Karakter Terpuji 7: Amanah

Manusia telah diberi amanah oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai yang dipercaya untuk menjadi khalifah bumi, seringkali manusia mengkhianatinya. Makhluk yang telah diciptakan malah menentang Sang Penciptanya. Demikianlah beratnya sifat amanah itu sehingga tak dapat terlaksana selama manusia menjadi zalim dan bodoh.

Berkaitan dengan sifat amanah Allah berfirman dalam Al Quran:

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan dan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Qs 33 Al Ahzab 72


Ada dua sifat manusia yang disebutkan Allah dalam ayat tersebut yaitu zalim (dholuuman) dan bodoh (jahuulan). Inilah dua titik ekstrim kenyataan manusia yang tak mungkin dipungkiri. Orang yang sangat jahat, maka dia akan menjadi sangat ZALIM. Berlawanan pada sifat zalim ini, manusia bisa menjadi seorang yang sangat ADIL.  Demikian pula sifat bodoh atau JAHIL. Lawannya seorang manusia bisa diberi ilmu dan kepahaman dan menjadi seorang yang ALIM.

Berkaitan dengan ayat Al Ahzab 72 yang Allah turunkan. Untuk memikul amanah yang sampai langit, bumi dan gunung-gunung tak mau memikulnya, manusia tak akan bisa memikul itu ketika ia sangat ZALIM dan JAHIL. Amanah bisa dilaksanakan jika ia ADIL dan ALIM.

Kenyataan Pelaksanaan Amanah

Untuk melaksanakan amanah yang diemban, manusia diberi petunjuk Allah SWT dalam Al Quran:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu menghianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. QS 8 Al Anfaal 27

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. QS 33 Al Ahzab 36




Pada pelaksanaan perintah Allah, manusia tergolong menjadi dua. Mereka yang mau mengikuti peraturan Allah, atau AMANAH. Atau,  mereka yang tidak mau mengikuti peraturan Allah atau KHIANAT. Akibat dari kedua pelaksanaan tersebut akan berkembang luas dan menjadi berbeda.

Manusia yang amanah akan menghasilkan hubungan sesama manusia yang bersaudara. Ikhwah atau UKHUWAH. Pada tataran manusia yang lebih luas, sifat amanah akan membuat sebuah masyarakat yang BERSATU, sehingga menjadikan mereka kaum yang PENOLONG.

Sebaliknya, jika seorang manusia berkianat, diikuti manusia lainnya, maka mereka melahirkan manusia-manusia yang EGOIS. Pada tataran sosial menjadi masyarakat yang BERMUSUHAN, sehingga mereka menjadi kaum yang SESAT.

Marilah kita tengok penjelasan Allah SWT dalam Al Quran mengenai sifat-sifat tersebut satu persatu.

KHIANAT VS AMANAH

Khianat:

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami mendengar tetapi tidak mentaati". Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).QS 2 Al Baqarah 293

Amanah:
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. QS 24 An Nur 51

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". QS 2 Al Baqarah 285

EGOIS VS UKHUWAH

Egois:

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. QS 28 Al Qasas 50

Ukhuwah:

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. QS 49 Al Hujurat 10

BERMUSUHAN VS BERSATU

Bermusuhan:

Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. QS 59 Al Hashr 14

Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.
Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.
Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.Qs 5 Al Maidah 62-64

Bersatu:

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. Qs 61 As Saf 4

SESAT VS PENOLONG

Sesat:

…dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya". Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. QS 4 An Nissa 119

Bersatu:

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. QS 5 Al Maidah 56

Berusaha Patuh dan Setia

Setiap orang berbeda-beda tingkatannya dalam melaksanakan amanah Allah SWT. Pada sifat pribadinya, ia terkadang bisa agak zalim atau sedikit bodoh. Bisa saja ia tidak zalim tapi kurang ilmu. Atau, ia berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya dan menjadi zalim.

Berbeda dengan manusia, alam semesta raya selalu patuh dan setia pada peraturan Allah. Gunung-gunung selalu bertasbih pada Allah. Bergerak dan memuntahkan laharnya sesuai kehendak Allah. Begitu juga langit yang tegak dan bumi yang bergerak sesuai ketetapan Allah. Sama halnya, planet-planet di tata surya yang bergerak pada garis edarnya masing-masing sesuai peraturan Allah SWT.

Sedangkan manusia, cenderung untuk melawan semua peraturan Allah itu. Manusia cenderung untuk tidak setia, berkhianat pada amanah yang telah dipikulkan antara lain tidak mematuhi perintah dan laranganNya. Padahal kebahagiaan yang hakiki baru didapat jika beriringan dengan aturan Allah itu.

Seiring perjalanan waktu kehidupan setiap manusia, ia harus terus menerus menyadarkan dirinya untuk berubah menjadi seorang yang amanah. Ia harus terus menerus mengurangi kezaliman atau kejahatan-kejahatan dirinya agar menjadi adil. Terus menambah ilmu dan mengamalkannya sehingga menjadi alim. Hal yang terpenting adalah selalu berusaha untuk tetap patuh dan setia pada aturan dan larangan Allah sehingga dapat melaksanakan amanah yang telah Allah percayakan sebagai khalifah di muka bumi.  Wallahu’alam.

Alhamdulillah

Air dan Demam

Pada sebuah riwayat Shahih Bukhari-Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “demam yang sangat serius adalah embusan Api Neraka, maka dinginkanlah dia dengan menggunakan air.”

Pertama, demam adalah embusan yang dikeluarkan dari neraka, sehingga hamba-hamba Allah yang menyadarinya mengambil pelajaran. Allah menciptakan alasan dan sebab untuk muncul dan terjadinya demam.

Kedua, hadist tersebut menyamakan demam dan panasnya hari dengan panasnya Api Neraka yang hebat, sehingga hati kita dapat membayangkan siksaan yang sangat berat dari api dan panas yang keluar daripadanya.

Dinginkanlah dengan air mencakup semua jenis air, dan ini merupakan pendapat yang benar karena pendapat lain mengatakan hanya air zamzam saja. Abu Nua’aym berkata, Anas ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Jika salah seorang di antaramu terserang demam, minta dia memercikkan air dingin kepada tubuhnya tiga malam berturut-turut sebelum fajar.”

Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Abu Hurairah menyampaikan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Demam adalah lenguhan dari panasnya neraka, oleh karena itu hilangkan dia dari dirimu dengan air dingin.” Abu Hurairah ra berkata, “demam telah disebut di hadapan Rasulullah dan seorang laki-laki mengutuknya.” Rasululah SAW bersabda, “Jangan mengutuknya karena dia menghapus dosa-dosa, seperti api yang menghilangkan kotoran dari besi.” Shahih Muslim

Demam biasanya diikuti dengan diet menghindari makanan yang tidak tepat dan mengharuskan mengkonsumsi makanan dan obat-obatan yang bermanfaat untuk penyembuhan. Tubuh orang yang sakit akan dibersihkan dari berbagai kotoran dan unsur-unsur serta zat yang busuk yang berdampak pembersihan seperti yang dipunyai api ketika membersihkan kotoran dari besi. Manfaat yang dipunyai demam telah diketahui para pakar kedokteran.

Adapun mengenai pembersihan hati dari penyakit dan berbagai kotoran, hanya dokter hati yang mempunyai akses kepada jenis pengetahuan ini. Para ahli seperti ini akan menemukan bahwa apapun yang dinyatakan Nabi SAW dalam hal ini, merupakan kebenaran yang sangat jelas. Namun, jika penyakit hati menjadi kronis, harapan untuk menyembuhkannya menjadi memudar.

Demam membantu tubuh dan hati. Mengutuk penyakit yang menguntungkan merupakan tindakan yang tidak adil dan dilarang. Abu Hurairah ra mengatakan, “Tidak ada penyakit yang mungkin aku derita yang lebih berarti bagiku melebihi demam, karena dia memasuki setiap anggota tubuhku, dan Allah memberi masing-masing organ tubuh bagian pahalanya.”

Oleh karena itu, menggunakan air dingin untuk meringankan demam selama musim panas di daerah yang panas membawa banyak manfaat, karena air tersebut akan menjadi paling jauh dari sinar matahari sebelum fajar yaitu pada tingkatan yang paling dingin. Juga, sebelum fajar tubuh dalam keadaan yang paling kuat, sebab orang yang sakit telah mengambil bagian waktu tidur dan istirahat lebih banyak.

Kekuatan tubuh akan ditambahkan kepada kekuatan obat, dalam hal ini air, dan keduanya akan meringankan demam yang bukan diakibatkan oleh tumor yang sangat ganas atau zat serta kondisi yang beracun. Allah dengan demikian akan melenyapkan panas demam dengan kehendakNya.

Alhamdulillah

Dari buku Ibnu Qoyyin, Pengobatan Menurut Petunjuk Nabi

Kembali kepada Fitrah Allah

Setiap usai Ramadan, kita mengucapkan selamat Idul Fitri kepada saudara dan handai taulan. Kembali fitri setelah sebulan berpuasa. Demikianlah janji Allah yang diberikan kepada hambaNya yang melakukan shaum Ramadan dengan ikhlas. Fitri berarti kembali kepada fitrah Allah. Fitrah Allah bahwa manusia beragama tauhid. 


"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." Qs Ar Rum 30

Pada sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُ { فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ }

'Seorang bayi tak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yg akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yg dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? 
' kemudian beliau membaca firman Allah yg berbunyi: '…tetaplah atas fitrah Allah yg telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.' (QS. Ar Ruum (30): 30). [HR. Bukhari No.4402].

Ramadan berlalu, bukan berarti kita melupakan ibadah kepadaNya. Setidaknya ada tiga amalan yang masih tetap bisa dilakukan. Puasa sunah, melakukan qiyamul lail, atau sholat tahajud dan banyak membaca Al Quran.

Allah memberi petunjuk kepada kaum muslimin agar selalu berada dalam fitrah Allah itu selepas Ramadan dengan kelanjutan ayatnya:

"dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah." QS Ar Rum 31

Semoga  kita menjadi muslim yang lebih baik lagi setelah Ramadan. Amin.

Alhamdulillah

10 Manfaat Menahan Lapar

Shaum menahan lapar. Tidak hanya shaum, sebagian manusia hidup dengan sederhana dan sehari-harinya terbiasa dengan makanan secukupnya dan menahan lapar. Rasulullah SAW mencontohkan kehidupan seorang mukmin dengan sedikit makan, sedikit tertawa dan ridho dengan kesederhanaan pakaiana. Apa manfaatnya menahan lapar bagi kita?

Satu, menahan lapar menyucikan hati, menerangi naluri dan menajamkan kecerdasan. Sesungguhnya rasa kenyang itu mewariskan kebodohan, membutakan hati dan memperbanyak uap air di dalam otak serta tak ubahnya mabuk yang menutupi sumber-sumber pemikiran sehingga hati kesulitan menjalankan fungsi dalam berpikir dan memahami segala sesuatu dengan cepat.

Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah kamu tidak banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” HR Tirmidzi dan Ibn Majah

Lukman berkata pada anaknya, “Hai anakku, jika perut kenyang, akal akan tertidur, kebijaksanaan akan membeku, dan anggota badan menjadi enggan melaksanakan ibadah.”

Kedua, melunakkan dan menjernihkan hati yang menjadikannya siap merasakan kebahagiaan bermunajat kepada Allah dan mendapat faedah dari mengingatNya. Abu Sulaiman berkata, ketika lapar dan haus, ia menjadi jernih dan lunak, tetapi ketika kenyang ia menjadi buta dan keras.

Ketiga, tumbuhnya rasa malu, sikap rendah hati dan hilangnya rasa cinta terhadap kemegahan, kegembiraan dan pola hidup bersenang-senang, yang menjadi sumber sikap melampaui batas dan lalai terhadap Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak, bahkan aku ingin berpuasa satu hari, dan berbuka satu hari. Maka jika aku lapar, aku bersabar dan seandainya aku kenyang, aku akan bersyukur.” HR Ibn Hanbal dan Tirmidzi.

Keempat, bahwa orang yang menjadi tidak lupa terhadap cobaan maupun azab Allah dan tidak menelantarkan orang-orang yang tertimpa musibah. Melalui rasa hausnya, ia akan mengingat rasa haus yang dirasakan oleh manusia di padang Masyar dan melalui rasa laparnya ia akan mengingat rasa lapar diderita pada penghuni neraka.  Sesungguhnya sebaik-baik cobaan yang harus dialami adalah rasa lapar.

Kelima, menaklukkan nafsu berbuat maksiat dan mengalahkan jiwa yang selalu memerintahkan pada kejahatan. Pangkal perbuatan maksiat adalah nafsu dan tenaga yang bersumber dari makanan.
Aisyah ra berkata, bidah pertama yang akan terjadi setelah Rasulullah SAW wafat adalah rasa kenyang. Sesungguhnya jika suatu kaum makan hingga perut mereka kenyang, nidcaya nafsu mereka akan menenggelamkan mereka ke dalam kesenangan duniawi.

Keenam, mencegah rasa ingin tidur dan membiasakan tidak tidur di malam hari. Orang yang perutnya kenyangan akan minum banyak dan orang yang banyak minum tidurnya akan banyak pula. Usia adalah permata paling berharga dan menjadi modal bagi seorang hamba dalam berniaga, tidur laksana kematian. Banyak tidur berarti menghabiskan umur.

Ketujuh, mempermudah ketekunan dalam menjalankan ibadah. Seseorang memerlukan waktu untuk makan, dan tentu saja membutuhkan waktu untuk membeli dan memasaknya. Belum lagi kalau sering makan, perlu waktu untuk mencuci tangan, membersihkan gigi dan sering ke kamar kecil karena banyak minum. Orang yang banyak makan, lebih sulit mempertahankan wudhunya untuk beritikaf di masjid.

Abu Sulaiman Al Darani mengemukakan enam macam perkara yang diakibatkan rasa kenyang. Hilangnya rasa manis bermunajat kepada Allah SWT, terhalangnya daya ingat terhadap hikmah Ilahi, kurang menaruh belas kasihan kepada orang lain, enggan beribadah menguatnya hawa nafsu dan lebih sering mengellilingi tempat membuang hajat daripda berada di masjid.

Kedelapan, banyak makan mengurangi kesehatan dan penyakit tubuh. Faktor utama penyebab penyakit adalah banyaknya makanan yang masuk dalam tubuh. Penyakit akan menghalangi pelaksanaan ibadah. Belum lagi diperlukan uang untuk berobat jika sakit. Obat utama yang tidak mengandung efek samping adalah, tidak makan kecuali telah lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Perut dibagi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk bernafas.

Kesembilan, sedikit makan meringankan biaya hidup. Sahl ra berkata, orang rakus dicela dalam tiga perkara, jika dia termasuk ahli ibadah dia akan menjadi malas, jika seorang pengusaha akan selalu didera oleh kerugian, dan jika punya penghasilan sendiri dia tidak akan menyerahkan hak Allah. Mereka yang biasa hidup dan makan sederhana disebutkan Allah, “Orang yang tidak dibuat lalai oleh perniagaan duniawi dari mengingat Allah.” QS Nur 37

Kesepuluh, tumbuhnya kebiasaan mendahulukan kepentingan orang lain dan bersedekah kepada anak-anak yatim, miskin dan yang membutuhkan. Firmah Allah dalam surat Al Ahzab 72:

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu, dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Salah satu amanat yang dipikul manusia dalam ayat tadi termasuk menyedekahkan kelebihan makanan kepada kaum miskin agar orang itu dapat menabung pahala. Al Hasan, seorang sholeh generasi muslim abad kedua, pernah berkata,” Demi Allah, dulu aku pernah mengenal orang-orang yang melewati malam dengan makanan ang cukup jika mereka ingin memakan semuanya. Tetapi salah seorang di antara mereka berkata, demi Allah aku tidak akan memasukkan semua ini ke dalam perutku sebelum aku menyerahkan sebagiannya kepada Allah.”

Demikian. Disarikan dari buku Imam Al Ghazali, Metode Menaklukkan Jiwa.
Alhamdulillah

Rasa Lapar di atas Rasa Kenyang

Assalamu’alaikum Saudara saya yang dirahmati Allah SWT. Saat Ramadan tak ada hidangan di atas piring kita pada siang hari. Namun, bagi sebagian kita, bisa jadi orang yang kita kenal, atau tidak. Setiap hari adalah Ramadan. Tak pernah cukup hidangan tersaji di piring setiap harinya.

Rasulullah SAW dan keluarganya.

Sedikit makan
Sedikit tertawa
Ridho dengan kesederhaan pakaian

Demikian diajarkan Nabi kita. Banyak riwayat disebutkan Imam Bukhari dalam hadist-hadistnya mengenai kesahajaan hidup Nabi Muhammad SAW dan keluarganya. Beliau terbiasa menahan lapar, demikian pula keluarganya. Saat menahan lapar di bulan Ramadan, bisakah kita bayangkan kesederhanaan kehidupan Rasulullah SAW itu?

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Keluarga Nabi Muhammad SAW tidak pernah kenyang dengan makanan selama tiga hari sejak tiba di Madinah, hingga beliau wafat.”

Telah bercerita Qatadah ia berkata, “Suatu hari kami berada di sisi Anas dan saat it ia mempunyai pembuat roti, maka ia pun berkata, Nabi SAW tidak pernah makan roti yang empuk dan tidak pula kambing yang dipanggang.”

Orang mukmin adalah mereka yang biasa menahan lapar.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin itu hanya makan dengan satu usus, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.”

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Nabi SAW tidak pernah mencela makanan sekalipun. Bila ia berselera maka beliau memakannya dan bila tidak suka maka beliau meninggalkannya.”
Pada riwayat Ibnu Majah, Beliau Nabi  SAW bersabda, “Tidaklah pernah seorang anak Adam mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Oleh karena itu, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap kecil yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika dia tidak mampu dengan ini, hendaklah diisinya dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan hendaklah sepertiga lagi untuk nafasnya.”

Mereka yang Menegakkan Negeri-Negeri

Dalam sebuah hadist yang panjang diriwayatkan Usamah ibn Zaid dan Abu Hurairah disebutkan tentang keutamaan rasa lapar, ketika Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Allah SWT pada hari kiamat adalah orang yang sering merasa lapar, haus dan sedih di dunia ini, orang yang penuh kasih sayang dan bertaqwa kepada Allah, yang ketika hadir mereka tidak dikenal, dan ketika pergi mereka tidak dicari orang. Akan tetapi, bumi mengenal mereka dan para malaikat surga menolong mereka.

Orang lain merasa bahagia dengan dunia, sedangkan mereka merasa bahagia dengan ketaatan kepada Allah SWT. Orang-orang lain tidur dengan kasur empuk, mereka tidur dengan menopang kening dan lututnya. Orang lain menyia-nyiakan amal dan akhlaq para nabi, sedangkan mereka melestarikannya. Bumi menangisi kepergian mereka, dan Allah memurkai setiap negeri yang tidak seorang pun dari mereka menetap di sana.

Mereka tidak tergiur kepada dunia laksana anjing tergiur melihat bangkai. Mereka hanya makan seperlunya, sekadar dapat menyambung nyawa, mengenakan pakaian bertambal, kusut dan kepala berdebu. Orang-orang yang melihatnya mengira bahwa mereka sakit. Namun, sesungguhnya tidak ada penyakit pada diri mereka. Dikatakan bahwa mereka ‘gila’, mereka tidaklah gila. Namun, orang-orang melihat dari mereka tertambat ketentuan Allah, yang telah membuat mereka mengenyahkan dunia.

Di kalangan penduduk dunia, mereka dianggap berjalan tanpa akal. Tetapi justru merekalah yang berakal ketika akal manusia lainnya hilang. Bagi mereka kemuliaan di akhirat.

Hai Usamah, jika engkau melihat mereka di sebuah negeri, ketahuilah olehmu bahwa mereka adalah pelindung penduduk negeri itu, sebab Allah tidak akan menurunkan azab atas suatu kaum selama mereka ada di tengah-tengah kaum itu. Bumi mencintai mereka dan Yang Maha Perkasa meridhoi mereka. Oleh karena itu, jadikanlah mereka saudaramu, agar melalui mereka engkau beroleh keselamatan. Dan jika engkau ingin agar kematian menjemputmu saat perutmu kosong dan hatimu haus. Lakukanlah karena dengan demikian sesungguhnya engkau telah mencapai derajat yang mulia, bersama para nabi. Para malaikat pun bergembira menyambut kedatangan ruhmu, sedangkan Dia yang Maha Perkasa bershalawat kepadamu.” (Ibn Handal, Zuhd, Zabidi VII, 388)

Firman Allah: Bismillahi Rahmaani Rahiim

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” QS Al Baqarah 155-156



Alhamdulillah

Tanda-Tanda Kekuasaan Allah SWT


Innaloha ala kuli syai'in qodiir. Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Untuk menjelaskan kekuasaanNya Allah mencantumkannya dalam Al Quran. Salah satunya dalam surat  ke 30 Ar Ruum 21-26.  Berikut adalah ayatNya tentang  tanda-tanda kekuasaan Allah itu.

Bismillahi Rahmani Rahiim

Wa min aayaatihii… tentang diri kita

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (20)

Wa min aayaatihii…tentang pasangan kita

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (21)

Wa min aayaatihii…tentang keturunan kita

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (22)

Wa min aayaatihii…tentang usaha kita

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (23)

Wa min aayaatihii…tentang harapan kita

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.” (24)

Wa min aayaatihii…tentang kematian kita

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).” (25)

Kelima ayat tersebut diawali dengan kata-kata yang sama…wa min aayaatihii…dan di antara tanda-tanda kekuasannya.

Allah SWT menunjukkan tanda-tanda kekuasaanNya sepanjang hidup kita. Semenjak kita lahir (20), lalu manusia itu berpasangan dan beranak-pinak (21) sehingga muncullah berbagai macam suku, bangsa dan bahasa manusia yang berada di bumi (22). Sepanjang waktu hidup kita itu, kita bekerja untuk menghidupi keberadaan kita (23) dan kita diberinya rezeki yang banyak (24). Sampai akhirnya, tanda-tanda kekuasaan Allah SWT menaungi kematian kita dan kebangkitan dari kubur di hari kiamat (25).

Sesungguhnya Allah SWT ada dalam seluruh perjalanan hidup setiap manusia di bumi. Semenjak lahirnya, matinya dan dibangkitkan kembali. Allah Maha Indah dan dengan begitu indah serta teraturnya menggambarkan alur hidup manusia dalam urutan kelima ayat tersebut. Mengingatkan kita saat lupa akan keberadaan diri kita sendiri.

Sesungguhnya tanda-tanda keberadaan Allah itu ada di sekitar kita. Saat melihat diri kita sendiri, keluarga atau anak-anak. Saat sedang sempit atau lapang mengais rezeki, saat hujan dan buah-buahan tumbuh, saat ditinggal mati orang yang kita kasihi,  saat kita sakit dan suatu hari In sya Allah saat kita akan pergi meninggalkan dunia.

Dan Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.QS An Nahl 16:17

Sungguh kita bukanlah apa-apa di hadapan sang Pencipta. Pada akhir kelima ayat surat Ar Rum itu, Allah melanjutkan firmanNya sebagai penjelas akan semua tanda-tanda kekuasanNya itu. Bahwa kita bukanlah siapa-siapa, tidaklah memiliki apa-apa, tapi semua adalah milik Allah SWT.

“Kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk.” QS Ar Ruum 26

Maka…

“orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata:

“Ya Rabbi, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Qs Ali Imran 2:191


Yaa Allah, ya Khaliq…
Tidaklah Kau ciptakan semua ini dengan sia-sia…


Alhamdulillah

Empat Kunci Sukses


Sukses bukanlah kaya materi. Sukses berarti bisa menjalankan hidup di dunia dengan benar sehingga masuk ke akhirat dan mendapat tempat yang diridhoi Allah. Hidup manusia di dunia hanya sebentar dan sebatas tempat persinggahan.

Allah bertanya, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman, “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu benar-benar mengetahui.” QS Al Mu’minun 112-114

Kunci sukses adalah keyakinan. Rasulullah SAW bersabda, sebaik-baiknya  yang tertanam di dalam hati adalah keyakinan. Islam mengenal rukun iman sebagai pedoman keyakinan yang harus kita amalkan sehari-harinya. In sya Allah, ada lagi empat kunci sukses berupa keyakinan agar kita bisa hidup di dunia sesuai aturan Allah SWT:

Satu, Keyakinan akan adanya akhirat.

Sudah banyak dikisahkan Al Quran, orang-orang yang diazab jaman pada zaman dahulu, selalu meminta bukti akan kebenaran yang dibawa para Rasul Allah. Tetapi hati mereka tetap saja tidak yakin. Mereka diingatkan bahwa akan ada kehidupan akhirat semata untuk kebaikan mereka sendiri, tetapi mereka tetap saja tidak yakin. Bukan berarti orang-orang yang diazab Allah itu tidak berakal atau bodoh. Tetapi ketidakyakinan merekalah serta godaan setan yang telah membuat mereka seperti itu. Maka apabila kita telah memiliki keyakinan seyakin-yakinnya akan adanya akhirat, berarti Allah telah menaungi hati kita dengan petunjuk iman dan kita patut bersyukur sebesar-besarnya.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. QS Asy Syams 9-10

“Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk.” QS An Nahl 60

Maka sudahkah kita yakin akan kehidupan akhirat itu? Apa yang kita lakukan untuk memasuki kehidupan itu? Perbuatan yang menghalangi kita memasuki akhirat yang baik (surga) pastilah akan ditinggalkan. Sombong, riya, takabur, oportunis atau menilai segala sesuatu keberhasilan hanya sebatas materi atau uang, kikir, zalim adalah beberapa diantara perbuatan yang harus ditinggalkan.

“Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.” QS Al Israa 7

“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk (kemudharatan) dirinya sendiri.” Qs An Nisaa 111

Maka banyak kita lihat orang-orang yang tak meyakini akan adanya akhirat mengisi hidupnya di dunia seenak dirinya sendiri tanpa mengindahkan aturan yang Allah SWT berikan bahkan memain-mainkan aturan itu.

“Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari azab kami?” Qs Al Ankabut 4

Dua, Keyakinan akan mati

Semua orang sudah tahu bahwa suatu waktu akan mati. Tapi banyak yang yakin bahwa kematian itu pasti masih akan lama terjadinya. Siapa yang tahu kalau kita akan mati besok? Atau dua jam lagi? Atau beberapa menit lagi? Semua orang tahu akan mati, tapi malah mencintai dunia melebihi kematian itu.

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu.” QS Lukman 33

Tengoklah Khalifah Umar bin Khatab yang sedang menambal baju saat seorang bertanya padanya, “Wahai Umar, tambalan apa yang begitu tidaklah akan tahan lama.” Maka Umar menjawab, “Apakah umurku akan lebih panjang daripada umurnya (umur baju itu)?”

Ketiga, Keyakinan akan adanya setan.

Setan membuat kita merasa apa yang kita perbuat itu bagus. Padahal perbuatan itu salah. Seseorang harus yakin bahwa ia telah membentengi dirinya dari gangguan setan. Caranya adalah mengikuti petunjuk dalam Al Quran dan meneladani Rasulullah SAW melalui sunnahnya.  Selalu introspeksi diri, bercermin akan perbuatannya sendiri, dan menanyakan apakah yang diperbuat sudah benar sebenar-benarnya sesuai kehendak Allah SWT.  

Untuk sukses menjalani aturan Allah SWT, harus memiliki keyakinan bahwa setan selalu menggoda, baik itu dengan cara mengiming-imingi dengan hal yang lebih bagus dari aturan Allah SWT atau godaan dengan rasa takut dan was-was. Semata-mata tujuannya agar manusia tergelincir dan berbuat salah.

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu.” QS Faathir 6.

Keempat, Keyakinan bahwa kehidupan di dunia adalah ujian untuk menentukan tempat tinggal di akhirat.

Orang-orang yang mengetahui bahwa hidup adalah ujian, tentu akan mempersiapkan ujian itu. Seperti layaknya murid sekolah akan menghadapi ujian. Mereka yang lebih siap, akan tahu apa yang akan dikerjakannya dengan beragam soal ujian yang berbeda. Seringkali kita sedang diuji, tapi kita tidak sadar.

“Maha Suci Allah, yang ditanganNya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” QS Al Mulk 1-2

“Dan tidaklah kehidupan dunia itu melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-benarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. QS Al Ankabut 64
Demikianlah empat kunci sukses. Wallahu’alam.

Alhamdulillah

Kisah Pemuda yang Membuntuti Seorang Wanita


Suatu kala di masa kekhalifahan Umar bin Khatab ra ada seorang pemuda yang senantiasa datang ke masjid. Yahya bin Ayyub menceritakan, bahwa di Madinah seorang pemuda  yang menarik perhatian Amirul Mukminin Umar bin Khatab karena kerajinannya beribadah di masjid.

Suatu malam pulang sholat Isya, dia berpapasan dengan seorang wanita yang menghadang jalannya. Seketika itu juga hatinya tertambat pada wanita itu. Dia pun mengikutinya, hingga tiba di depan rumah wanita tadi. Ketika mengetahui dirinya dibuntuti, wanita itu membaca ayat Al Quran:

“Sesungguhnya orang-orang bertaqwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS Al a’raf 201).
Setelah mendengar kata-kata sang wanita, pemuda tadi langsung jatuh pingsan. Sang wanita memandangi keadaan pemuda yang pingsan itu.  Seperti orang yang meninggal saja karena pingsannya. Bersama pembantunya, dia akhirnya membawa pulang pemuda ke rumahnya dan mendapati ayah sang pemuda. Wanita tadi pulang dan sang ayah membawa anaknya masuk untuk merawatnya sampai sadar kembali.

“Apa yang menimpamu wahai anakku?” tanya ayahnya.

Si pemuda tak mau bicara. Setelah didesak beberapa kali akhirnya ia mengakui perbuatannya membuntuti si wanita sampai dibacakan ayat tadi. Tak lama usai bercerita, sang pemuda menghela nafas terakhirnya.  Ia langsung meninggal dunia.

Kejadian ini tentu saja terdengar oleh khalifah Umar bin Khatab. Beliau bertanya, “Mengapa kalian tidak memberitahukan kematiannya kepadaku?” Beliau pun pergi ke kuburan si pemuda. Khalifah  Umar menghampiri dan berdiri di samping kuburan seraya berkata, “Hai Fulan, dan bagi orang yang takut saat menghadap RabbNya, maka ada dua surga baginya.”

Lalu seolah-olah terdengar oleh Khalifah Umar bin Khatab suara dari dalam kubur pemuda itu, “Rabbku telah memberikannya kepadaku wahai Umar.”

Pada versi lain kisah ini disebutkan Al Hasan,  dari Umar ra  dia berkata, “Ada seorang pemuda pada zaman Umar bin Al Khatab ra, yang senantiasa datang ke masjid dan melakukan ibadah. Suatu kali hatinya tertambat kepada seorang gadis. Lalu dia menyatakan isi hatinya kepada gadis itu. Namun demikian, ia sadar dan ingat akan dirinya, lalu dia menghela nafas yang dalam dan pingsan. Pamannya mengetahui keadaannya, membawanya pulang ke rumahnya. Setelah sadar kembali, dia berkata, “Wahai paman, temuilah Umar dan sampaikanlah salamku padanya. Juga tanyakan kepadanya, apakah balasan orang yang takut akan bertemu dengan RabbNya…” Maka Umar berkata, “Kamu mendapat dua surga.”

Abu Hurairah dan Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah SAW berkhutbah sebelum wafatnya, yang di antaranya beliau bersabda,

“Barangsiapa mampu bersetubuh dengan wanita atau gadis secara haram, lalu Dia meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah menjaganya pada hari yang penuh ketakutan yang besar (kiamat), diharamkannya masuk neraka dan memasukkannya ke dalam surga.”

Malik bin Dinar berkata, “Surga An Naim berada di antara surga Firdaus dan surga Adn. Di dalamnya terdapat bidadari-bidadari yang diciptakan dari bunga-bunga surga. Surga itu ditempati orang-orang yang hendak melakukan kedurhakaan, lalu tatkala mengingat Allah, mereka meninggalkannya karena takut kepada Allah.”

Qatadah berkata, pernah disebutkan kepada kami bahwa Nabi SAW pernah bersabda,
“Tidaklah seseorang sanggup melakukan yang haram, kemudian dia meninggalkannya karena hanya takut kepada Allah, melainkan Dia akan mengganti yang haram itu di dunia sebelum akhirat dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”


Alhamdulillah

Kisah Sahabat Rasulullah SAW 4: Hamzah bin Abdul Mutthalib

Saat orang belum lagi mengenal Islam, Hamzah bin Abdul Mutthalib termasuk orang yang pertama dipanggil dalam iman. Hamzah adalah paman dan saudara sesusuan Rasulullah SAW. Hamzah dan Rasulullah SAW besar bersama-sama.  Ia gemar dan mahir dalam berburu. Sebagai keturunan Quraisy, Hamzah juga suka duduk dan berkumpul bersama keluarga dan pembesar-pembesar suku itu.
Suatu hari saat pulang berburu, ia mampir ke Kabah untuk thawaf. Seorang pelayan wanita Abdullah bin Jud’an segera menghampirinya. “Wahai Abu Umarah (panggilan Hamzah), seandainya anda melihat apa yang dialami oleh keponakan anda Muhammad SAW baru-baru ini! Abul Hakam bin Hisyam ketika mendapati Muhammad sedang duduk disakitinya dan dimakinya, hingga mengalami hal-hal yang tak diinginkan!”

Hamzah naik darah. Membawa busur panahnya, ia hendak pergi mencari Abu Jahal. Belum lagi beranjak dari Kabah ia telah mendapati Abu Jahal di sana. Sambil memegang busur panahnya, ia memukul kepala Abu Jahal hingga lecet.

“Kenapa kamu cela dan kamu maki Muhammad SAW padahal aku telah menganut agamanya dan mengatakan apa yang dikatakannya? Nah, cobalah ulangi kembali makianmu itu kepadaku jika kamu berani!”

Orang-orang yang berada di sekitar mereka terkejut. Benarkan Hamzah telah menjadi Islam?

Hamzah pulang ke rumah setelah kejadian itu. Ia merenung tak habis pikir tentang apa yang baru saja ia ucapkan. Rasa marah karena keponakannya telah disakiti membuatnya begitu saja mengatakan keislaman karena tak rela Rasulullah SAW terluka. Mungkinkah ia menerima agama baru begitu saja padahal saat itu ia sedang marah.

Tatkala dirasakan bahwa akal pikirannya tak berdaya, maka dengan ikhlas dan tulus hati ia pun pergi berlindung kepada yang ghaib. Di sisi Kabah, sambil wajahnya menengadah ke langit, dan dengan minta pertolongan kepada segala kudratdan nur yang terdapat di alam wujud ia memohon dan berdoa agar memperoleh petunjuk.

Kemudian timbullah sesal dalam hatiku karena meninggalkan agama nenek moyang dan kaumku… dan aku pun diliputi kebingungan hingga mata tak pernah tidur… Lalu pergilah aku ke Kabah dan memohon petunjuk Allah agar membukakan hatiku untuk menerima kebenaran dan melenyapkan segala keraguan. Maka Allah pun mengabulkan permohonanku itu dan memenuhi hatiku dengan keyakinan.
Aku pun segera menemui Rasulullah dan memaparkan keadaanku padanya, maka didoakannya kepada Allah agar ditetapkanNya hatiku dalam agamaNYa.”

Allah menguatkan agama Islam dengan Hamzah dan sebagai batu karang yang kukuh menjulang ia membela Rasulullah SAW dan sahabatnya yang lemah. Melihat Hamzah berada di pihak Rasulullah, Abu Jahal semakin gencar melancarkan serangan kepada muslimin dan bersiap melakukan perang saudara. Apalagi juga setelah Umar bin Khatab masuk Islam.

Ketegaran Hamzah memimpin sariyah, pasukan tentara Islam telah membuktikan kekokohan hatinya. Panji-panji Islam pertama yang diserahkan Rasululah SAW adalah kepada Hamzah, sehingga ia dijuluki Singa Padang Pasir, Singanya Allah dan Rasulullah.

Perang pertama kali terhadap kaum kafir Quraisy, Perang Badar  yang terjadi pada Ramadan 2 Hijriah, Hamzah diutus Rasulullah duel satu orang satu dengan pasukan kafir. Waktu itu ada tiga utusan adu duel yaitu Ubaidah ibn al Harits, Hamzah dan Ali.  Sementara di pasukan kafir ada Utbah, Syaibah dan Al Wali. Ia dengan gagah mengalahkan lawan duelnya, demikian pula Ali. Mereka berdua kemudian membantu Ubaidah melawan Utbah.

Syahid di Perang Uhud


Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan merupakan perempuan yang memiliki dendam terbesar pada Hamzah. Pada perang Badar, ia kehilangan bapak, paman, saudara dan putanya. Orang menyampaikan kepadanya bahwa Hamzahlah yang membunuh mereka. Wanita ini paling keras menghasut kaum Quraisy untuk berperang. Tujuannya untuk mendapatkan kepala Hamzah.

Sebelum terjadinya perang Uhud, Hindun telah lama menghasut Wahsyi, seorang budak untuk membenci Hamzah. Ia menjanjikan pada Wahsyi jika berhasil membunuh Hamzah, akan diberi kekayaan dan perhiasan paling berharga, semua perhiasan emas permata yang ada padanya. Ia pun dijanjikan tak menjadi seorang budak lagi.

Perang Uhud pecah. Pasukan pemanah tak mengindahkan seruan Rasulullah agar tak meninggalkan bukit untuk mengambil rampasan perang. Pasukan muslimin diserang dari belakang dari arah bukit sehingga kucar-kacir. Saat itulah, Hamzah berjuang mati-matian. Pada saat itu juga, mata Wahsyi selalu jeli mengarahkan pandangan pada sasaran target tombaknya, Hamzah bin Abdul Muttalib.
Wahsyi berkisah…

Saya seorang Habsyi dan mahir melemparkan tombak dengan teknik Habsyi hingga jarang sekali lemparanku meleset. Tatkala orang-orang telah mulai berperang, saya pun keluar dan mencari-cari Hamzah. Sehingga akhirnya tampak di antara manusia tak ubahnya bagai unta  kelabu mengancam orang-orang dengan pedangnya hingga tak seorang pun yang dapat bertahan di depannya.
Maka demi Allah, ketika saya bersiap-siap untuk membunuhnya, saya bersembunyi di balik pohon agar dapat menerkamnya atau menunggunya supaya dekat, tiba-tiba saya didahului oleh Siba bin Abdul Uzza yang tampil  ke depannya. Tatkala ia tampak oleh Hamzah, maka serunya, “Marilah ke sini hai anak tukang sunat wanita!” Lalu ditebasnya hingga tepat mengenai kepalanya.
Ketika itu saya pun menggerakkan tombak mengambil ancang-ancang hingga setelah terasa tepat, saya lontarkan hingga mengenai pinggang bagian bawah dan tembus ke bagian muka di antara kedua pahanya. Dicobanya bangkit ke arahku, tetapi ia tak berdaya lalu rubuh dan meninggal.
Saya datang mendekatinya dan mencabut tombakku lalu kembali ke perkemahan dan duduk-duduk di sana karena tak ada lagi tugas dan keperluanku. Saya telah membunuhnya semata-mata demi kebebasan dari perbudakan yang memilikiku.”

Washyi melanjutkan kisahnya…

“Sesampainya di Mekah, saya pun dibebaskan. Saya tetap bermukim di sana sampai kota itu dimasuki Rasulullah SAW di hari pembebasan. Maka saya lari ke Thaif. Tatkala perutusan Thaif menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislamannya, timbul berbagai rencana dalam pikiranku. Kataku dalam hati, biarlah saya pergi ke Syria, atau Yaman atau ke tempat lain. Demi Allah, ketika saya berada dalam kebingungan itu, datanglah seseorang mengatakan kepadaku, “Hai tolol, Rasulullah tak hendak membunuh seseorang yang masuk Islam!

Maka pergilah saya mendapatkan Rasulullah SAW di Madinah. Saya baru tampak olehnya ketika tiba-tiba telah berdiri di depannya mengucapkan dua kalimat syahadat. Tatkala saya dilihatnya, Beliau bertanya, “Apakah kamu ini Wahsyi?”

“Benar ya Rasulullah,” ujarku. Lalu sabdanya, “”Ceritakanlah kepadaku bagaimana kamu membunuh Hamzah!” Maka saya ceritakan. Setelah saya selesai, sabdanya pula, “Sangat menyesal.  Sebaiknya engkau menghindarkan perjumpaan denganku.”

Maka selalulah saya menghindarkan diri dari hadapan dan jalan yang akan ditempuh oleh Rasulullah SAW agat tidak kelihatan oleh beliau sampai saat beliau diwafatkan Allah. Tatkala kaum muslimin pergi memadamkan pemberontakan (nabi palsu) Musailamatul Kadzdzan penguasa Yamamah, saya pun ikut bersama mereka dan membawa tombak yang saya gunakan untuk membunuh Hamzah dahulu.

Ketika orang-orang mulai bertempur saya lihat Musailamatul Kadzhzab sedang berdiri dengan pedang di tangan. Maka saya pun bersiap-siaplah dan menggerakkan tombak membuat ancang-ancang. Hingga setelah terasa tepat saya lemparlah dan menemui sasarannya.

Maka sekiranya saya dengan tombak itu telah membunuh sebaik-baik manusia yaitu Hamzah, saya berharap kiranya Allah mengampuni saya karena dengan tombak itu pula saya telah membunuh sejahat-jahat manusia Musailamah!”

Rasulullah SAW Diperintah untuk Bersabar


Perang Uhud usai dan syahidlah Hamzah terkena tombakan Wahsyi. Penombak itu kembali kepada Hindun mendapatkan perhiasan dan kebebasan dirinya dari budak dengan membawa hati Hamzah. Kebiadaban pasukan kafir pada muslimin kala itu memang menyayat hati. Apalagi saat melihat paman tercintanya Hamzah meninggal dunia, Rasulullah SAW tak tahan menitikkan air matanya. Beliau bersabda,

“Tak pernah aku menderita musibah seperti ini yang kuderita dengan peristiwa Anda (Hamzah) sekarang ini…dan tidak satu suasana pun yang lebih menyakitkan hatiku seperti suasana sekarang ini.”

Sambil menoleh ke arah para sahabat Rasulullah SAW bersabda,

“Sekiranya Shafiah, saudara perempuan Hamzah- takkan berduka dan tidak adak menjadi sunnah sepeninggalku nanti, akan kubiarkan ia mengisi perut binatang buas dan tembolok burung nasar! Tetapi sekiranya aku diberi kemenangan oleh Allah di salah satu medan pertempuran dengan orang Quraisy, akan kuperbuat sebagai yang mereka perbuat, terhadap tiga puluh orang laki-laki di antara mereka.”

Para sahabat berseru,

“Demi Allah, sekiranya pada waktu nanti kita diberi kemenangan oleh Allah terhadap mereka, akan tiba cincang mayat-mayat mereka seperti yang belum pernah dilakukan oleh seorang Arab pun.”

Belum beranjak Rasulullah dari tempatnya, turunlah wahyu dari Allah SWY untuk tetap bersabar.

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang utama. Sesungguhnya Rabb kalian lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan ia lebih mengetahui siapa-siapa yang beroleh petunjuk… Jika kalian hendak membalas, balaslah seperti yang telah dilakukan mereka kepada kalian dan jika kalian bersabar, maka itu memang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar.
Dan bersabarlah kamu, dan kesabaranmu itu takkan tercapai kecuali dengan pertolongan Allah, serta jangan kamu berduka cita atas mereka, serta janganlah sesak nafas karena tipu daya yang mereka lakukan. ..
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang taqwa serta orang-orang yang berbuat baik.” QS An Nahl 125-128

Tangisan Para Wanita


Saat pulang dari medan perang, wanita-wanita Bani Abdil Asyhal menangisi syuhada yang gugur. Dengan amat santun dan sayang, Rasulullah SAW bersabda,

“Tetapi Hamzah tak ada wanita yang menangisinya…”

Hal ini terdengar oleh Sa’ad bin Mu’adz. Ia menyangka Rasulullah akan senang jika ada wanita yang menangisi pamannya. Ia mendatangi wanita Bani Asyhal dan meminta mereka menangisi Hamzah. Mereka pun menangislah. Rasulullah SAW mendengar tangisan mereka dan sabdanya,

“Bukan ini yang saya maksudkan, pulanglah kalian semoga Allah memberi kalian rahmat dan tak boleh menangis lagi setelah hari ini!”

Selain wanita yang menangis, para sahabat juga membuat syair kesedihan untuk Hamzah. Hasan bin Tsabit menuliskan,

“Tinggalkan masa lalu yang penuh berhala
Ikuti jejak Hamzah yang bergelimang pahala
Penunggang kuda di medan laga
Bagaikan singa yang terluka di hutan belantara
Seorang warga Hasyim mencapai yang cemerlang
Tampil ke medan laga membela kebenaran
Gugur sebagai syahid di medan pertempuran
Di tangan Wahsyi pembunuh bayaran”

Abdullah bin Rawahah menuliskan,

“Air mata mengalir tak ada hentinya
Walau ratap dan tangis tak ada artinya
Bagimu wahai Singa Allah kami tafakur
Sambil bertanya Hamzahkah yang gugur
Ujian telah menimpa kami hamba Allah
Begitu pula Muhammad Rasulullah
Dengan kepergianmu benteng musuh berantakan
Dengan kepergianmu tercapailah tujuan.”

Dan berkatalah pula Shafiyah binti Abdul Mutthalib yaitu bibi Rasulullah SAW dan saudara Hamzah,

“Ilahi rabbi pemilik Arsy telah memanggil datang
Ke dalam surga tempat hidup bersenang-senang
Memang itulah yang kita tunggu dan selalu harapkan
Hingga di yaumul mahsyar Hamzah beroleh tempat yang lapang
Demi Allah selama angin Barat berhembus daku takkan lupa
Baik di waktu bermukim maupun bepergian ke mana saja
Selalu berkabung dan menangisi Singa Allah Sang Pemuka
Pembela Islam terhadap setiap kafir orang angkara
Sementara daku mengucapkan syair keluargaku sama berdoa
Semoga Allah memberimu balasan wahai saudara, wahai pembela.

Tetapi ratapan terbaik yang mengharumkan kenangan terhadap dirinya ialah kata-kata Rasulullah SAW saat berdiri di depan jasad Hamzah sewaktu dilihatnya berada di antara para syuhada pertempuran.

“Melimpahlah atasmu Rahmat ar Rahim
Akulah saksi bagimu di hadapan Al Hakim
Engkaulah pendekar penyambung silaturahim
Berbuat kebaikan pembela yang zalim”

Salam atasmu Hamzah bin Abdul Mutthalib. Salam atasmu para syuhada.

Kisah Sahabat Rasulullah SAW 6: Salman Al Farisi
Kisah Sahabat Rasulullah SAW 7:Zubair bin Awwam
Kisah Sahabat Rasulullah SAW 8: Abu Dzar Al Ghifari
Kisah Sahabat Rasulullah SAW 9: Hudzaifah ibnul Yaman

Kisah Taubatnya Sang Pencuri Kain Kafan