Asmaul Husna: Ar Rafi


Al Rafi - Maha Memuliakan

Allahﷻ adalah yang Maha Tinggi derajatnya. Hanya Dia-lah yang mampu merendahkan atau memuliakan derajat manusia.


رَفِيعُ الدَّرَجٰتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِى الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِۦ عَلٰى مَنْ يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِ
"(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memiliki 'Arsy, yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari Kiamat),"
Quran Ghafir Ayat 15 

Kehormatan atau kemuliaan seseorang tak akan mampu menyaingi-Nya. Kemuliaan manusia didapatkan selama hadir bersama kebaikan. Kemuliaan tergantung iman dan pengetahuan. Hanya dengan iman dan ilmu, seseorang akan dinaikkan derajatnya oleh Allahﷻ, bukan disebabkan orang itu memiliki hal lainnya.

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan."
Quran Al-Mujadilah ayat 11 

Di antara manusia, para rasul dan nabi dinaikkan derajatnya. Ada juga mereka yang telah diberi tugas menyampaikan amanah Allahﷻ diberi kesempatan untuk berbicara langsung dengan Sang Pencipta.


تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۘ مِّنْهُمْ مَّنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍ ۚ 

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat..."
Quran Al-Baqarah Ayat 253 

Kemuliaan telah dilimpahkan kepada para rasul Allah.

وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيْنٰهَآ إِبْرٰهِيمَ عَلٰى قَوْمِهِۦ ۚ نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَآءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
"Dan itulah keterangan Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui."
Quran Al-An'am Ayat 83 

Kepada nabi Muhammad ﷺ dikatakan,

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
"dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu."
Quran Al-Insyirah Ayat 4

Demikian pula kepada nabi Idris alaihissalam,

وَاذْكُرْ فِى الْكِتٰبِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا
وَرَفَعْنٰهُ مَكَانًا عَلِيًّا
"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi."
Quran Maryam ayat 56-57 

Jabatan, harta dan tahta, tak akan membuat seseorang menjadi lebih mulia.

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِىٓ  ۚ  أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِۦ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا  ۚ  وَلَا يُسْئَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ
"Dia (Qarun) berkata, Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku. Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka."
Quran Al-Qasas Ayat 78

Mengimani ketentuan Allah adalah bagian dari membangun kemuliaan diri.

Alhamdulillah

Asmaul Husna: Al Khafid





Al Khafid - Maha Menghinakan 

Allahﷻ mampu mengangkat atau merendahkan derajat seseorang.

ثُمَّ رَدَدْنٰهُ أَسْفَلَ سٰفِلِينَ
"kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya."
Quran At-Tin 95: Ayat 5 

Kehormatan atau kenistaan dalam kehidupan ini bukan suatu harga mati. Allahﷻ dapat mengangkat derajat seseorang dan merendahkan derajat orang lainnya sebagai ujian.

فَأَمَّا الْإِنْسٰنُ إِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ
وَأَمَّآ إِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهٰنَنِ
"Maka adapun manusia, apabila Rabb mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, Rabbku telah memuliakanku.
Namun apabila Rabb mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, Rabbku telah menghinaku."
Quran Al-Fajr 89: Ayat 15 dan 16 

Kehormatan dan kenistaan datang seiring dengan perbuatan. Setiap perbuatan terkait dengan apakah ada upaya untuk penyucian diri.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوّٰىهَا
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوٰىهَا
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا
"demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."
Quran Asy-Syams 91: Ayat 7-10 

Siksaan Allahﷻ di dunia adalah sebuah bentuk perendahan derajat terhadap manusia dan derajat serendah-rendahnya akan diberikan pada hari kiamat kelak.

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِىٓ أَيَّامٍ نَّحِسَاتٍ لِّنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْىِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْأَاخِرَةِ أَخْزٰى ۖ وَهُمْ لَا يُنْصَرُونَ
"Maka Kami tiupkan angin yang sangat bergemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas, karena Kami ingin agar mereka itu merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan di dunia. Sedangkan azab akhirat pasti lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan."
Quran Fussilat 41: Ayat 16 

Hari kiamat digambarkan sebagai hari memuliakan atau hari menghinakan.

خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ
"(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)."
Quran Al-Waqi'ah 56: Ayat 3 

Pada hari kiamat kebenaran akan menang dan kepalsuan akan direndahkan. Segala hal akan nampak sebagaimana aslinya.

Tak lagi berguna sebuah penyesalan di hari akhir.

Alhamdulillah

Kisah Abu Nahzurah Sang Muazin Mekah



Ada seorang yatim bernama Abdullah ibnu Muhairi. Ia berada dalam pemeliharaan Abu Mahzurah. Suatu hari Abdullah Ibnu Muhairi bertanya kepada Abu Mahzurah.

'Hai paman, sesungguhnya aku akan berangkat ke negeri Syam, dan aku merasa enggan untuk bertanya kepadamu tentang peristiwa azan yang dilakukan olehmu'."

Abu Mahzurah menjawab dan menceritakan kisahnya. Ia pernah mengadakan suatu perjalanan dengan sejumlah orang, dan ketika dia bersama teman-temannya berada di tengah jalan yang menuju ke Hunain, saat itu Rasulullah ﷺ dalam perjalanan pulang dari Hunain. Kemudian kami (Abu Mahzurah dan kawan-kawannya) bersua dengan Rasulullah ﷺ di tengah jalan.

Kemudian juru azan Rasulullah ﷺ menyerukan azan untuk salat di dekat Rasulullah ﷺ dan kami mendengar suara azan itu saat kami mulai menjauh darinya, lalu kami berseru dengan suara keras meniru suara azan dengan maksud memperolok-olokkan suara azan itu.

"Ternyata Rasulullah ﷺ mendengar suara kami, lalu beliau mengirimkan seorang utusan kepada kami, dan akhirnya kami dihadapkan ke hadapannya. Maka Rasulullah ﷺ bertanya, 'Siapakah di antara kalian yang suaranya tadi terdengar keras olehku?' "

Maka mereka memberi jawaban dengan isyarat ke arah Abu Mahzurah, sarta mereka memang benar.

Nabi ﷺ melepaskan semua­nya, sedangkan Abu Mahzurah ditahannya, lalu beliau bersabda,

"Berdi­rilah dan serukanlah azan!"

Abu Mahzurah bercerita mengenai perintah dari Rasulullahﷺ tersebut,

"Maka aku terpaksa berdiri. Saat itu tiada yang aku segani selain Rasulullah ﷺ dan apa yang beliau perintahkan kepadaku. Lalu aku berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ., dan Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan kepadaku kalimat azan, yaitu:

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,
aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Marilah salat, marilah salat,
Marilah kepada keberuntungan
Marilah kepada keberuntungan.
Allah Mahabesar. Allah Mahabesar,
Tidak ada Tuhan selain Allah.

Setelah aku selesai menyerukan azan, Nabi ﷺ memanggilku dan memberiku sebuah kantong yang berisi sejumlah mata uang perak."

Kemudian Beliau ﷺ meletakkan tangannya ke atas ubun-ubun Abu Mahzurah, lalu mengusapkannya sampai ke wajahnya, lalu turun ke kedua sisi dadanya, ulu hatinya, hingga tangan Rasulullah ﷺ sampai kepada pusar Abu Mahzurah.

Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda, mendoakan Abu Mahzurah
"Semoga Allah memberkati dirimu, dan semoga Allah memberkati perbuatanmu."

Lalu aku (Abu Mahzurah) berkata, "Ya Rasulullah, perintahkanlah aku untuk menjadi juru azan di Mekah."

Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku telah perintahkan engkau untuk mengemban tugas ini."

Sejak saat itu lenyaplah semua kebenciannya terhadap Rasulullah ﷺ dan kejadi­an tersebut membuatnya menjadi berubah, seluruh jiwa raganya sangat mencintai Rasulullah ﷺ. Kemudian ia datang kepada Attab ibnu Usaid, Amil Rasulullahﷺ (di Mekah), lalu ia menjadi juru azan salat bersama Attab ibnu Usaid atas perintah dari Rasulullah ﷺ.

Kisah dari si yatim Abdullah ibnu Muhairiz mengenai paman angkatnya ini disampaikan kepada Abdul Aziz ibnu Abdul Malik yang kemudian berkata, "Semua orang yang sempat aku jumpai dari keluarga­ku yang pernah menjumpai masa Abu Mahzurah menceritakan kisah yang sama seperti apa yang diceritakan oleh Abdullah ibnu Muhairiz kepadaku."

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim dan ahlus Sunan yang empat.

Peristiwa ini berkaitan dengan ayat dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 58

Bismillahi Rahmani Rahiim
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلٰوةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ
"Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (melaksanakan) sholat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka orang-orang yang tidak mengerti."
Shodaqollahul'adzim

Demikianlah kisah Abu Mahzurah atau dikenal juga bernama Samurah ibnu Mu'ir ibnu Luzan, salah seorang dari empat orang muazin Rasulullah ﷺ. Dia adalah muazin Mekah dalam waktu yang cukup lama.

Alhamdulillah

Kisah Sahabat Rasulullah SAW 37: Qeis bin Sa'ad bin Ubadah



Orang-orang Anshar mengatakan, "Seandainya kami dapat membelikan janggut untuk Qeis dengan harta kami niscaya akan kami lakukan."

Qeis bin Sa'ad bin Ubadah, memang berwajah licin tanpa janggut. Pemuda Anshar ini dicintai umat, selain karena ia berasal dari keturunan keluarga yang dermawan.

"Kedermawanan menjadi tabiat anggota keluarga ini," demikian Rasulullah ﷺ menyebutkan mengenai keluarganya.
Qeis sendiri adalah orang yang lihai dalam tipu muslihat. Ia mahir, licin dan cerdik. Namun, ketika mengenal Islam, ia adalah orang yang jujur dan berterus terang mengenai keadaan dirinya.

"Kalau bukan karena Islam, saya sanggup membuat tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh orang Arab manapun! "
Pada peristiwa Shiffin,, Qeis berada di pihak Ali bin Abi Thalib dan menentang Muawiyah. Ia pernah duduk dan merencanakan segala tipu muslihat untuk melaksanakan dukungannya itu. Namun, Qeis kembali teringat akan sebuah ayat Al Quran.

وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِۦ
Dan tidak menimpa rencana jahat (makar) itu kecuali kepada orang yang merencanakannya sendiri.

Quran surat Fathir 43

Maka Qeis mengurungkan niatnya dan memohon ampun kepada Allah. Hampir-hampir ucapannya tak terdengar manakala ia mengatakan, "Demi Allah seandainya Muawiyah dapat mengalahkan kita nanti, maka kemenangannya itu bukanlah karena kepintarannya, terapi hanyalah karena keshalehan dan ketaqwaan kita."

Keluarga Dermawan

Qeis adalah anak dari Sa'ad bin Ubadah, keluarga Anshar dari suku Khazraj. Ayahnya adalah salah seorang pemimpin dikaumnya. Kala masuk Islam, Sa'ad membawa Qeis lalu menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ. Sa'ad berkata, "Inilah khadam Anda ya Rasulullah."

Rasulullah ﷺ menatap Qeis dan melihat tanda keutamaan serta ciri kebaikan. Maka dirangkullah Qeis. Anas, salah seorang sahabat Nabi ﷺ mengatakan bahwa kedudukan Qeis bin Sa'ad tak ubahnya seperti ajudan.

Qeis merupakan seorang Yang berwatak lihai serta licik. Namun, setelah masuk Islam, is belajar mengenaj kejujuran. Setiap kali menghadapi suatu kendala, ia teringat akan perilaku jahilnya dan segera sadar untuk tidak mengulanginya. Ia berkata, "Kalau bukan karena Islam, akan kubuat tipu muslihat yang tidak dapat ditandingi oleh bangsa Arab."

Salah satu sifat baik yang ia warisi dari keluarganya adalah kedermawanan. Mereka yang merupakan suku Khazraj suka membantu suku Arab lainnya. Contohnya, memanggil para tamu dari suatu tempat ketinggian untuk mengajak makan siang bersama, atau menyalakan api di malam hari sebagai petunjuk bagi para musafir.

Orang-orang berkata, "Siapa yang ingin memakan lemak dan daging, silakan mampir ke benteng perkampungan Dulaim bin Haritsah. "

Dulaim bin Haritsah adalah kakek kedua bagi Qeis. Disana ia dididik dan mendapat contoh perilaku dermawan.

Suatu hari Unar bin Khattab kepada Abu Bakr radhiyallahu'anhum bercakap-cakap sehingga sampai pada sebuah kesimpulan, "Kalau kita biarkan terus pemuda ini dengan kepemurahannya niscaya akan habis licin harta orang tuanya."

Rupanya pembicaraan ini sampai kepada Sa'ad bin Ubadah, ayahanda Qeis, dan membuatnya tidak berkenan. Ia lalu berkata, "Siapa dapat membela diriku terhadap Abu Bakr dan Umar? Diajarkannya anakku kikir dengan memperalat namaku."

Demikian pula kemurahan mereka dalam masalah utang piutang. Sekali waktu seseorang pernah meminjam uang pada Qeis. Saat ia mengembalikan pinjaman uang itu, Qeis menerima kemudian memberikan kembali uang tersebut kepada orang tadi. "Kami tak hendak menerima kembali apa-apa yang telah kami berikan."

Membela Ali bin Abi Thalib

Kepemurahan dan keberanian adalah dua sifat yang saling melengkapi. Orang yang pemurah sudah pasti berani. Orang yang berani, tanpa sifat pemurah biasanya hanya berlagak saja.

Demikian pula Qeis. Ia adalah seorang pemurah dan seorang pemberani, yaitu dengan selalu turut berperang di jalan Allah bahkan sampai setelah Rasulullah wafat ﷺ.

Qeis awalnya adalah seorang licik yang pandai bersilat lidah. Diam-diam tapi menusuk dari belakang. Setelah mengenal Islam, ia membuang jauh-jauh semua perangai buruknya. Salah satu caranya adalah dengan bersifat terbuka, terus terang dengan penuh keberanian.

"Apabila bendera kemuliaan telah dikibarkan, maka segala kekejian berubah menjadi kebaikan." Demikian Qeis bersyair.
Sewaktu timbul pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, Qeis yang memihak pada Ali pada awalnya memencilkan dirinya. Ia selalu mencari cara penuh kelicikan dalam pikirannya dan mencari pembenaran akan tindakannya itu. Sampai pada satu batas waktu ia berpikir bahwa keberpihakannya kepada Ali telah jelas dan meyakini kebenaran dari sisi Ali, sehingga tak perlu lagi memencilkan diri.

Qeis pun membuang jauh-jauh semua pikiran muslihatnya, dan tampil berani membela Ali. Ia tampil di medan perang Shiffin, Jamal dan Nashrawan. Ia berperang tanpa takut mati sambil juga membawa bendera Anshar.

Qeis berteriak, "Bendera inilah bendera persatuan. Berjuang bersama Nabi dan Jibril pembawa bantuan. Tiada gentar andaikan hanya Anshar pengibarnya. Dan tiada orang lain menjadi pendukungnya."
Sebelumnya, Qeis pernah diangkat oleh Imam Ali sebagai gubernur Mesir.

Sementara itu, kekuasaan di Mesir merupakan salah satu hal yang paling berharga yang diinginkan Muawiyah.
Sampai suatu hari ia ditarik kembali dari Mesir oleh Imam Ali. Qeis paham itu adalah salah satu upaya dari Muawiyah. Namun, Qeis tidak merasa itu adalah sebuah pemecatan yang tidak mulia. Kedekatan dengan Ali bin Abi Thalib di Madinah baginya merupakan hal yang lebih baik.
Keberanian Qeis mencapai puncaknya saat Imam Ali meninggal sebagai syuhada. Qeis kemudian membaiatkan dirinya kepada putra Imam Ali, Hassan ra.

Saat Muawiyah memaksa mereka menghunus pedang. Qeis memimpin 5000 orang pasukan dari orang-orang yang telah mencukur kepala mereka tanda berkabung atas wafatnya Ali bin Abi Thalib.

Namun, sejarah berbicara lain. Perang tak akhirnya tidak meletus karena Hassan bin Ali bin AbinThalib memilih untuk mengalah daripada berperang menghadapi Muawiyah. Bukan lantaran takut, namun karena menghindari lebih banyak lagi pertumpahan darah di kalangan muslimin.
Hassan akhirnya bersedia berunding dengan Muawiyah dan merelakannya menjadi pemimpin.

Sementara itu, Qeis masih mempimpin 5000 orang pasukan. Maka dengan kebesaran hati, Qeis berpidato dan bertanya kepada mereka "Jika kalian menginginkan perang, aku akan tabah berjuang bersama kalian sampai salah satu di antara kita diambil maut lebih dulu. Tetapi jika kalian memilih perdamaian maka aku akan mengambil langkah-langkah untuk itu."

Pasukan Qeis memilih untuk melaksanakan perdamaian. Maka mereka meminta keamanan dari Muawiyah. Hal tersebut tentu membuat Muawiyah senang karena ia telah bebas dari perlawanan Qeis. Sementara bagi Qeis, hal tersebut semata-mata dilakukan sebagai sebuah perilaku keshalehan.

Meninggal di Madinah

Qeis menghembuskan nafas terakhirnya di Madinah pada 59 Hijriah. Qeis dikenang sebagai sahabat yang selalu mengatakan apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah ﷺ:

المكر والخد يعة في النار
"Tipu daya dan muslihat licik itu di dalam neraka."
Qeis berkata, "Kalau tidaklah aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang ini, niscaya akulah yang paling lihai di antara umat ini."

Qeis berpulang dengan nama baik, kepercayaan, kejujuran dan keberanian.
Salam untukmu Qeis bin Sa'ad bin Ubadah, semoga Allah ﷻ meridhoimu.

Alhamdulillah

Lihat kisah sahabat lainnya:

Tiga Golongan Manusia dalam Menerima Al Quran


Bagaimanakah penerimaan Al Quran dari tiga golongan manusia sebagaimana difirmankan Allah ﷻ?

Bismillahi Rahmani Rahiim

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرٰتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.
Quran surat Fatir 32
Shodaqalllahul'adziim

Al Quran diturunkan bagi seluruh umat manusia. Namun, diwariskan hanya kepada orang-orang pilihan di antara hamba Allah. Hamba-hamba sebagaimana yang dimaksud dalam ayat di atas adalah umat Nabi Muhammad ﷺ.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan ketiga golongan tersebut:

* Golongan pertama
{فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ}
lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri.

Dia adalah orang yang melalaikan sebagian dari pekerjaan yang diwajibkan atasnya dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang diharamkan.

* Golongan kedua
{وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ}

dan di antara mereka ada yang pertengahan.

Dia adalah orang yang menunaikan hal-hal yang diwajibkan atas dirinya dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, tetapi adakalanya dia meninggalkan sebagian dari hal-hal yang disunatkan dan mengerjakan sebagian dari hal-hal yang dimakruhkan.

*Golongan ketiga
{وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ}

dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah.

Dia adalah orang yang mengerjakan semua kewajiban dan hal-hal yang disunatkan, juga meninggalkan semua hal yang diharamkan, yang dimakruhkan, dan sebagian hal yang diperbolehkan.

Demikian uraian Imam Ibnu Katsir. Bagaimana tindakan ketiga golongan manusia tersebut dalam menerima Al Quran akan mempengaruhi bagaimana mereka ditempatkan di akhirat kelak.

Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan, dari Abu Darda r.a. mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullahﷺ bersabda sehubungan dengan makna ayat berikut:
"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih cepat berbuat kebaikan dengan izin Allah." (Fathir: 32)
Bahwa adapun orang-orang yang lebih cepat berbuat kebaikan, mereka adalah orang-orang yang dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab; dan orang-orang yang pertengahan ialah mereka yang mengalami hisab, tetapi hisab yang ringan. Adapun orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri adalah orang-orang yang ditahan di sepanjang Padang Mahsyar menunggu syafaat dariku, kemudian Allahﷻ memaafkan mereka dengan rahmat-Nya; mereka adalah orang-orang yang mengatakan seperti yang disitir oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.” (Fathir: 34-35).


Demikianlah, mereka akan masuk surga, ada yang tanpa hisab, dengan hisab atau harus menunggu terlebih dahulu syafaat Nabi Muhammad ﷺ kemudian Allah ﷻ merahmati mereka.

Dari Abdullah ibnu Mas'ud r.a. mengatakan, bahwa sesungguhnya umat ini kelak pada hari kiamat terbagi menjadi tiga golongan. Sebagian dari mereka masuk surga tanpa hisab, sebagian lagi mendapat hisab yang ringan, dan sebagian lainnya datang dengan membawa dosa-dosa yang besar-besar, hingga Allah ﷻ berfirman, "Siapakah mereka?" (padahal Allah Maha Mengetahui segalanya). Maka para malaikat menjawab, "Mereka datang dengan membawa dosa-dosa besar, hanya saja mereka tidak pernah mempersekutukan Engkau dengan sesuatu pun." Maka Rabb Yang Mahaperkasa lagi Maha Mulia berfirman, "Masukkanlah mereka ke dalam rahmat-Ku yang luas."
Lalu Abdullah ibnu Mas'ud r.a. membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. (Fathir: 32), hingga akhir ayat.

Ketiga golongan manusia tersebut akan memasuki surga dengan cara yang berbeda, tergantung dengan penerimaan dan perilaku mereka, apakah sesuai AlQuran atau tidak. Ketiga golongan tersebut adalah umat Nabi Muhammad ﷺ yang akan masuk surga selama mereka tidak menyekutukan Allah ﷻ.

Laa ilaha illallah
Alhamdulillah

Asmaul Husna: Al Hasib


Al Hasib - Maha Memperhitungkan 

وَكَفٰى بِاللَّهِ حَسِيبًا
Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.
Quran Al-Ahzab 39

Apakah kita menyatakan atau menyembunyikan apa yang terbersit dalam hati kita, semuanya itu akan diperhitungkan oleh Allah ﷻ.

إِنَّ إِلَيْنَآ إِيَابَهُمْ
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ
"Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kamilah membuat perhitungan atas mereka." 
Quran Al-Ghasyiyah 25-26

Pikiran, kata-kata ataupun tindakan sekecil apapun akan di perhitungan-Nya.

وَنَضَعُ الْمَوٰزِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفٰى بِنَا حٰسِبِينَ
"Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan."
Quran Al-Anbiya 47

Tanggung jawab manusia seutuhnya kepada Allah. Apa pendapat manusia di dunia tak banyak berpengaruh terhadap perhitungan-Nya.

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسٰلٰتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُۥ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفٰى بِاللَّهِ حَسِيبًا
"(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan."
Quran Al-Ahzab 39

Al Hasib berarti juga Yang Maha Memadai. Allah ﷻ sanggup melaksanakan setiap kepercayaan yang diletakkan kepada-Nya. Sementara makhluk tidak akan sanggup melaksakanan tugas apabila semua dipercayakan kepadanya.

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُۥ ۖ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِۦ ۚ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ
"Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan sesembahan yang selain Dia. Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya."
Quran Az-Zumar 36

Sekalipun berurusan dengan mereka memiliki tindakan tidak bermartabat, takutlah kepada Allah ﷻ.

Alhamdulillah

Pertanyaan Tentang Nikmat

Pada suatu hari, Abu Bakr Asshiddiq dan Umar bin Khattab radhiyallahu'anhum sedang duduk berdua.  Mereka keluar rumah karena rasa lapar dan tak mendapati sesuatu yang bisa dimakan di rumah masing-masing.  Lalu datang pula Rasulullah ﷺ kepada mereka.  Beliau ﷺ bertanya, "Apakah yang membuat kamu berdua duduk di sini?"

Keduanya menjawab,  "Demi Rabb Yang telah mengutus engkau dengan hak, tiada yang menyebabkan kami keluar melainkan rasa lapar."

Berkata Rasulullah ﷺ "Demi Allah yang telah mengutusku dengan hak, tidak ada yang mendorongku keluar selain dari alasan yang sama."

Lalu Rasulullah ﷺ bersama kedua sahabatnya yang mulia pergilah ke rumah seorang Anshar,  Ibnut Taihan alias Abul Haisam Al-Ansari. Sesampai di sana,  mereka mendapati istrinya,  ia berkata bahwa suaminya tengah mengambil air untuk keluarganya.  Wanita itu meminta mereka menunggu.

Tidak lama kemudian datanglah Abul Haisam membawa gerabah airnya.  Dengan wajah gembira ia berkata,  "Marhaban (selamat datang), tiada seorang tamu pun berkunjung kepada seseorang lebih afdal daripada Nabi yang hari ini datang berkunjung kepadaku."

Pria Anshar itu kemudian meletakkan gerabah dan pergi sebentar memetik setandan kurma segar.  Rasulullah ﷺ berkata,, "Bukankah engkau telah memetik buah kurmamu?"

Lelaki itu menjawab "Aku ingin menghormati kalian dengan rnenyajikan makanan yang masih segar menurut kesukaan kalian."

Tak hanya kurma,  Abul Haisam juga menyembelih kambing untuk disajikan kepada tamunya.  "Janganlah kamu sembelih kambing yang sedang menyusui, " demikian pesan Rasulullah ﷺ. Maka,  makanlah mereka pada hari itu sebagai nikmat yang diberikan oleh Allah ﷻ .

Rasulullah ﷺ bersabda:

"لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، فَلَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَبْتُمْ هَذَا، فَهَذَا مِنَ النَّعِيمِ"
"Sungguh kamu akan ditanyai mengenai hal ini kelak di hari kiamat. Kamu keluar karena terdorong oleh rasa lapar, dan sebelum pulang kamu telah mendapatkan semua ini, dan ini termasuk dari nikmat."

Kisah ini disampaikan dalam berbagai riwayat berkenaan dengan surat At Takasur dalam Al Quran,  terutamanya pada bagian akhir surat.

Bismillahi Rahmani Rahiim

ثُمَّ لَتُسْئَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
"kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)."
(QS. At-Takasur 102: Ayat 8)
Shodaqollahul'adziim

Sudahkah kita mensyukuri nikmat yang telah Allah ﷻ berikan hari ini?

Alhamdulillah

Asmaul Husna: Al Muqit


Al Muqit - Pemberi Makan

Allahﷻ memberikan kecukupan kepada makhluk-nya. Allahﷻ memberi makanan dan memenuhi bumi dengan rahmat bagi seluruh makhluk hidup.

  وَكَانَ اللَّهُ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ مُّقِيتًا
" Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 85)

Maha kuasa dimaksudkan sebagai Allahﷻ yang mampu menjaga dan memberi makanan serta minuman bagi makhluk hidup. 

Allahﷻ memberi kekuatan dan beraneka ragam  kemampuan kepada semua makhluk-Nya. Bagi setiap makhluk Dia menyediakan makanan yang sesuai.

وَجَعَلَ فِيهَا رَوٰسِىَ مِنْ فَوْقِهَا وَبٰرَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَآ أَقْوٰتَهَا فِىٓ أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَآءً لِّلسَّآئِلِينَ
"Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kukuh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi, dan Dia tentukan makanan-makanan (bagi penghuni)-nya dalam empat masa, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya."
(QS. Fussilat 41: Ayat 10)

Bukanlah pekerjaan yang mudah untuk menyediakan makanan bagi setiap makhluk.  Namun,  semuanya tercukupi dan dipelihara menurut keseimbangan. 

اللَّهُ الَّذِى خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ  ۖ  وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِىَ فِى الْبَحْرِ بِأَمْرِهِۦ  ۖ  وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهٰرَ
"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagimu."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 32)


وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِى الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا  ۚ  كُلٌّ فِى كِتٰبٍ مُّبِينٍ
"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."
(QS. Hud 11: Ayat 6)

Mintalah segala kecukupan itu dari Allahﷻ dan sudahlah pasti hanya Dia yang akan mampu mencukupkannya.  

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ: " يَا عِبَادِي: إِنِّي حَرَّمْتُ  الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا. يَا عِبَادِي: كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ، يَا عِبَادِي: كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ، يَا عِبَادِي: كُلُّكُمْ عَارٍ إِلَّا مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ، يَا عِبَادِي: إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ . يَا عِبَادِي: إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّي فَتَضُرُّونِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي، يَا عِبَادِي: لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي: لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئًا، يَا عِبَادِي: لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي، فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ، مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ. يَا عِبَادِي: إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ “.
رواه مسلم (وكذلك الترمذي وابن ماجه)

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman : Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa diantara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun . Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah mencela kecuali dirinya.
(Hadist Qudsi riwayat Muslim,  Tirmidzi,  Ibnu Majah) 

Sandarkankah kepercayaan itu semata-mata kepada Allahﷻ.

Alhamdulillah

Alllah ﷻ Mencintai Orang-orang yang Berbuat Kebaikan


Allah mencintai mereka yang berbuat kebaikan.  Allah memaafkan dosa-dosa manusia. Siapakah yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? 
Menulis ulang surat Ali Imran 133-136

Bismillahi Rahmani Rahiim
وَسَارِعُوٓا إِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,"
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ  ۗ  وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
"(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan."
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلٰى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui"
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 135)
أُولٰٓئِكَ جَزَآؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَجَنّٰتٌ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ خٰلِدِينَ فِيهَا  ۚ  وَنِعْمَ أَجْرُ الْعٰمِلِينَ
"Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal."
Shidaqollahul'adziim

Semoga kita termasuk mereka yang selalu berbuat kebaikan.

Alhamdulillah

Istighfar di Ujung Malam




Penghabisan malam adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa kepada Allahﷻ. Salah satunya memohon ampunan kepada-Nya.

Mencatat ulang Al Quran surat Ali Imran 14-17
Bismillahi Rahmaani Rahiim
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَـنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَـرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ
قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰ لِكُمْ ۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِ
اَلَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
اَلصّٰــبِرِيْنَ وَالصّٰدِقِــيْنَ وَالْقٰنِتِــيْنَ وَالْمُنْفِقِيْنَ وَالْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِالْاَسْحَارِ

"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (14)
"Katakanlah, Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Rabb mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya." (15)
"(Yaitu) orang-orang yang berdoa, Ya Rabbi, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka." (16)
"(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar." (17)
Shodaqollahul'adziim

Allah ﷻ menyebutkan beragam kesenangan hidup di dunia. Namun, tempat kembali di sisi Allah ﷻ lebih baik dari itu semua. Orang-orang yang mendapatkan tempat kembali yang baik adalah mereka yang berdoa, yang sabar, benar, taat, berinfak dan memohon ampun sebelum fajar (بِالْاَسْحَارِ).

Kata اسحار dari سحر atau sahur adalah waktu menjelang fajar. Ayat 17 menunjukkan keutamaan berdoa dan beristighfar di waktu sahur, manakala sholat tahajud atau pada bulan Ramadhan saat mengakhirkan sahur puasa. Tidak ada doa khusus saat menyantap sahur, namun inilah waktu diijabahnya doa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كُلِّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثلث الليل الأخير، فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟

(Rahmat) Allah turun pada tiap malam ke langit dunia, yaitu di saat malam hari tinggal sepertiganya lagi, lalu Dia berfirman, "Apakah ada orang yang meminta, maka Aku akan memberinya? Apakah ada orang yang berdoa, maka Aku memperkenankannya? Dan apakah ada orang yang meminta ampun, maka Aku memberikan ampunan kepadanya."
(Dalam berbagai riwayat)

Ibnu Katsir menyebutkan mengenai doa di waktu sahur ini sebagaimana dilakukan oleh nabi Ya'qub alaihissalam yaitu saat mengatakan kepada anak-anaknya akan berdoa di akhir malam.
سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي

"Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Rabbku." (Quran surat Yusuf 98)



Rasulullah ﷺ telah mencontohkan bagaimana peribadatannya di akhir malam sebagaimana diberitakan Aisyah radhiyallhuanha. Hal ini juga ditiru oleh para sahabat Rasulullah ﷺ seperti Abdullah ibnu Umar ra dan Ibnu Mas'ud ra.

"Hai Nafi’, apakah waktu sahur telah masuk?" demikian pertanyaan Abdullah Ibnu Umar suatu malam. Ia lalu melaksanakan sholat dan memohon ampun sampai waktu subuh.

Ibnu Mas'ud pun demikian. Dalam khusuknya sehingga terdengar oleh ayahanda Ibrahim ibnu Hatib, Ibnu Mas'ud berdoa, "Ya Rabbi, Engkau telah memerintahkan kepadaku, maka aku taati perintah-Mu; dan inilah waktu sahur, maka berikanlah ampunan bagiku."

Dari Anas ibnu Malik mengatakan bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ bila melakukan salat sunnah di malam hari diperintahkan untuk melakukan istigfar di waktu sahur sebanyak tujuh puluh kali.

Alhamdulillah

Asmaul Husna: Al Fattah


Al Fattah - Maha Pembuka 

Allah ﷻ adalah pemberi keputusan, mana yang dibuka dan tidak. Maha Pembuka apa yang tertutup.

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَـنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَـنَا بِالْحَـقِّ ۗ وَهُوَ الْـفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ
"Katakanlah, Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi Keputusan, Maha Mengetahui."
(QS. Saba' 34: Ayat 26)

Allah ﷻmembuka pintu-pintu pengampunan. Pengampunan bisa datang dalam bentuk yang berbeda. Bisa berbentuk bimbingan, pengetahuan, laba, barang-barang, terbebas dari kejahatan dan kesusahan.

مَا يَفْتَحِ اللّٰهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۚ وَمَا يُمْسِكْ ۙ فَلَا مُرْسِلَ لَهٗ مِنْۢ بَعْدِه ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
"Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. Fatir 35: Ayat 2)

Allah  ﷻ membuka hati mereka yang setia kepada pengetahuan-Nya.

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ ۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ
"Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 125)

Al Fattah adalah bentuk jamak dari Al Fatih, Sang Pembebas, Sang Penakluk. Al Fattah, dari kata Fataha, demikian pula surat Al Fatihah, pembuka. Allah ﷻ membuka gerbang pengampunan bagi mereka yang menyesal.

Nabi Syu'aib alaihissalam pernah berdoa,

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَـقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفٰتِحِيْنَ

"Rabbana, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 89)

Pada akhirnya seorang muslim menyerahkan segala keputusan, segala jalan yang Allah ﷻ bukakan.

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَـنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَـنَا بِالْحَـقِّ ۗ وَهُوَ الْـفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ
"Katakanlah, Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi Keputusan, Maha Mengetahui."
(QS. Saba' 34: Ayat 26)

Dengan bantuan Allahﷻ, segelintir orang bisa menaklukkan pasukan yang besar.

Alhamdulillah

Asmaul Husna: Al Bari



Al Bari - Maha Pembuat 

هُوَ اللّٰهُ الْخَـالِـقُ الْبَارِئُ
"Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Membuat... "
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 24)

Allah ﷻ membuat zat kemudian dari unsur-unsurnya Dia membuat berbagai macam benda dan makhluk. Buatan Allah ﷻ bukanlah tiruan dari sesuatu.

يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْـتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَـعْثِ فَاِنَّـا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّـطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّـنُبَيِّنَ لَـكُمْ ۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَآءُ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْۤا اَشُدَّكُمْ ۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰۤى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـئًـا ۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَاۤ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَآءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَـتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ

"Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) Kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah."
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 5)

Apa yang dibuat Allah ﷻ merupakan ciptaan yang sempurna dan proporsional.

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ
"Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."
(QS. Al-Qamar 54: Ayat 49)

Semua dibuat dengan keseimbangan.

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا ۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍ ۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَ ۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ
"yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Rabb Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 3)

ذٰ لِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Itulah Allah, Rabbmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?"
(QS. Yunus 10: Ayat 3)

Allah ﷻ telah membuat alam semesta sebagai model dari sifat-sifatNya.


Alhamdulillah

Kisah Sahabat Rasulullah SAW 36: Utsman bin Mazh'un





Utsman Bin Mazh'un merupakan sahabat yang pertama-tama masuk Islam yakni kala masih disebarkan secara diam-diam. Ia adalah orang yang keempat belas masuk Islam, berhijrah ke Madinah dan yang pertama meninggal disana.

Saat awal masa keislaman, Utsman juga turut merasakan siksaan yang diterima dari kaum Quraisy. Sampai suatu hari Rasulullah ﷺ memerintahkan sebagian muslim kala itu untuk berhijrah ke Habsyi.

Utsman bin Mazh'un pun turut berhijrah ke Habsyi bersama putranya, Saib. Kaum Nasrani di Habsyi telah lama menjalankan peribadatan mereka. mereka memiliki gereja, rahib, pendeta dan patung-patung untuk disembah. Namun, sama sekali hal tersebut tak mengganggu keimanan kaum muslimin di sana.

Kaum muslimin di Habsyi selalu menanti-nantikan kapan kembali ke kampung halaman. Namun, Utsman bin Mazh'un masih belum bisa melupakan rencana jahat sepupunya, Umayah bin Khalaf.

Adakalanya ia menghibur dirinya dengan bersyair berisi sindiran dan peringatan tentang saudaranya itu:

"Kamu melengkapi panah dengan bulu-bulunya.
Kamu runcingi ia setajam-tajamnya
Kamu perangi orang-orang yang suci lagi mulia.
Kamu cela orang-orang yang berwibawa.
Ingatlah nanti saat bahaya datang menimpa.
Perbuatanmu akan mendapat balasan dari rakyat jelata."

Demikian keteguhan sebagian kaum muslimin yang kala itu berhijrah ke Habsyi. Tetap berpegang kokoh kepada Al Quran.

Menghadapi Orang Quraisy

Suatu hari tiba kabar berita bahwa orang Quraisy telah masuk agama Islam. Kaum muslim yang berhijrah pun bersiap kembali ke Mekah. Namun ternyata berita tersebut tidaklah benar.

Kaum muslimin yang hampir tiba di Mekah tak mungkin berbalik arah. Sementara itu, kaum Quraisy mengetahui bahwa kaum muslim dari Habsyi telah tiba. Mereka menanti waktunya untuk menghabisi beberapa orang muslim sasarannya, termasuk Utsman bin Mazh'un.

Untunglah kala itu Utsman bin Mazh'un mendapat perlindungan dari seorang Quraisy bernama Walid bin Mughirah sehingga dirinya aman. Namun, siksaan dan penderitaan kaum muslimin lain yang posisinya lemah semakin menjadi-jadi.

Hal ini tentu membuat hati Utsman bin Mazh'un bergejolak. Ia tak kuasa menyaksikan saudara seimannya menderita sedangkan dirinya sendiri aman terlindungi.

Seorang yang menyaksikan kejadian kala itu menceritakan:

"Ketika Utsman bin Mazh'un menyaksikan penderitaan yang dialami oleh para sahabat Rasulullah sementara ia sendiri pulang pergi dengan aman disebabkan perlindungan Walid bin Mughirah."

Utsman bin Mazh'un berkata, "Demi Allah, sesungguhnya mondar-mandirku dalam keadaan aman disebabkan perlindungan seorang tokoh golongan musyrik, sedang teman-teman sejawat dan kawan-kawan seagama menderita adzab dan siksa yang tidak kualami, merupakan suatu kerugian besar bagiku ."

Lalu Utsman bin Mazh'un pergi mendapatkan Walid bin Mughirah, katanya: "Wahai Abu Abdi Syams, cukuplah sudah perlindungan anda dan sekarang ini saya melepaskan diri dari perlindungan anda."

"Kenapa ya keponakanku?" tanya Walid. "Apakah ada anak buahku yang mengganggumu?"

"Tidak, hanya saya ingin berlindung kepada Allah dan tak suka lagi kepada selain-Nya. Karenanya pergilah anda ke masjid serta umumkanlah maksudku ini secara terbuka seperti anda dahulu mengumumkan perlindungan terhadap diriku," jawab Utsman.

Pergilah Utsman dan Walid ke masjid. Ada beberapa orang Quraisy berkumpul di sana. Walid berkata, "Utsman ini datang untuk mengembalikan kepadaku jaminan perlindungan terhadap dirinya."

Utsman berkata, "Betul apa yang dikatakannya itu. Ternyata ia seorang yang memegang Teguh janjinya. Hanya keinginan saya agar tidak lagi mencari perlindungan kecuali kepada Allah Ta'ala."

Setelah itu Utsman bin Mazh'un ingin berlalu. Tapi seorang dari mereka, Lubaid bin Rabi'ah berkata dalam sebuah syair sambil melagukannya.

Kata Lubaid, "Ingatlah bahwa apa juga yang terdapat di bawah kolong ini selain daripada Allah adalah hampa."

"Benar ucapan anda itu," kata Utsman.

Lubaid lalu berkata lagi, "Dan semua kesenangan (dunia), tiada dapat lenyap dan sirna."

"Itu dusta! " teriak Utsman bin Mazh'un. "Karena kesenangan surga takkan lenyap! " kata Utsman.

Lubaid lalu berkata kepada orang-orang Quraisy, "Demi Allah, tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti orang selama ini. Bagaimana sikap kalian kalau ini terjadi?"

Salah seorang dari orang Quraisy menjawab, "Si tolol ini telah meninggalkan agama kita. Jadi tidak usah digubris apa yang diucapkannya."

Utsman bin Mazh'un membalas ucapan itu sehingga terjadi pertengkaran. Orang itu tiba-tiba bangkit dan meninju Utsman sehingga mengenai matanya.

Walid bin Mughirah masih berada di tempat itu dan menyaksikan keponakannya dipukul. Ia berkata, "Wahai keponakanku, jika matamu kebal terhadap bahaya yang menimpa maka sungguh benteng perlindunganmu amat tangguh."

Utsman bin Mazh'un berkata, "Tidak, bahkan mataku yang sehat inipun amat membutuhkan pula pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah! Dan sungguh wahai Abu Abdi Syams, saya berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu."

"Ayolah Utsman, jika kamu ingin, kembalilah masuk ke dalam perlindunganku, " kata Walid.

"Terimakasih," kata Utsman bin Mazh'un menolak tawarannya kemudian meninggalkan tempat itu dengan luka di matanya.

Saat di perjalanan Utsman bin Mazh'un melantunkan sebuah syair:

"Andaikata dalam mencapai ridha Ilahi
Mataku ditinju tangan jahil orang mulhidi
Maka Yang Maha Rahman telah menyediakan imbalannya
Karena siapa yang diridhai-Nya pasti berbahagia
Hai unat, walau menurut katamu daku ini sesat
Daku kan tetap dalam agama Rasul, Muhannad
Dan tujuanku tiada lain hanyalah Allah dan agama yang haq
Walaupun lawan berbuat aniaya dan semena-mena."

Utsman bin Mazh'un telah mantap dengan pilihannya, walaupun ia tahu siksaan dan deraan telah menantinya di depan mata.

"Demi Allah, sesungguhnya sebelah mataku yang sehat ini amat membutuhkan pukulan yang telah dialami saudaranya di jalan Allah. Dan sungguh, saat ini aku berada dalam perlindungan Allah yang lebih kuat dan lebih mampu daripadamu."

Turut Hijrah ke Madinah

Tak kurang gangguan dan cercaan diterima Utsman bin Mazh'un dari kaum Quraisy, seperti dari Abu Lahab, Umayah, Utbah atau oleh orang Quraisy lainnya. Sulit baginya tidur nyenyak di malam hari atau bergerak bebas di siang hari.

Maka kala waktunya berhijrah ke Madinah, Utsman bin Mazh'un pun turut pula. Sesampai di Madinah, Utsman hidup penuh dengan kesederhanaan.

Suatu hari Utsman bin Mazh'un datang ke masjid dengan pakaian usang yang telah sobek-sobek dan ditambalnya dengan kulit unta. Kala itu Rasulullah ﷺ tengah duduk bersama beberapa sahabat. Memandang Utsman bin Mazh'un, Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

"Bagaimana pendapat kalian, bila kalian punya pakaian satu setel untuk pakaian pagi hari dan sore hari diganti dengan setelan lainnya, kemudian disiapkan di depan kalian suatu perangkat wadah makanan sebagai ganti perangkat lainnya yang telah diangkat, serta kalian dapat menutupi rumah-rumah kediaman kalian sebagaimana Kabah bertutup?"

"Kami ingin hal itu dapat terjadi wahai Rasulullah," ujar mereka, "sehingga kita dapat mengalami hidup Makmur dan bahagia."

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya hal itu telah terjadi. Keadaan kalian sekarang ini lebih baik dari keadaan kalian waktu lalu."

Mendengar itu, Utsman bin Mazh'un lebih bersahaja. Bahkan saking dirinya menghindari dunia demi urusan ibadah, Utsman pernah ditegur oleh Rasulullah ﷺ.

Abu Ishaq ra pernah meriwayatkan bahwa istri Utsman bin Mazh'un bertamu kepada istri-istri Rasulullah ﷺ. Mereka melihat istri itu berpenampilan buruk. Karena itu, mereka berkata kepadanya, "Mengapa keadaanmu seperti ini? Tiada yang paling kaya di kalangan kaum Quraisy kecuali suamimu."

"Kami tidak memperoleh apa-apa dari dia, sebab malam hari digunakannya untuk sholat, sedangkan siang harinya digunakan untuk berpuasa."

Tiba-tiba Nabi ﷺ datang lalu mereka menceritakan keadaan istri Utsman kepada Beliau.

Beliau pergi menemui Utsman dan berkata, "Hai Utsman bin Mazh'un, apakah aku bukan merupakan teladan bagimu?"

"Sungguh aku ingin melakukan ibadah sepanjang waktu, " timpal Utsman.

"Jangan berbuat begitu, sebab kedua matamu, tubuhmu dan keluargamu memiliki hak yang wajib kamu tunaikan. Oleh karena itu, sholat dan tidurlah, berpuasa dan berbukalah."

Setelah itu istri Utsman menemui istri-istri Nabi ﷺ dengan tubuh semerbak bagaikan pengantin. Mereka berkata, "Wah! "

Dia berkata, "Kami juga mendapatkan apa yang didapatkan orang lain."

Peristiwa ini juga berkaitan dengan turunnya larangan dari Allah ﷻ dalam Al Quran surat Al Maidah 87, perihal selibat, hidup tanpa menikah seperti yang dilakukan kaum Nasrani.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَاۤ اَحَلَّ اللّٰهُ لَـكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."


Orang Muhajirin yang Pertama Meninggal di Madinah

Utsman bin Mazh'un meninggal karena sakit di Madinah. Ia amat disayangi oleh Rasulullah ﷺ. Saat ruhnya suci sebagai orang Muhajirin di kota Madinah yang pertama telah diambil Sang Maha Kuasa, Beliau ﷺ berada di sisinya, mencium keningnya dengan kesedihan dan air mata yang membasahi pipi.

Dalam duka Rasulullah ﷺ bersabda:

"Semoga Allah ﷻ memberimu Rahmat, wahai Abu Saib. Kamu pergi meninggalkan dunia, tak satu keuntungan pun yang kamu peroleh daripadanya serta tak satu kerugian pun yang dideritanya daripadamu."

Sepeninggal sahabatnya, Nabi ﷺ tak pernah melupakan Utsman bin Mazh'un. Selalu ingat dan memujinya. Bahkan saat melepas kepergian Rukayah saat nyawa putrinya itu akan diambil, Beliau ﷺ berkata, "Pergilah, susul pendahulu kita yang pilihan, Utsman bin Mazh'un! "

Salam untukmu Utsman bin Mazh'un. Semoga Allah ﷻ merahmatimu.

Alhamdulillah
Kisah lainnya:
Kisah Sahabat Rasulullah SAW

Kebaikan Menghapus Keburukan



Sholat adalah satu amalan kebaikan. Dengan kebaikannya, Allah menghapus keburukan-keburukan.

Surat Hud 11:114
Bismillahi Rahmani Rahiim

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَـفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗ اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ ۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ
"Dan laksanakanlah sholat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."
(QS. Hud 11: Ayat 114)

Shidaqollahul'adziim

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

"أَرَأَيْتُمْ لَوْ أن بِبَابِ أَحَدِكُمْ نَهْرًا غَمْرًا يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يُبقي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا؟ " قَالُوا: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ: قَالَ: "وَكَذَلِكَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الذُّنُوبَ وَالْخَطَايَا"

"Bagaimanakah pendapat kalian seandainya di depan rumah seseorang di antara kalian terdapat sebuah sungai yang airnya berlimpah, lalu ia mandi lima kali sehari di dalamnya setiap harinya, apakah masih ada yang tersisa dari kotoran yang ada pada tubuhnya?”
Mereka menjawab, "Tidak, wahai Rasulullah.”
Rasulullah ﷺ bersabda, "Demikian pula halnya salat lima waktu, Allah menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan dengannya."

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:


"الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَات مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ"



"Salat lima waktu dan salat Jumuah hingga salat Jumu'ah berikutnya, dan bulan Ramadan sampai dengan bulan Ramadan berikutnya dapat menghapuskan semua dosa yang dilakukan di antaranya, selagi dosa-dosa besar dihindari.' (Sahih Muslim)

Ada sebuah kisah yang terjadi saat ayat ini tururn.

Ibnu Mas'ud menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang menghadap Rasulullah ﷺ lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita di dalam sebuah kebun, lalu aku melakukan segala sesuatu terhadapnya, hanya aku tidak menyetubuhinya. Aku menciuminya dan memeluknya, lain itu tidak; maka hukumlah aku menurut apa yang engkau sukai."
Rasulullah ﷺ tidak menjawab sepatah kata pun, lalu lelaki itu pergi. Dan Umar berkata, "Sesungguhnya Allah memaafkannya jika dia menutupi perbuatan dirinya (yakni tidak menceritakannya)."
Pandangan Rasulullah ﷺ mengikuti kepergian lelaki itu, kemudian beliau bersabda, "Panggillah lelaki itu untuk menghadap kepadaku."
Lalu mereka memanggilnya, dan Rasulullah ﷺ membacakan kepadanya ayat berikut:
"Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat." (Hud: 114)
Mu'az mengatakan menurut riwayat yang lainnya, bahwa Umar berkata, "Wahai Rasulullah, apakah hal ini khusus baginya, ataukah bagi semua orang?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
"بَلْ لِلنَّاسِ كَافَّةً"
"Tidak, bahkan bagi semua orang."
(Riwayat Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir)

Masih dari Ibnu Mas'ud Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ، وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا مَنْ أَحَبَّ. فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا يُسْلِمُ عَبْدٌ حَتَّى يُسْلِمَ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ، وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ". قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بَوَائِقُهُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ ؟ قَالَ: "غِشُّهُ وَظُلْمُهُ، وَلَا يكسِبُ عَبْدٌ مَالًا حَرَامًا فَيُنْفِقَ مِنْهُ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ، وَلَا يَتَصَدَّقُ فَيُقْبَلَ مِنْهُ، وَلَا يَتْرُكُهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إِلَّا كَانَ زادَه إِلَى النَّارِ، إِنَّ اللَّهَ لَا يَمْحُو السَّيِّئَ بِالسَّيِّئِ، وَلَكِنَّهُ يَمْحُو السَّيِّئَ بِالْحَسَنِ، إِنَّ الْخَبِيثَ لَا يَمْحُو الْخَبِيثَ"

"Sesungguhnya Allah telah membagi di antara kalian akhlak kalian sebagaimana Dia membagi di antara kalian rezeki kalian. Dan sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang disukai-Nya dan orang yang tidak disukai-Nya. Tetapi Dia tidak memberi agama kecuali kepada orang yang disukai-Nya. Maka barang siapa yang diberi agama oleh Allah, berarti Allah menyukainya. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidaklah seorang hamba menjadi muslim sebelum hati dan lisannya Islam, dan tidaklah seorang hamba menjadi mukmin sebelum tetangganya aman dari perbuatan jahatnya."
Kami (para sahabat) bertanya, "Wahai Nabi Allah, apakah yang dimaksud dengan bawaiq-nya (perbuatan jahatnya)?"
Rasulullah ﷺ bersabda: "Yaitu menipu dan menganiayainya. Dan tidaklah seorang hamba menghasilkan sejumlah harta haram, lalu ia membelanjakannya dan diberkati baginya dalam belanjaannya itu; dan tidaklah ia menyedekahkannya), lalu diterima sedekahnya. Dan tidaklah ia meninggalkan harta haramnya itu di belakang punggungnya (untuk ahli warisnya), melainkan akan menjadi bekalnya di neraka. Sesungguhnya Allah tidak menghapus keburukan dengan keburukan, tetapi Dia menghapuskan keburukan dengan kebaikan. Sesungguh­nya hal yang buruk itu tidak dapat menghapuskan yang buruk."
(Riwayat Imam Ahmad)

Semoga kita menjadi umat yang selalu menegakkan sholat.

Alhamdulillah

Asmaul Husna; Al Mutakabir


Al Mutakabir 
Maha Memiliki Kebesaran



هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ  اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ  الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَـبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۗ  سُبْحٰنَ اللّٰهِ  عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

"Dialah Allah, tidak ada Rabb selain Dia. Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 23)

Allah ﷻ memiliki segala yang bisa disombongkan dan kemuliaan. Dia jauh dari kekurangan dan ketidaksempurnaan. Dia memiliki sifat-sifat yang melebihi apa saja yang diciptakan-Nya. 

وَلَهُ الْكِبْرِيَآءُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ  وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
"Dan hanya bagi-Nya segala keagungan di langit dan di bumi, dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 37)

Kebanggaan,  atribut khusus keilahian,  tidak pernah boleh diakui oleh manusia. Hanya Dia yang memiliki segala kebesaran. Allah ﷻ membenci orang-orang sombong yang menempatkan diri mereka di atas orang-orang lain.

 وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرِ 
"Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 23)

Hukuman atas kesombongan dalam kehidupan  ini adalah kebutaan spiritual. 

سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَـقِّ   ۗ  وَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَا   ۚ  وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا   ۚ  وَّاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا    ۗ  ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ
"Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 146)

Bagian akhir dari orang-orang sombong adalah neraka.

اُدْخُلُوْۤا اَبْوَابَ جَهَـنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا   ۚ  فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِيْنَ
"(Dikatakan kepada mereka), Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahanam dan kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong."
(QS. Ghafir 40: Ayat 76)

Menerima Kebesaran Rabb dalam hati mengusir rasa tak puas dan congkak dalam diri.

Alhamdulillah

Kisah Taubatnya Sang Pencuri Kain Kafan