah."
Ibnu Abbas hanya menjawab, "Tidak, memang beginilah seharusnya kami memperlakukan ulama kami."
Qabishah berkata:
"Zaid di Madinah mengepalai peradilan urusan fatwa, qiraat dan soal pembagian pusaka."
Tsabit bun Ubeid berkata:
"Jarang aku melihat seorang yang jenaka di rumahnya tetapi paling disegani di majelisnya seperti Zaid."
Ibnu Abbas juga berkata:
"Tokoh-tokoh terkemuka dari sahabat-sahabat Muhammad ﷺ tahu betul bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang dalam ilmunya."
Zaid yang keturunan Anshar tersebut pernah didoakan oleh Rasulullah ﷺ keberkahan. Zaid merupakan pemuda pilihan Rasulullah ﷺ untuk menuliskan Al Quran pada lembaran-lembaran. Ia di kemudian hari akan mendapatkan tugas berat yaitu mengumpulkan dan menuliskan Al Quran menjadi satu bagian yang utuh.
Lebih Berat dari Memindahkan Gunung
Kitab mulia Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama 21 tahun. Selama itu pula semenjak diturunkan ayat pertama, beberapa orang telah diberikan taufik dari Allah Subhanahu wa Taala untuk menghafalkannya, serta menuliskannya.
Demikianlah kehendak Ilahi, menurunkan isi kitab sedikit demi sedikit sebagai pegangan hidup dan membangun akidah serta keyakinan yang kokoh. Al Quran datang secara berkala dan terbagi-bagi sesuai dengan keperluan yang terjadi dalam perjalanannya yang terus berkembang dan situasi yang selalu berubah. Sehingga isi kitab itu pun tersebarlah mengikuti para penghafalnya.
Beberapa orang merupakan ahlinya dalam menguasai Al Quran, antara lain Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka'ab, Abdullah bin Mas'ud, Abdullah bin Abbas dan tentu saja Zaid bin Tsabit. Semoga Allah meridhoi mereka semua.
Sesudah sempurna turunnya wahyu, Rasulullah ﷺ mengulang-ulang membacakannya kepada kaum muslimin dengan menertibkan susunan surat-surat dan ayat-ayatnya.
Sesudah Rasulullah ﷺ wafat, kaum muslim kala itu disibukkan dengan peperangan menghadapi orang-orang yang murtad. Termasuk peperangan Yamamah. Banyak korban dari kalangan muslimin menjadi syuhada yaitu sekitar 450 orang yang adalah para penghafal Al Quran.
Keadaan demikian membuat Umar bin Khattab ra khawatir. Maka menghadaplah ia kepada Khalifah Abu Bakr Shiddiq ra dan berunding untuk memulai upaya penghimpunan Al Quran.
Setelah melakukan sholat istikharah, Khalifah Abu Bakr ra memanggil Zaid bin Tsabit untuk memulai upaya pengumpulan Al Quran. "Kamu adalah seorang anak muda yang cerdas, kami tidak meragukan kamu, " demikian ucap Abu Bakr kepada Zaid.
Zaid pun menyanggupinya dan melakukan amal bakti sepenuh hati. Tiada kata istirahat baginya, mengumpulkannya dari kalangan muslimin, menuliskannya, membandingkannya, meneliti dengan seksama sehingga bisa dihimpun sebuah kitab yang tersusun dan teratur rapi.
Amal karyanya ini dinilai bersih oleh kata sepakat para sahabat. Semoga berkah Allah Subhanahu wa Taala dilimpahkan kepada mereka yang menghafalkan Al Quran pada awal turunnya, di masa kerasulan Muhammad ﷺ, para penulisnya dan terlebih lagi penyusunnya.
Apa yang dilakukan Zaid bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Sungguh kitab yang mulia tak bisa disusun jika ada sedikit saja kekeliruan. Tugas itu begitu suci, begitu mulia.
Zaid suatu kali menggambarkan kesulitan yang dihadapinya saat menghimpun dan menyusun Al Quran. "Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya akan lebih mudah kurasa dari perintah mereka menghimpun Al Quran."
Tak ada kecemasan yang lebih besar menimpa hati nurani Zaid serta agamanya melebihi kekhawatiran akan terjadinya sebuah kesalahan, bagaimanapun kecilnya, bahkan bila tanpa disengaja.
Namun, Allah Subhanahu wa Taala bersama orang-orang yang dikehendaki-Nya beroleh petunjuk, dan Allah Subhanahu wa Taala telah menurunkan janjinya.
اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya."
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 9)
Penyatuan Mushaf
Apa yang dilakukan Zaid bin Tsabit semenjak kekhalifahan Abu Bakr Asshiddiq ra adalah tahap pertama upaya penghimpunan Al Quran. Penghimpunan yang pertama ini masih tertulis dalam banyak mushaf, dimana terdapat perbedaan tanda harakat. Para sahabat meyakini untuk mengumpulkannya dalam satu mushaf saja.
Pada masa kekhalifahan Ustman ra, saat peperangan masih terus berlangsung bahkan ke pelosok yang jauh, banyak juga mereka yang memeluk Islam. Perbedaan mushaf dikhawatirkan menimbulkan perbedaan bacaan terhadap Al Quran.
Sebagian sahabat, semoga Allah Subhanahu wa Taala meridhoi mereka, yang dipimpin oleh Hudzaifah ibnul Yaman bertemu dengan Utsman. Mereka mengusulkan upaya penyatuan mushaf secepatnya.
Utsman bin Affan radhiyallahu'anhu pun meminta Zaid bin Tsabit untuk kembali membantu melakukan pekerjaan mulia tersebut. Zaid kemudian meminta bantuan kepada beberapa orang sahabat untuk memulai pekerjaan mereka.
Zaid kemudian pergi ke rumah Hafshah, Putri Umar bin Khattab ra. Selama ini mushaf-mushaf Al Quran tersimpan dan terpelihara dengan baik disana. Para penghafal dan penulis Al Quran yang membantu Zaid kemudian menyatukan mushaf-mushaf tersebut yang sebenarnya terdiri dari sedikit saja peebedaan.
Demikianlah Zaid bin Tsabit. Saat kita membaca Al Quran atau mendengarkan lantunan kalam-Nya dari seseorang, bisa jadi kita tak pernah membayangkan betapa kesulitan yang dihadapi para penyusunnya di kali yang pertama.
Apa yang dilakukan Zaid bin Tsabit bersama para sahabat kala itu untuk menyusun Al Quran tak ada bedanya dengan ladang jihad di jalan Allah Subhanahu wa Taala dengan pahala yang tak pernah putus. Atas kuasa-Nya, telah dikukuhkan mereka yang menyiarkan agama yang benar di bumi ini, melenyapkan kegelapan menjadi cahaya yang terang benderang.
Kala Zaid bin Tsabit meninggal dunia, Ibnu Abbas mengatakan, "Wahai manusia, siapa yang ingin mengetahui seperti apakah saat ilmu meninggalkan kita, seperti inilah rasanya. Aku bersaksi kepada Allah bahwa ilmu itu telah meninggalkan kita hari ini."
Salam untukmu Zaid bin Tsabit. Semoga Allah meridhoimu dan memuliakanmu sebagaimana engkau memuliakan Al Quran.
Alhamdulillah
Kisah lainnya:
Kisah Sahabat Rasulullah SAW
Asmaul Husna: Al Muhiyy
Al Muhiyy - Maha Menghidupkan
اِنَّ اللّٰهَ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ ۗ وَمَا لَـكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
"Sesungguhnya Allah memiliki kekuasaan langit dan Bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah."
(QS. At-Taubah 9: Ayat 116)
Allah ﷻ adalah Sang Pemberi Kehidupan. Dia yang memberkahi kehidupan kepada zat-zat mati. Adam terbuat dari tanah liat kemudian Allah ﷻ menghembuskan jiwa ke dalam dirinya.
اِنَّا نَحْنُ نُحْيٖ وَنُمِيْتُ وَاِلَيْنَا الْمَصِيْرُ
"Sungguh, Kami yang menghidupkan dan mematikan, dan kepada Kami tempat kembali (semua makhluk)."
QS. Qaf 50:43
Pepohonan seakan mati di musim salju, biji-biji, dedaunan semuanya nampak tak bernyawa. Allah ﷻ menghidupkan kembali di musim yang lain.
فَانْظُرْ اِلٰۤى اٰثٰرِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۗ اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتٰى ۚ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
QS. Ar-Rum 30: 50
وَهُوَ الَّذِيْۤ اَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَـكَفُوْرٌ
"Dan Dialah yang menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu kembali (pada hari Kebangkitan). Sungguh, manusia itu sangat kufur nikmat."
QS. Al-Hajj 22:66
Allah ﷻ adalah pemberi kehidupan yang jauh lebih tinggi dari sekadar kehidupan fisik, Dia memberi kehidupan spritual. Kehidupan fisik tak akan ada artinya tanpa kehidupan jiwa. Kalam-Nya adalah ibarat hujan yang mengguyuri tanah kering, membawa kehidupan kepada jiwa.
اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَـيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan."
QS. Al-An'am 6: 122
Banyak berharap hanya kepada Allah saat segala tantangan hidup melanda.
Alhamdulillah
Asmaul Husna: Al Mumit
Al Mumit - Maha Mematikan
وَاَنَّهٗ هُوَ اَمَاتَ وَ اَحْيَا
"dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan"
QS. An-Najm 53:44
Allah ﷻ yang memberi kehidupan adalah Yang Maha Esa yang mampu mengambil kehidupan itu kembali. Tangan-tangan-Nya berada di balik semua kematian.
نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ
"Kami telah menentukan kematian masing-masing kamu dan Kami tidak lemah,"
QS. Al-Waqi'ah 56:60
Kematian bagi seorang muslim bukanlah akhir kehidupan, itu adalah perubahan menuju kehidupan yang lain. Saat kematian tiba, maka tak ada yang dapat menghindari.
اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَاِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۚ وَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّقُوْلُوْا هٰذِهٖ مِنْ عِنْدِكَ ۗ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ فَمَالِ ھٰٓ ؤُلَآ ءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُوْنَ يَفْقَهُوْنَ حَدِيْثًا
"Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, Ini dari sisi Allah, dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, Ini dari engkau (Muhammad). Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah. Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (sedikit pun)?"
QS. An-Nisa' 4: 78
Maka, takut akan kematian tak akan ada artinya.
قُلْ لَّنْ يَّنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ اِنْ فَرَرْتُمْ مِّنَ الْمَوْتِ اَوِ الْقَتْلِ وَاِذًا لَّا تُمَتَّعُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا
"Katakanlah (Muhammad), Lari tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhindar dari kematian) kamu hanya akan mengecap kesenangan sebentar saja."
QS. Al-Ahzab 33: 16
Bagi mereka yang ditetapkan menghuni neraka, Allah ﷻ menahan kematian itu untuk mereka di sana selamanya. Meskipun mereka berteriak-teriak memohon sekiranya kematian itu mengakhiri siksaan-Nya.
اِنَّهٗ مَنْ يَّأْتِ رَبَّهٗ مُجْرِمًا فَاِنَّ لَهٗ جَهَـنَّمَ ۚ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَ لَا يَحْيٰى
"Sesungguhnya barang siapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sungguh, baginya adalah neraka Jahanam. Dia tidak mati (terus merasakan azab) di dalamnya dan tidak (pula) hidup (tidak dapat bertobat)."
QS. Ta-Ha 20: 74
Dari Hudzaifah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ « بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا » . وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ »
“Apabila Nabi ﷺ hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu, Ya Allah aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Alhamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).” (HR. Bukhari)
Kehilangan terbesar adalah kehilangan kasih sayang Allah ﷻ di alam baka.
Alhamdulillah
Ibarat Memandang Bulan Purnama
Matahari dan bulan adalah salah satu dari beberapa tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ . Bersama pergerakan benda-benda ciptaan-Nya ini di angkasa, seorang muslim hendaknya selalu mengingat kebesaran-Nya.
Al Quran surat Qaf 50:39
Bismillahi Rahmaani Rahiim
فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ
وَقَبْلَ الْغُرُوْبِ
وَقَبْلَ الْغُرُوْبِ
"Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam."
(QS. Qaf 50: Ayat 39)
Shodaqollahul'adziim
Pada suatu malam, duduklah Jabir bin Abdullah bersama Rasulullah ﷺ. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu'anhu ia berkata, ”Kami sedang bersama Nabi ﷺ, lalu Beliau ﷺ memandang bulan purnama di malam itu seraya bersabda:
" أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا، لاَ تُضَامُّونَ ـ أَوْ لاَ تُضَاهُونَ ـ فِي رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا ". ثُمَّ قَالَ " فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا "
"Sungguh kalian akan melihat Rabb pencipta kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, tidak terhalangi apapun (tidak kesulitan) dalam melihat-Nya subhanahu wata’ala , maka semampunya berusahalah menyempurnakan shalat sebelum terbitnya matahari (sholat subuh) dan sebelum terbenam matahari(shalat Ashar) maka perbuatlah “.
Lalu Beliau membaca ayat, "... dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam" (QS Qaf ayat 39).
HR Bukhari
Selain menjelang terbit dan terbenamnya matahari, seorang muslim juga hendaknya banyak mengingat Allah ﷻ tatkala terjadinya gerhana, baik gerhana matahari ataupun bulan.
Dari Aisyah radhiyallahu'anha bersabda Rasulullah ﷺ:
,إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Lalu Beliau membaca ayat, "... dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam" (QS Qaf ayat 39).
HR Bukhari
Selain menjelang terbit dan terbenamnya matahari, seorang muslim juga hendaknya banyak mengingat Allah ﷻ tatkala terjadinya gerhana, baik gerhana matahari ataupun bulan.
Dari Aisyah radhiyallahu'anha bersabda Rasulullah ﷺ:
,إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari)
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Asmaul Husna: Al Hamid
Al Hamid - Maha Terpuji
وَقَالَ مُوْسٰٓى اِنْ تَكْفُرُوْۤا اَنْـتُمْ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ۙ فَاِنَّ اللّٰهَ لَـغَنِيٌّ حَمِيْدٌ
"Dan Musa berkata, Jika kamu dan orang yang ada di bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 8)
Allah ﷻ satu-satunya yang Maha Terpuji karena Dia telah memberi kita kehidupan dan segala yang kita nikmati di dalamnya. Memuji atas bantuan-Nya dan mencintai serta memuliakan-Nya.
فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَرَبِّ الْاَرْضِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
"Segala puji hanya bagi Allah, Rabb (pemilik) langit dan bumi, Rabb seluruh alam."
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 36)
Pemberian terbesar dari Allah ﷻ yang patut dipuji adalah wahyu-Nya. Petunjuk berupa perintah dan larangan terdapat dalam wahyu sebagai bentuk kasih sayang kepada manusia sehingga bisa menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الْاَنْهٰرُ ۚ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰٮنَا لِهٰذَا ۗ وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَاۤ اَنْ هَدٰٮنَا اللّٰهُ ۚ لَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَـقِّ ۗ وَنُوْدُوْۤا اَنْ تِلْكُمُ الْجَـنَّةُ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
"Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Rabb kami telah datang membawa kebenaran. Diserukan kepada mereka, Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 43)
Semua makhluk memuji dan memuliakan-Nya.
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 44)
Makhluk diciptakan untuk memuji-Nya
Alhamdulillah
Maka Bertawakallah
Pada bagian akhir ayat Surat Ali Imran ayat 159, Allah Subhanahu was Taala mengingatkan kaum Muslim untuk selalu bertawakal. Sebuah pengingat sebagai pegangan kita menjalani kehidupan hari-hari ini.
Al Quran surat Ali Imran 3:159
Bismillahi Rahmaani Rahiim
فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
"... Maka apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal."
Shodaqollahul'adziim
Dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang." (HR Tirmidzi)
Alhamdulilah
Asmaul Husna: Al Qayyum
Al Qayyum - Maha Berdiri Sendiri
اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ
"Allah, tidak ada Rabb selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)."
QS. Ali 'Imran 3:2
Al Qayyum merupakan asma Allah ﷻ yang Paling Besar, Al Ism al Azam, sebagaimana asmanya yang lain, Al Hayy, Maha Hidup. Allah ﷻ adalah yang Maha Berdiri Sendiri, abadi, Esa, tanpa awal dan tanpa akhir, tanpa batas waktu, tempat atau situasi. Allah tidak mati, tidak butuh istirahat dan tidak tidur. Allah tak pernah lelah.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ۖ وَّمَا مَسَّنَا مِنْ لُّغُوْبٍ
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak merasa letih sedikit pun."
QS. Qaf 50:38
Al Qayyum adalah yang Esa Maha Berdiri Sendiri, keberadaannya mandiri. Dia jugalah yang menjaga makhluk dan alam semesta. Langit dan bumi kukuh atas perintah-Nya. Allah ﷻ tidak butuh kepada makhluk, tetapi makhluklah yang membutuhkan-Nya.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ تَقُوْمَ السَّمَآءُ وَالْاَرْضُ بِاَمْرِهٖ ۗ ثُمَّ اِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً ۖ مِّنَ الْاَرْضِ ۖ اِذَاۤ اَنْـتُمْ تَخْرُجُوْنَ
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur)."
QS. Ar-Rum 30:25
Rasulullah ﷺ menyebut nama-Nya saat berdoa, terutama saat bersujud.
"Ya Hayyu ya Qayyum" Oh, Yang Maha Hidup Yang Berdiri Sendiri".
وَعَنَتِ الْوُجُوْهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ ۗ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
"Dan semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) Yang Hidup dan Yang Berdiri Sendiri. Sungguh rugi orang yang melakukan kezaliman."
QS. Ta-Ha 20: 111
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dikisahkan bahwa dahulu ia duduk bersama Rasulullah ﷺ dan ada seseorang yang shalat lalu berdoa,
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan mengimani bahwa milik-Mu segala pujian tiada sesembahan yang benar selain engkau al-Mannan, pencipta langit dan bumi, wahai yang memiliki keagungan dan kemurahan, wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum.”
Nabi ﷺ berkata, "Sungguh dia telah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menyebut nama-Nya yang terbesar yang bila diminta dengannya, Dia akan mengijabahi; dan bila dimohon dengannya, Dia akan memberi.” (HR. Abu Dawud)
Kecintaan kepada hal-hal duniawi menutupi gerbang menuju keabadian.
Alhamdulillah
Persaudaraan dan Surga
Allah ﷻ menjanjikan surga bagi mukminin yang saling bersaudara, selalu tolong menolong dan saling mengingatkan dalam kebaikan Islam.
Menulis ulang Al Quran surat at Taubah ayat 71-72
Bismillahi Rahmaani Rahiim
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰۤئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung."
Shodaqollahul'adziim
Pada shahih Bukhari-Muslim disebutkan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"المؤمن للمؤمن كالبنان يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا"
"Seorang mukmin bagi orang mukmin lain sama dengan bangunan, sebagian darinya mengikat sebagian yang lain."
Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam merangkumkan jari-jemari kedua telapak tangannya.
Disebutkan pula sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam:
"مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ، كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سائر الجسد بالحمى والسهر"
'Perumpamaan orang-orang mukmin dalam keakraban dan kasih-sayangnya sama dengan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh, hingga semua merasa demam dan tak dapat tidur."
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam pernah bersabda:
"مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ، فَإِنَّ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، هَاجَرَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا". قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا نُخْبِرُ النَّاسَ؟ قَالَ: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ، بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَأَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَمِنْهُ تَفَجَّر أَنْهَارُ الْجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ"
"Barang siapa yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan mendirikan sholat serta puasa bulan Ramadan, maka sesungguhnya sudah merujukkan kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, baik ia berhijrah di jalan Allah ataupun tertahan di negeri tempat kelahirannya. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bolehkah kami menceritakannya kepada orang-orang?" Rasululah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus derajat(tingkatan) yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak di antara kedua derajat sama dengan jarak antara langit dan bumi Maka apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah kepada-Nya surga Firdaus, karena sesungguhnya surga Firdaus adalah surga yang tertinggi dan yang paling tengah. Dari surga Firdaus mengalir sungai-sungai surga, dan di atas surga Firdaus terdapat Arasy Rabb Yang Maha Pemurah."
Alhamdulillah
#Quran
Menulis ulang Al Quran surat at Taubah ayat 71-72
Bismillahi Rahmaani Rahiim
وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ اُولٰۤئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung."
Shodaqollahul'adziim
Pada shahih Bukhari-Muslim disebutkan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"المؤمن للمؤمن كالبنان يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا"
"Seorang mukmin bagi orang mukmin lain sama dengan bangunan, sebagian darinya mengikat sebagian yang lain."
Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam merangkumkan jari-jemari kedua telapak tangannya.
Disebutkan pula sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam:
"مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ، كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سائر الجسد بالحمى والسهر"
'Perumpamaan orang-orang mukmin dalam keakraban dan kasih-sayangnya sama dengan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh, hingga semua merasa demam dan tak dapat tidur."
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam pernah bersabda:
"مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ، فَإِنَّ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، هَاجَرَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا". قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا نُخْبِرُ النَّاسَ؟ قَالَ: "إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ، بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَأَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَمِنْهُ تَفَجَّر أَنْهَارُ الْجَنَّةِ، وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ"
"Barang siapa yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan mendirikan sholat serta puasa bulan Ramadan, maka sesungguhnya sudah merujukkan kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, baik ia berhijrah di jalan Allah ataupun tertahan di negeri tempat kelahirannya. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bolehkah kami menceritakannya kepada orang-orang?" Rasululah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus derajat(tingkatan) yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak di antara kedua derajat sama dengan jarak antara langit dan bumi Maka apabila kalian meminta kepada Allah, mintalah kepada-Nya surga Firdaus, karena sesungguhnya surga Firdaus adalah surga yang tertinggi dan yang paling tengah. Dari surga Firdaus mengalir sungai-sungai surga, dan di atas surga Firdaus terdapat Arasy Rabb Yang Maha Pemurah."
Alhamdulillah
#Quran
Jiwa yang Tenang
Inilah sambutan dari Allah ﷻ kepada hamba-hamba-Nya yang diridhoi-Nya tatkala jiwanya meninggalkan raganya. Tatkala kematian tak lain hanyalah perpindahan kepada kebahagiaan abadi.
Al Quran surat Al Fajr 89 ayat 27-30
Bismillahi Rahmaani Rahiim
يٰۤاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِى
وَادْخُلِيْ جَنَّتِى
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27-30)
Shodaqollahul'adziim
Suatu hari Said bin Jubair duduk bersama ﷺ dan Abu Bakr AshShiddiq radhiyallahu'anhu. Ia membacakan surat Al Fajr sampai ayat ini. Lalu berkata Abu Bakr radhiyallahu'anhu, "Wahai Rasulullah, alangkah baiknya hal ini." Nabi ﷺ kemudian bersabda:
«أَمَا إِنَّ الْمَلَكَ سَيَقُولُ لَكَ هَذَا عِنْدَ الْمَوْتِ»
"Ingatlah sesungguhnya malaikat akan mengatakan hal itu kepadamu di saat (engkau) meninggal."
Kisah ini disebutkan Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Selain itu, juga disebut sebuah kisah semasa kekhalifahan Abu Ja'far Al Mansur atau kekhalifahan kedua dinasti Abbasiyah.
Qabbas ibnu Razin alias Abu Hasyim menyebut sebuah nama yaitu
Al-Hafiz Muhammad ibnul Munzir Al-Harawi yang dikenal dengan Basyukr. Dalam buku Kitabul 'Aja'ib, bahwasannya Basyukr dan beberapa muslim lain ditawan oleh Raja Romawi.
Raja Romawi menawarkan agamanya. Siapa yang menolak maka kepalanya akan dipenggal.
Lalu dipanggillah satu persatu tawanan muslim itu. Tiga orang menjadi murtad, sampai datang orang keempat. Ia menolak keluar dari agama Islam, maka dipenggallah kepalanya lalu dibuang ke sebuah sungai. Tidak terlalu lama kepalanya tenggelam di sungai, lalu tiba-tiba muncul kembali dan berkata:
"Hai fulan, fulan, fulan (nama 3 orang yang murtad), Allah Subhanahu wa ta'ala telah berfirman: Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr: 27-30)."
Kepala itu kemudian kembali tenggelam ke dalam sungai. Hal tersebut mengangetkan semua orang yang melihatnya. Beberapa orang nasrani kemudian memutuskan menjadi muslim, singgasana raja jatuh dan ketiga muslim yang murtad bertobat. Abu Hasyim menuturkan, tidak lama kemudian datanglah utusan dari Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur membawa tebusan sehingga seluruh tawanan muslim dibebaskan.
Rasulullah ﷺ pernah mengajarkan doa.
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ
Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan pertemuan denganMu, yang ridho dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.”
Alhamdulillah
Asmaul Husna: Al Hayy
Al Hayy
Yang Maha Hidup
هُوَ الْحَيُّ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
"Dialah yang hidup kekal, tidak ada Rabb selain Dia; maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam."
(QS. Ghafir 40:65)
Allah ﷻ adalah yang Maha Hidup yang kehidupan-Nya itu sempurna. Dia tidak mengalami kematian, tidak terserang sesuatu atau tergantung pada apapun.
Kehidupan yang sempurna yang terdiri dari semua atribut, pendengaran sempurna, pengelihatan, pengetahuan dan lainnya yang serba sempurna.
اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ
"Allah, tidak ada Rabb selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)."
(QS. Ali 'Imran 3: 2)
Allah ﷻ adalah satu-satunya sumber kehidupan alam semesta. Tidaklah mungkin bagi makhluk untuk menciptakan kehidupan, bahkan makhluk tak memiliki kendali atas kehidupan apapun.
وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اٰلِهَةً لَّا يَخْلُقُوْنَ شَيْئًـا وَّهُمْ يُخْلَقُوْنَ وَلَا يَمْلِكُوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا وَّلَا يَمْلِكُوْنَ مَوْتًا وَّلَا حَيٰوةً وَّلَا نُشُوْرًا
"Namun mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal mereka (tuhan-tuhan itu) tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat (mendatangkan) manfaat serta tidak kuasa mematikan, menghidupkan, dan tidak (pula) membangkitkan."
(QS. Al-Furqan 25: 3)
Seorang yang beriman hanya akan menyandarkan dirinya kepada Yang Hidup.
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَـيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهٖ ۗ وَكَفٰى بِهٖ بِذُنُوْبِ عِبَادِهٖ خَبِيْرَا
"Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya,"
(QS. Al-Furqan 25: 58)
Hanya Dia yang memberi petunjuk kepada hati yang telah mati.
Alhamdulillah
Asmaul Husna: As-Sabur
As-Sabur- Maha Penyabar
Allah ﷻ adalah Sang Maha Penyabar. Siapakah yang lebih sabar dari Dia yang dipersekutukan oleh hamba-Nya sendiri, namun Dia masih memberikan kasih sayang dan rezeki?
فَمَهِّلِ الْكٰفِرِيْنَ اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا
"Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir. Berilah mereka kesempatan untuk sementara waktu."
(QS. At-Tariq 86: Ayat 17)
Allah ﷻadalah Sang Maha Penyabar. Allah ﷻ bersabar kepada mereka yang tidak mempercayai dan tidak taat. Allah ﷻ tidaklah tergesa-gesa dan tidak langsung menghukum mereka, namun memberi waktu agar manusia kembali berpaling kepada -Nya.
Siapakah yang bisa lebih sabar daripada Allah ﷻ? Dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan, Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يَجْعَلُونَ لَهُ وَلَدًا وَهُوَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَافِيهِمْ»
"Tiada seorangpun yang lebih sabar daripada Allah terhadap perlakuan yang menyakitkan: sesungguhnya mereka menganggap Allah beranak, padahal Dialah yang memberi mereka rezeki dan kesejahteraan."
قَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيرة، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "قَالَ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعيدَني كَمَا بَدَأَنِي، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلِيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ. وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا. وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ".
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, telah menceritakan kepada kami Abuz Zanad, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Anak Adam telah mendustakan Aku — padahal Allah tidak pernah berdusta— dan anak Adam mencaci maki Aku —padahal tidak layak baginya mencaci maki Dia—. Adapun pendustaannya terhadap-Ku ialah ucapannya yang mengatakan bahwa Dia tidak akan mengembalikanku hidup kembali. Sebagaimana Dia menciptakanku pada permulaan —padahal penciptaan pertama itu tidaklah lebih mudah bagi-Ku dari pada mengembalikannya—. Dan adapun caci makinya kepada-Ku ialah ucapannya yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Padahal Aku adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang bergantung kepada-Ku segala sesuatu, Aku tidak beranak dan tidak diperanakan, dan tidak ada yang setara dengan-Ku." (HR Bukhari)
Allah ﷻ memerintahkan muslimin untuk bersabar saat menghadapi takdir.
اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
"... Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah 2:153)
Kesabaran-Nya tak berbatas. Begitu pula pahala yang akan diberikan atas orang-orang yang bersabar, begitu besar tanpa batas.
اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"... Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (QS. Az-Zumar 39: 10)
Alhamdulillah
Kisah Sahabat Rasulullah SAW 33: Khabbab bin Arats
Khabbab bari saja tiba di rumah kala beberapa orang Quraisy sudah menunggunya. Mereka ingin mengambil pedang pesanan buatan Khabbab.
"Sudah selesaikah pedang-pedang kami itu, hai Khabbab?" tanya orang-orang Quraisy itu.
Saat ditanya, Khabbab tengah memikirkan hal lain. Wajahnya menampakkan keceriaan. "Sungguh keadaannya amat menakjubkan," demikian kata Khabbab.
Orang-orang itu pun bertanya-tanya, "Hai Khabbab, keadaan mana yang kau maksudkan? Kami menanyakan pedang pesanan kami, apakah sudah selesai dibuat?"
"Apakah tuan-tuan sudah melihatnya? Apakah tuan-tuan sudah pernah mendengar ucapannya?" kata Khabbab.
Mereka yang ditanya saling bertatapan. "Apakah kamu sudah melihatnya Khabbab?" tanya mereka.
Khabbab balik bertanya, "Siapa maksudmu?" Khabbab mulai merasa ketidaksenangan dari para tamunya dan merasa mereka mulai menebak siapa orang yang ia maksudkan.
"Siapa maksudmu? Yang saya tanya adalah orang yang kamu katakan itu!" kata salah seorang dari mereka dengan nada mulai meninggi.
Khabbab menjawab, "Benar, saya telah melihat dan mendengarnya. Saya saksikan kebenaran terpancar daripadanya dan cahaya bersinar-sinar dari tutur katanya."
Seorang dari pria Quraisy itu rupanya telah bisa mengira siapa gerangan yang dimaksud. Khabbab tak mungkin lagi menyembunyikan maksud perkataannya. "Siapa dia orang yang kau katakan itu hai budak Ummi Anmar?!"
Khabbab akhirnya menjawab, "Siapa lagi hai Arab sahabatku, siapa lagi di antara kaum anda yang daripadanya terpancar kebenaran dan dari tutur katanya bersinar-sinar cahaya selain ia seorang."
Salah seorang dari pria Quraisy itu bangkit. Ia marah dan berseru, "Rupanya yang kau maksud itu adalah Muhammad!"
Khabbab menjawab, "Memang, ia adalah utusan Allah kepada kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan menuju terang benderang."
Seketika itu juga para pria Quraisy itu bangkit, menghujaninya dengan pukulan dan tendangan, sampai Khabbab tak sadarkan diri.
Demikianlah Khabbab bin Arats. Luka-luka bekas pukulan dan tendangan membuat bajunya berbercak darah. Namun, itu hanyalah awal dari penganiayaan yang akan dialaminya.
Kecintaan Khabbab yang mulai tumbuh kepada nabi akhir jaman membuat besi-besi yang semula hendak dijadikan pedang di rumahnya, dirubah oleh kafir Quraisy menjadi belenggu dan rantai besi. Mereka memasukkan rantai itu ke dalam api sehingga panas, lalu mereka lilitkan ke tubuh Khabbab dan pada kedua tangan serta kakinya.
Berkata Sya'bi, "Khabbab menunjukkan ketabahannya, sehingga tak sedikit pun hatinya terpengaruh oleh tindakan biadab orang-orang kafir. Mereka menindihkan batu membara ke punggungnya sehingga terbakarlah dagingnya.
Sampai suatu ketika Khabbab pergi menemui Rasulullah ﷺ menceritakan perihal dirinya. Khabbab berkisah:
"Kami pergi mengadu kepada Rasulullah ﷺ yang ketika itu sedang tidur berbantalkan kain burdahnya di bawah naungan Ka'bah. Permohonan kami kepadanya, "Wahai Rasulullah, tidakkah Anda hendak memohonkan kepada Allah pertolongan bagi kami?"
Rasulullah ﷺ pun duduk, mukanya jadi memerah, lalu bersabda, "Dulu sebelum kalian ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher ke atas, lalu diambil gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi siksaan demikian tidak sedikitpun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga tidak menggoyahkan keimanannya. Sungguh Allah akan menyempurnakan hal tersebut hingga setiap pengembara yang bepergian dari Shana ke Hadramaut, tiada takut kecuali oleh Allah Azza wa Jalla walaupun serigala ada di antara hewan gembalaannya tetapi saudara-saudara terburu-buru."
Khabbab pun kembali dengan keteguhan yang lebih kuat. Sehingga pada suatu hari ia kembali disiksa oleh bekas majikannya, Ummi Anmar. Wanita itu mengambil besi panas yang menyala lalu ditempelkan ke ubun-ubun Khabbab. Pemuda itu tetap menahannya.
Saat didapati perlakuan yang diterima Khabbab, Rasulullah ﷺ kemudian memohon kepada Allah Subhanahu wa Taala. "Ya Allah, limpahkanlah pertolonganmu kepada Khabbab."
Selang berapa hari kemudian Ummi Anmar menerima hukuman langsung dari Allah. Ia diserang semacam penyakit panas mengerikan sehingga dirinya berteriak-teriak melolong seperti anjing.
Pengajar Al Quran
Khabbab telah dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Taala karena waktunya ia gunakan untuk mengajarkan Al Quran. Saat Islam masih didakwahkan secara sembunyi, Khabbab akan mendatangi teman-temannya yang seiman secara diam-diam untuk menyampaikan kembali ayat Al Quran.
Abdullah bin Masud pun bertanya kepadanya perihal Al Quran. Rasulullah ﷺ pernah menyabdakan bahwa barangsiapa ingin belajar Al Quran, maka bisa meniru bacaan Khabbab atau biasa dipanggil Ibnu Ummi Abdin.
Khabbab juga mengajarkan Al Quran kepada Fatimah binti Khattab dan suaminya Said bin Zaid. Fatimah merupakan adik dari Khalifah Umar bin Khattab.
Suatu hari saat mengajarkan Al Quran kepada mereka, datanglah Umar bin Khattab. Khabbab sempat bersembunyi. Umar berseru, "Tunjukkan kepadaku dimana Muhammad!"
Khabbab pun keluar dari persembunyiannya. Ia berkata, "Wahai Umar, Demi Allah, saya berharap kiranya kamulah yang telah dipilih oleh Allah dalam memperkenankan permohonan Nabi-Nya karena kemarin saya mendengar Beliau ﷺ memohon, "Ya Allah kuatkanlah agama Islam dengan salah seorang di antara dua lelaki yang lebih Engkau sukai, Abul Hakam bin Hisyam dan Umar bin Khattab.
Umar bertanya kembali, "Dimana saya menemuinya sekarang ini, hai Khabbab?"
"Di Shafa, di rumah Arqam bin Abil Arqam," jawab Khabbab. Maka pergilah Umar ke sana dan menyatakan keislamannya.
Harta yang Tak Tertutupi
Khabbab tak pernah absen dalam semua pasang surut kaum muslimin di awal Islam bersama Rasulullah ﷺ. Ia selalu turut dalam berbagai peperangan, suka dan duka.
Ketika Islam telah dipimpin kekhalifahan Umar dan Ustman, ia memperoleh uang yang cukup dari pemerintahan. Maka dibangunnyalah sebuah rumah di Kufah. Rumah ini diperuntukkan bukan hanya bagi dirinya, tapi juga kaum muslim yang memerlukan.
Khabbab tak pernah tidur nyenyak. Ia teringat akan Rasulullah ﷺ dan sahabat yang lain yang telah lebih dahulu menemui-nya sebelum pintu dunia benar-benar dibukakan bagi kaum muslimin. Juga, sebelum harta kekayaannya diserahkan kepada mereka.
Suatu hari Khabbab jatuh sakit keras. Maka ia dijenguk beberapa orang muslimin. Khabbab ditanya, "Senangkah hati Anda wahai Abu Abdillah karena Anda akan dapat menjumpai teman-teman sejawat Anda?"
Sambil menangis Khabbab menjawab, "Sungguh saya tidak merasa kesal atau kecewa tetapi tuan-tuan telah mengingatkan saya kepada para sahabat dan sanak saudara yang telah pergi mendahului kita dengan membawa semua amal bakti mereka, sebelum mereka mendapatkan ganjaran di dunia sedikit pun juga. Sedangkan kita masih hidup dan beroleh kekayaan dunia hingga tak ada tempat untuk menyimpannya lagi kecuali tanah."
Setelah berkata demikian, ia menunjukkan suatu tempat di rumah sederhananya dimana ia menyimpan harta kekayaannya. Ia berkata:
"Demi Allah tak pernah saya menutupnya walau dengan sehelai benang, dan tak pernah saya halangi terhadap yang meminta."
Setelah itu, Khabbab menoleh kepada sehelai kain kafan yang telah disediakan untuk dirinya sendiri. Sambil menitikkan air mata, ia berkata:
"Lihatlah ini kain kafanku. Bukankah kain kafan Hamzah paman Rasulullah ﷺ ketika gugur sebagai salah seorang syuhada hanyalah burdah berwarna abu-abu yang ditutupkan ke kepalanya terbukalah kedua ujung kakinya, sebaliknya bila ditutupkan ke ujung kakinya, terbukalah kepalanya."
Pada tahun 37 Hijriah Khabbab berpulang. Si pembuat pedang dari kalangan miskin, mereka yang pertama kali memeluk Islam. Penyebar Al Quran yang penuh kemuliaan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ pernah diperintahkan oleh Allah untuk memuliakan mereka yang memuliakan Al Quran.
"Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridaan-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan engkau (berhak) mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zalim.
Demikianlah, Kami telah menguji sebagian mereka (orang yang kaya) dengan sebagian yang lain (orang yang miskin), agar mereka (orang yang kaya itu) berkata, Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah? (Allah berfirman), Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur (kepada-Nya)?
Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu). Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barang siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Al Quran Al An'am 52-54
Suatu kali saat Imam Ali karamallahu wajhah kembali dari perang Shiffin, ia melihat sebuah makam. Ia bertanya, "Makam siapa ini?" Seorang menjawab, "Makam Khabbab."
Imam Ali merenung sejenak lalu katanya:
"Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Khabbab, yang dengan ikhlas menganut Islam dengan penuh semangat. Mengikuti hijrah semata-mata karena taat, seluruh hidupnya dibaktikan dalam perjuangan membasmi maksiat."
Salam untukmu Khabbab bin Arats, semoga Allah meridhoimu.
Alhamdulillah
Kisah lainnya:
Kisah Sahabat Rasulullah SAW
Asmaul Husna: Al Muhsi
Al Muhsi - Maha Menghitung
وَاَحْصٰى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا
"... dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu."
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 28)
Allah mencatat segala-galanya yang ada di dalam alam semesta, jumlah mereka, gerakan mereka, dan perubahan-perubaban yang terjadi pada mereka. Daun-daun pepohonan, butir-butir pasir dan semua bentuk kehidupan yang lebih tinggi dan lebih rendah, apa yang ada sekarang dan apa yang sudah lenyap, semuanya dihitung dan dicatat.
وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ كِتٰبًا
"Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu Kitab (buku catatan amalan manusia)."
(QS. An-Naba' 78: Ayat 29)
Lebih penting lagi adalah catatan-catatan yang disimpan Allah mengenai perbuatan kita, bahkan setiap kali kita bernafas pun dicatatnya. Catatan yang jelas mengenai kehidupan kita disimpan untuk dihadapkan kepada kita pada hari kiamat. Tidak ada yang ditinggalkan dan tidak ada yang salah catat. Para penentang Allah akan takut akan catatan ini.
وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَ يَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَـتَـنَا مَالِ هٰذَا الْـكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّاۤ اَحْصٰٮهَا ۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا ۗ وَ لَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا
"Dan diletakkanlah Kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, Betapa celaka Kami, Kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya, dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 49)
Bagian tubuh manusia akan menjadi saksi.
يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَـتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
"pada hari, (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
(QS. An-Nur 24: Ayat 24)
Perhitungankanlah perbuatan yang bermanfaat bagi manusia.
Alhamdulillah
Qana'ah dan Surga
Inilah janji Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada mereka yang qana'ah. Menerima ketetapan Allah dengan puas dan ikhlas, menjalani kehidupan dengan kesabaran serta selalu bersyukur, yang akan dibalas dengan surga abadi.
Al Quran Surat An Nahl 96-97
Bismillaahi Rahmaani Rahiim
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَاقٍ ۗ
وَلَـنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْۤا اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
مَنْ عَمِلَ صَالِحًـا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَـنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚ
وَلَـنَجْزِيَـنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.
Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
Shodaqollahul'adziim
Pada ayat di atas disebutkan حَيٰوةً طَيِّبَةً atau kehidupan yang baik, ada yang menafsirkan sebagai rezeki yang halal, kebahagiaan, kesanggupan untuk melakukan ibadah kepada Allah, dan juga dimaksudkan sebagai kehidupan bagi hamba yang bersifat qana'ah. Merasa puas dengan segala ketetapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
"قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ ورُزق كَفَافًا، وقَنَّعه اللَّهُ بِمَا آتَاهُ".
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang telah masuk Islam dan diberi rezeki secukupnya serta Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana'ah terhadap apa yang diberikan kepadanya." (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda:
"انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ - قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ - عَلَيْكُمْ -"
”Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan -kata Abu Mu’awiyah- padamu.” (HR. Ibnu Majah)
Dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda:
"لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ"
”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari)
Nabi Muhammad ﷺ seringkali membaca:
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf (dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan) dan ghina (selalu merasa cukup). (HR Muslim)
Alhamdulillah
Asmaul Husna: Al Mughni
Al Mughni- Maha Mengayakan
وَأَنَّهُ ۥ هُوَ أَغْنٰى وَأَقْنٰى
"dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan."
QS. An-Najm 53: 48
Allah ﷻ adalah yang Maha Mengayakan, memberikan kita kekayaan kebendaan dan membebaskan kita dari kekurangan.
وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَأَغْنٰى
"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
QS. Ad-Duha 93: 8
Kekayaan tidaklah boleh menjadi sesuatu yang membuat manusia tidak mentaati Allah. Manusia seringkali mengira segala kekayaannya adalah jerih upayanya sendiri.
وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِۦٓ إِنْ شَآءَ ۚ
"Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki."
QS. At-Taubah 9:28
Lebih jauh dari sifat kebendaan, kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.
Dari Abu Dzar radhiyallahu‘anhu berkata,
قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas). HR. Ibnu Hibban, Shahih Muslim)
Iman menjadikan manusia puas dengan harta duniawi yang secukupnya tanpa berhasrat untuk mendapat lebih banyak lagi. Kebahagiaan diperoleh melalui hal spiritual yang lebih tinggi berupa kasih sayang Allah ﷻ dan pengharapan akan surga-Nya.
يٰقَوْمِ إِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتٰعٌ وَإِنَّ الْأَاخِرَةَ هِىَ دَارُ الْقَرَارِ
"Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal."
QS. Ghafir 40:39
Allah ﷻ memberi kepada mereka yang suka memberi.
Alhamdulillah
Langganan:
Komentar (Atom)
-
Thalhah bin Ubaidillah dijuluki si syahid yang hidup. Thalhah pada masa perang Uhud telah berani mengorbankan nyawanya demi melindungi Ra...
-
Al Jalil - Maha Agung وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَا لْاِ كْرَا مِ ۚ "Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang memiliki Keagunga...
-
Bagaimanakah penerimaan Al Quran dari tiga golongan manusia sebagaimana difirmankan Allah ﷻ? Bismillahi Rahmani Rahiim ثُمَّ أَوْرَثْنَا ...
-
Salah seorang dari 70 kaum Anshar yang bersumpah setia pada Baiatul Aqabah II adalah Abdullah bin Amr bin Haram, biasa disebut juga ...
-
Al Qadir- Maha Kuasa اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ "... Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. A...
-
Ada sebuah kisah yang terdapat dalam hadist Qudsi mengenai permintaan seorang pria yang ingin sekali menjadi abu saja setelah ia mati . ...
-
Menulis ulang surat Al Baqarah ayat 183-189. Pada beberapa bagian akhir ayat-ayat ini, Allah ﷻ menyampaikan beberapa harapan kepada kaum...
-
Sudahkah kita menjaga segala ucapan kita? Baik yang kita ucapkan melalui lisan, ataupun yang kita katakan melalui tulisan? Karena, se...
-
Pada hari-hari pertama dimulainya dakwah Islam, saat hari dipenuhi penderitaan dan kesukaran, Utbah Bin Ghazwan telah memegang teguh su...
-
Siapakah Zaid bin Haritsah yang digelari “Pecinta Rasulullah” itu? Seorang pemimpin pasukan yang dipercaya Nabi SAW menuju perang Muktah...














