Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Kisah Sepotong Roti




Alkisah, berjalanlah seorang bapak mencari rezeki buat keluarganya. Sudah beberapa hari ini anak dan istrinya kekurangan makanan. Ia pun melangkah sambil menahan rasa lapar dalam perutnya.

Mengais rezeki dengan segala keletihan, akhirnya berkat usaha kerasnya si bapak berhasil mendapatkan sepotong roti. Ia pun pulang ke rumahnya. Namun, di tengah jalan, seorang ibu yang lemah meminta-minta kepadanya. Ia meminta sesuatu untuk dimakan baginya dan anak-anaknya. Betapa berat hati si bapak memberikan roti yang ada di genggamannya. Tetapi, pada akhirnya diberikannya juga roti itu dan mengikhlaskannya.

Setelah si bapak tiba di rumah dengan tangan kosong, datanglah seorang tamu. Rupanya tamu tersebut adalah seorang pria yang dahulu kala pernah ia pinjamkan sejumlah uang. Uang yang dipinjam pria itu dibelikannya ternak. Lantas ternak itu menjadi banyak dan menghasilkan banyak keuntungan. Si bapak mendapatkan uang yang pernah dipinjamkan kepada pria itu berikut keuntungan yang sangat banyak. Maka, dalam sekejap saja si bapak menjadi kaya raya. Ia pun banyak menyumbang kemana-mana karena saking kayanya. Ia mendirikan masjid, membagi-bagi uang untuk tetangganya dan lain-lain.

Sampai suatu hari, ajal menjemput si bapak. Maka dihitunglah oleh malaikat segala amal perbuatannya. Namun sayang, segala sumbangan harta yang banyak itu dipandang tidak bernilai. Semua sedekah amal jariyah yang ia berikan saat ia kaya raya pahalanya pupus, semata karena ada riya di dalamnya. Segala nilai kebaikannya hilang. 

Tetapi, ternyata ada satu amal yang menyelamatkannya. Sepotong roti. Iya, sepotong roti yang ia sumbangkan bagi seorang ibu dan anak-anaknya yang kelaparan, padahal pada hari itu pun ia tengah kelaparan. Amal itulah yang menyelamatkan si bapak dari siksa setelah kematian.

Demikian salah satu kisah hikmah yang pernah saya dengar dibalik ayat Quran surat Ali Imran 92.

Alhamdulillah 

Musibah dan Hidayah, Kisi-Kisi Menghadapi Ujian Kehidupan



Adakalanya saat membuka Al Quran,  saya menemukan hal-hal yang menarik.  Salah satunya,  Allah Subhanahu wa Ta'ala mempersandingkan perihal musibah dengan petunjuk atau hidayah. Seperti dalam rangkaian ayat pada surat Al Baqarah 153-157 mengenai kemalangan yang menimpa seorang muslim.

الَّذِينَ إِذَآ أَصٰبَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رٰجِعُونَ
أُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ  ۖ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).
Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
Quran Al Baqarah 156-157

Pada bagian lain di Al Quran juga disebutkan mengenai hubungan musibah dan petunjuk yang Allah berikan kepada orang yang beriman, yaitu pada surat At-Taghabun.

مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ  ۗ وَمَنْ يُؤْمِنۢ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ  ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
"Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Quran At. Taghabun 11

Tidak menimpa musibah bagi kita selain sebagai ujian kesabaran,  lantas dengan kesabaran itu Allah memberi hidayah atau petunjuk kepada kita.  Hidayah inilah sebenarnya anugerah terbesar yang diberikan Maha Pencipta kepada manusia yang beriman,  melebihi pemberian kekayaan dunia dan isinya. Karenanya,  kita dilarang berkecil hati saat ditimpa musibah,  karena bisa jadi dengan musibah tersebut  Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikan sesuatu yang berharga pada bagian akhirnya.

Hal menarik lainnya yang saya temukan dalam Al Quran adalah,  Allah Ta'ala mempersandingkan perihal hidayah atau petunjuk ini dengan keberuntungan,  tentu saja keberuntungan di akhirat kelak.

أُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ  ۖ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Merekalah yang mendapat petunjuk dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Quran Al-Baqarah 5

أُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ  ۖ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Merekalah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Quran Luqman 5

Kalau saat akan menghadapi ujian di sekolah seorang murid adakalanya diberikan kisi-kisi ujian.  Maka dalam ujian kehidupan ini,  saya menemukan sebuah kisi-kisi untuk menghadapinya.  Kisi-kisi ujian kehidupan itu telah Allah berikan dalam Al Quran yang mulia.

Kisi-kisi itu adalah:
Musibah => Bersabar => Petunjuk/Hidayah => Beruntung/Lulus.
Insyaa Allah.

فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَآءُ وَيَهْدِى مَنْ يَشَآءُ
Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
Quran Fathir 8

Wallahu'alam.
Maha Benar Allah yang Maha Pemberi Petunjuk dengan segala firman-Nya.

Alhamdulillah


Empat Makna Keberadaan Buah Hati dalam Al Quran


Buah hati yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu wa Taala pada kita,  bisa menjadi EMPAT hal,  yakni:

SATU, penyenang hati, qurrata a'yun.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوٰجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

"Dan orang-orang yang berkata, Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."

Quran Al-Furqan 74


DUA, perhiasan dunia, ziinatal hayaatiddunyaa.

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."

Quran Al-Kahfi 46


TIGA, cobaan., fitnah.

إِنَّمَآ أَمْوٰلُكُمْ وَأَوْلٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar."

Quran At-Taghabun 15


EMPAT, musuh yang nyata, 'aduwwan

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِنَّ مِنْ أَزْوٰجِكُمْ وَأَوْلٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Quran At-Taghabun 14

Demikian penjelasan Al Quran. 
Maha Benar Allah dengan segala firman-/Nya.


Alhamdulillah

Hadist Qudsi Penyejuk Jiwa




Dari Abu Dzar Al-Ghifari r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah ﷻ berfirman:

يَا عِبَادِيْ إِنِيْ حَرَّمَتْ الظُلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَاتَظَالَمُوْا
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan perbuatan zhalim atas diri-Ku dan Aku jadikan kezhaliman di antara kalian sebagai sesuatu yang diharamkan, maka janganlah kalian saling berbuat zhalim.”

يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ ضَالٌ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُوْنِيْ أَهْدِكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua dalam keadaan tersesat kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku, niscaya Aku akan beri kalian hidayah.”

يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِيْ أُطْعِمْكُمْ
“ Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar, kecuali orang yang telah Aku beri mareka makan, maka mintalah makan kepada-Ku, Niscaya Aku akan beri kalian makan.”

يَاعِبَادِيْ كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِيْ أُكْسِكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua telanjang, kecuali orang yang telah Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya aku akan beri kamu pakaian.”

يَاعِبَادِيْ إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُنُوْبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُوْنِيْ أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan pada siang dan malam hari, sedangkan Aku lah yang mengampuni semua dosa, maka minta ampunlah kepada-Ku, Aku akan ampuni kalian.”

يَاعِبَادِيْ إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوْا ضُرِّيْ فَتَضَرُّوْنِيْ وَلَنْ تَبْلُغُوْا نَفْعِيْ فَتَنْفَعُوْنِيْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan mampu melakukan kemudharatan yang bisa memberikan kemudharat kepada-Ku, dan sekali-kali kalian tidak akan mampu melakukan manfaat yang bisa memberikan manfaat kepada-Ku.”

يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ اَوَّلَكُمْ و آخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كاَنُوْا عَلَى اْتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِيْ مُلْكِيْ شَيْئًا
“Wahai hamba-hamba-Ku, jikalau kalian yang terdahulu dan yang terakhir dari manusia dan jin semuanya memiliki (hati sebagaimana) hati orang yang paling taqwa, maka hal itu tidak akan menambah (keagungan) sedikitpun di dalam kerajaan-Ku.”

يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ اَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ كَانُوْا عَلَى أَفْجَر قَلْب رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مُكْلِيْ شَيْئَا
“Wahai hamba-hamba-Ku, jikalau kalian yang terdahulu dan yang terakhir dari manusia dan jin semuanya memiliki (hati sebagaimana) hati orang yang paling durhaka, maka hal itu tidak akan mengurangi (kemuliaan) sedikitpun di dalam kerajaan-Ku.”

يَاعِبَادِيْ لَوْ أَنَّ اَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَ إِنْسَكُمْ وَ جِنَّكُمْ قَامُوْا فِيْ صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسْأَلُوْنِيْ فَأَعْطَيْتُهُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِيْ إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ المَخِيْطُ إذَا أُدْخلَ البَحْرَ
“Wahai hamba-hamba-Ku, jikalau kalian yang terdahulu dan yang terakhir dari manusia dan jin semuanya berada di suatu lapangan, kemudian mereka meminta kepada-Ku, lalu Aku memberi kepada setiap orang sesuai dengan permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi (sedikit pun) kekayaan yang ada pada-Ku, kecuali seperti halnya air yang menempel pada sebuah jarum ketika jarum tersebut dimasukkan ke dalam lautan.”

يَا عِبَادِيْ إنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمِدْ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya amal kalian itulah yang akan Aku hisab, kemudian Aku memberi balasannya secara sempurna. Maka barang siapa menemukan balasan yang baik, hendaknya dia memuji Allah; dan barang siapa menemukan balasan yang buruk, maka janganlah sekali-kali mencela, kecuali terhadap dirinya sendiri.”
(Riwayat Muslim)

Alhamdulillah

Kisah Pria Penuh Dosa yang Ingin Menjadi Abu



Ada sebuah kisah yang terdapat dalam hadist Qudsi mengenai permintaan seorang pria yang ingin sekali menjadi abu saja setelah ia mati .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

Seorang laki-laki telah berbuat melampau batas atas dirinya sendiri, maka ketika ajalnya akan datang, dia berwasiat kepada anaknya:
"Ketika aku telah mati, bakarlah jasadku, kemudian hancurkanlah sampai halus, selanjutnya sebarkanlah abu jasadku di udara, di laut, karena, demi Allah seandainya Allah menetapkan kepadaku untuk mengadzabku, Dia akan mengadzabku dengan adzab yang belum pernah ditimpakan kepada seorangpun."
Maka mereka melakukan apa yang diwasiatkan. Kemudian Allah berfirman kepada bumi, Kumpulkanlah apa yang telah kamu ambil, maka ketika lelaki itu berdiri (dibangkitkan kembali), selanjutnya Allah berfirman, “Apa yang mendorongmu untuk melakukan perbuatan tersebut?”
Lelaki itu menjawab, “karena aku takut (خشي) kepada-Mu wahai Tuhanku, (dalam kalimat lain: karenat aku takut kepada-Mu dengan menggunakan خائف )”.
Maka Allah pun mengampuni laki-laki tersebut disebabkan rasa takut kepada Allah.

Hadist Qudsi no 32
Diriwayatkan oleh Muslim, dan begitu juga oleh Imam Bukhari, an-Nasa'i dan Ibn Majah.

Demikianlah kisahnya .

Alhamdulillah

Apakah yang Dimaksud Ibarat Puasa Setahun Penuh?



Pernahkah Anda mendengar orang yang melakukan puasa dan puasanya itu ibaratnya telah dilakukan selama satu tahun penuh ? Berikut ini perhitungan puasa satu tahun itu menurut Quran dan hadist .

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَنْ جَآءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشْرُ أَمْثَالِهَا  ۖ  وَمَنْ جَآءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰىٓ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
"Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 160)

Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan maka itu satu bulan yang dilipatgandakan pahalanya seperti sepuluh bulan, dan puasa enam hari setelah idul fitri (dilipatgandakan sepuluh kali menjadi 60 hari atau 2 bulan) maka dengan itu menjadi sempurna satu tahun.” (HR. Ahmad)

Jadi seorang itu ibaratnya puasa satu tahun penuh manakala ia setelah berpuasa Ramadhan melakukan puasa sunnah ayawal .

Jika puasa Ramadhan 30 hari , pahalanya dikali 10 bulan atau  300 hari.  Jika ia melakukan puasa sunnah syawal 6 hari , pahalanya dikali 10 sama dengan 60 hari atau 2 bulanbulan. Jadi puasa Ramadan mendapat pahala 10 bulan ditambah pahala 2 bulan puasa sunnah Syawal sama dengan puasa 12 bulan , atau setahun . Demikian .

Alhamdulillah

Kisah Pemuda Penghuni Surga yang Tak Memiliki Dengki




Ada seorang pemuda yang saat ia lewat , Rasulullah mengatakan bahwa ia adalah calon penghuni surga . Hal itu membuat seorang sahabat , Abdullah bin Umar penasaran . Maka ia pun mencari tahu tentang ha ihwal pemuda itu .

Abdullah bin Umar berkisah,  selama tiga hari ia bersama seorang pemuda.  Pemuda itu diperhatikannya tidak  melakukan qiyamul lail (shalat malam) sedikitpun. Pemuda itu hanyalah bertakbir dan berzikir setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas tempat tidurnya sampai dia bangun untuk shalat shubuh.

Abdullah berkata, ‘Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik. Setelah tiga hari berlalu dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah, sebenarnya tidak pernah ada pertengkaran antara aku dengan bapakku, dan tidak pula aku menjauhinya. Sebenarnya, aku hanya mendengar Rasulullah berkata tentang engkau tiga kali, ‘Akan muncul di hadapan kalian saat ini seorang laki-laki calon penghuni surga.’ Dan ternyata engkaulah yang muncul sebanyak tiga kali itu. Karena itu, aku jadi ingin tinggal bersamamu agar aku bisa melihat apa yang engkau lakukan untuk kemudian aku tiru. Akan tetapi, aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang besar. Lantas, amalan apa sebenarnya yang bisa menyampaikan engkau kepada kedudukan sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah?"

Orang tersebut berkata, "Aku tidak melakukan kecuali apa yang kamu lihat."

Maka Abdullah bin Umar pun berlalu.  Namun,  tak berapa lama pemuda itu memanggilnya,  lalu berkata, ‘Sebenarnyalah aku memang tidak melakukan apa-apa selain yang engkau lihat. Hanya saja, selama ini aku tidak pernah merasa dongkol dan dendam kepada seorang pun dari kaum muslimin, serta tidak pernah menyimpan rasa hasad terhadap seorang pun terhadap kebaikan yang telah Allah berikan kepadanya."

Maka Abdullah berkata, ‘Inilah amalan yang membuatmu sampai pada derajat tinggi, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan.'” (HR. Ahmad)

Abdullah bin Umar bertanya, “Ya Rasulullah! siapakah orang yang terbaik itu?"

Maka Beliau ﷺ bersabda,  "Yaitu orang mukmin yang bersih hatinya." Maka ditanyakan lagi,  "Apakah artinya orang yang bersih hatinya itu wahai Rasulullah?" Beliau ﷺ menjawab, "Ialah orang yang takwa, bersih tidak ada kepalsuan padanya, tak ada kedurhakaan, pengkhianatan, dendam dan kedengkian”. (HR. Ibnu Majah)

Alhamdulillah

Beratnya Sakit Rasulullah ﷺ

 

Saat sakit,  Rasulullah ﷺ merasakan kesakitan dua kali lipat dari orang biasa.

🌿 Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,

دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم وهو يوعك، فوضعت يدي عليه فوجدت حره بين يدي فوق اللحاف، فقلت: يا رسول الله، ما أشدها عليك! قال: إنا كذلك يضاعف لنا البلاء ويضاعف لنا الأجر، قلت: يا رسول الله، أي الناس أشد بلاءً؟ قال: الأنبياء، قلت: يا رسول الله، ثم من؟ قال: ثم الصالحون، إن كان أحدهم ليبتلى بالفقر حتى ما يجد أحدهم إلا العباءة يحويها، وإن كان أحدهم ليفرح بالبلاء كما يفرح أحدكم بالرخاء

“Aku pernah mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang sakit. Kemudian Aku letakkan tanganku di atas selimut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku dapati panasnya.
Aku berkata, ‘wahai Rasulullah, betapa beratnya demam ini!’

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Sesungguhnya kami para nabi, diberi ujian yang sangat berat, sehingga pahala kami dilipat gandakan.’


Abu Said pun bertanya, ‘wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;

‘Para nabi, kemudian orang shaleh. Sungguh ada di antara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih bangga dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan kalian ketika mendapat rezeki.'


 🌿 Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata: ‘Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah.’ Maka aku berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا؟ قَالَ: «أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ» قُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: «أَجَلْ، ذَلِكَ كَذَلِك

“Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘iya benar, aku sakit sebagimana rasa sakit dua orang kalian (dua kali lipat)’, aku berkata, ‘oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.’ Beliau menjawab, ‘Benar, karena hal itu’. “

 🌿 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para nabi adalah yang paling berat ujiannya dan yang paling sabar.

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Dari Mus’ab dari Sa’ad dari bapaknya berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Kata beliau: “Para Nabi, kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau dien-nya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar dien-nya. Dan seseorang akan senantiasa ditimpa ujian demi ujian hingga dia dilepaskan berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”

Demikian.  Sungguh berat penderitaan Nabi Muhammad ﷺ. Beliau berjuang demi tegaknya Islam.  Shalawat dan salam kepada Baginda Muhammad ﷺ.

Alhamdulillah

Kisah Abu Bakar As-Siddiq dan Isra Mi'raj

Mengapa sahabat tercinta Abu Bakr digelari As-Siddiq? Ini adalah kisah Abu Bakr, yang berkat keteguhan imannya, teguh pula hati kaum muslimin bersamanya.

Saat Rasulullah ﷺ sedang berbicara dengan orang banyak di Masjidil Haram mengenai peristiwa Isra Mi'raj, Abu Bakr sedang tidak berada di sana.

Peristiwa Isra Mi'raj memang menjadi bahan olokan kaum musyrik Mekah. Menurut mereka hal itu sangat mustahil. Bagaimana mungkin perjalanan sebulan pergi dan sebulan pulang dari Mekah ke Masjidil Aqsha dilakukan hanya dalam semalam saja.

Bahkan, tak sedikit juga orang yang telah memeluk Islam kala itu malah jadi berbalik murtad. Mereka berpikir bahwa Muhammad ﷺ itu gila.

Datanglah beberapa orang menjemput Abu Bakr. Mereka menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ sedang berbicara mengenai peristiwa Isra Mi'raj yang baru dialami.

"Kalian berdusta!" kata Abu Bakr. "Sungguh, Beliau ﷺ di masjid sedang berbicara dengan orang banyak!"  kata mereka."

Namun, meskipun belum bertemu dan menanyakan langsung dengan Rasulullah ﷺ, sebenarnya dalam hati, Abu Bakr memiliki keyakinan akan kebenaran  cerita Isra Mi'raj yang dialami sahabat tercintanya itu.

Abu Bakr berkata, "Dan kalaupun itu yang dikatakannya...tentu beliau mengatakan yang sebenarnya. Dia ﷺ mengatakan padaku bahwa ada berita dari Allah, dari langit dan bumi, pada waktu malam atau siang, aku percaya. Ini lebih dari yang kamu herankan."

Demikianlah Abu Bakr. Ia adalah orang yang selalu yakin kepada Muhammad ﷺ, mendahului keyakinan orang-orang lain.

Maka datanglah Abu Bakr menemui sahabatnya, Muhammad ﷺ. Ia mendengarkan penjelasan Rasulullah ﷺ mengenai Baitul Maqdis. Kebetulan Abu Bakr pernah berkunjung ke tempat tersebut. 

Usai Rasulullah ﷺ menceritakan perihal Baitul Maqdis, ternyata penggambarannya sama persis. Maka mantap sudahlah keyakinan Abu Bakr. Pengalaman Isra Mi'raj sahabatnya bukanlah sesuatu yang dikarang-karangnya saja.

Abu Bakr berkata, "Rasulullah, saya percaya."

Sejak saat itulah Muhammad ﷺ memanggil Abu Bakr dengan gelar As-Siddiq. Artinya orang yang membenarkan  perkataan Muhammad ﷺ, orang yang percaya, meyakini, yang menerapkan kata dengan perbuatan, bisa juga berarti orang yang mencintai kebenaran.

Sekiranya kala itu Abu Bakr tidak percaya, maka tak akan percayalah kaum muslimin. Andaikan Abu Bakr berpaling, maka berpalinglah mereka yang lain. Namun, Allah telah menetapkan iman ke dalam sanubari hamba-hamba oilihan-Nya. Salah satunya Abu Bakr.

Abu Bakr memiliki tempat tersendiri di hati Rasulullah ﷺ. Ia adalah khalil (teman kesayangan). Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalau ada di antara hamba Allah yang kuambil sebagai khalil maka Abu Bakr adalah khalilku. Tetapi, persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita."

Kata-kata Abu Bakr kepada Rasulullah ﷺ, "Saya percaya," mengenai Isra Mi'raj adalah kata-kata yang baik, buah iman yang dipenuhi pemahaman tentang wahyu dan risalah. Kata-kata "Saya percaya", dari Abu Bakr merupakan contoh kuatnya iman seseorang sebagaimana Allah firmankan dalam Al Quran:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى السَّمَآءِ

"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,"
QS Ibrahim 14:24
Shodaqollahul'adziim.

Semoga Allah meridhoi Abu Bakr As-Siddiq. 

Alhamdulillah

Akhir Hayat Gubernur yang Dzalim


Pada suatu masa di Irak, hiduplah seorang penguasa yang suka menindas, Al Hajjaj ibn Yusuf.  Al Hajjaj adalah seorang penguasa yang sangat kuat. Ia seorang gubernur sewenang-wenang sehingga  para penguasa dari Bani Umayyah yang lain tak berani mengambil tindakan apapun terhadapnya.

Ibn Al Atsir dalam buku sejarahnya Al Kamil menulis, jumlah orang yang dibunuh oleh Al Hajjaj mencapai 120 ribu orang, belum termasuk 80 ribu orang yang mati dipenjarakan. Ia adalah seorang penguasa yang memaksakan kehendak supaya pemerintahan dan masyarakat seluruhnya tunduk pada kekuasaan daulah Umayyah. Sama sekali tak diperkenankan ada pertanyaan, masukan, nasihat apalagi kritik dari pihak oposisi.

Korban keganasan gubernur ini adalah seorang yang bernama Abdullah ibn Zubair radiyallahu anhuma, atau lebih dikenal dengan panggilan Said ibn Zubair. Ia adalah ulama, seorang murid kesayangan Ibnu Abbas rahiyallahu anhuma, seorang sahabat di masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Said ibn Zubair inilah yang menutup kezhaliman Al Hajjaj.

Said ibn Zubair menjelang akhir hayatnya ditangkap oleh Al Hajjaj. Ia ditanya oleh sang gubernur, “Siapa namamu?”

Said menjawab, “Said ibn Zubair.” (Orang bahagia anak orang jaya)

“Tidak!” kata Al Hajjaj. “Namamu Saqi ibn Kusair” (Orang celaka anak orang hancur)

Mendengar itu Said berkata “Ibuku lebih tahu siapa namaku!”

Al Hajjaj bertanya lagi, kali ini mengenai Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassallam dan Khulafaur Rasyidin. Ia berharap Said menjelek-jelekkan Ali bin Abu Thalib. Tapi, bagi Said, mereka semua adalah mulia.

Kemudian Al Hajjaj bertanya, “Siapa khalifah Bani Umayyah yang terbaik?” Said menjawab, “Yang paling diridhoi Rabbnya.”

“Siapa itu?” Tanya Al Hajjaj penasaran. Said menjawab, “Ilmu tentang itu di sisi Allah!”

“Kalau tentang aku?” Al Hajjaj masih penasaran. “Kau lebih tahu tentang dirimu!” demikian jawab Said.

Aku ingin tahu pendapatmu!”, desak Al Hajjaj. “Itu akan menyedihkanmu dan mengusir kegembiraanmu”, tukas Sa’id. “Katakan!”, Al Hajjaj jadi geram.

“Kau telah menyelisihi Kitabullah. Kau lakukan hal yang kauharap berwibawa karenanya, tapi ia menghinakan dan  menjatuhkanmu ke neraka!” Jawab Said.

“Demi Allah aku akan membunuhmu!”, kata Al Hajjaj. Said berkata, “Dengan itu kauhancurkan duniaku dan kuhancurkan akhiratmu.”

“Dengan cara apa kau mau dibunuh?” Al Hajjaj bertanya pongah. Said hanya menjawab, “Pilihlah untukmu; dengan cara yang sama kelak Allah membalasmu!”

“Apa kau mau kuampuni?”, tanya Al Hajjaj. Said menjawab, “Sesungguhnya ampunan hanya dari Allah; kau tak punya dan tak berhak atasnya!”

Al Hajjaj yang berang atas jawaban Said memanggil tentaranya, “Prajurit! Siapkan pedang dan  alas!”

Said tersenyum. Al Hajjaj memperhatikan raut muka Said dan bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa?”

“Aku takjub atas kelancanganmu kepada Allah dan santun-lembutnya Allah padamu,” jawab Said.

“Prajurit, penggal dia!”, teriak Al Hajjaj.

Said menghadap kiblat lalu membaca Al Quran {QS6:79}: “Kuhadapkan wajahku pada Yang Mencipta langit & bumi.”

“Palingkan dia!” perintah Al Hajjaj.

Sa’id pun lalu membaca {QS2:115}: “Ke manapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah.”

“Telungkupkan dia ke tanah!” teriak Al Hajjaj.

Maka Said membaca {QS20:55}: “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu.”

“Sembelih dia!” perintah Al Hajjaj. “Sungguh tak ada orang yang lebih kuat hafalan Qurannya dari dia!”

Maka Said berdoa terakhir kali,  “Ya Allah; jangan kuasakan dia atas seorangpun sesudah diriku!”

Lalu Said ibn Zubair dibunuh.

Lima belas hari kemudian, Al Hajjaj mulai demam. Sakit itu mengantarnya pada kematian. Dia terlelap sesaat lalu bangun berulang kali dalam ketakutan. “Said ibn Zubair mencekikku!”

Punggawanya mengadu pada Hasan Al Bashri, memohonnya mendoakan sang majikan. Al Hasan berkata, "Sudah kukatakan padanya, jangan mendzhalimi para 'Ulama!"

Jelang sakaratul maut, doa-harapnya menakjubkan; “Ya Allah, orang-orang mengira Kau takkan mengampuniku. Sungguh buruk persangkaan mereka padaMu!”

Al Hajjaj mati setelah 40 hari.  ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz dan  Hasan Al Bashri sujud syukur berulang kali. Umar dan beberapa ‘Alim lain bermimpi Al Hajjaj dibunuh Allah sebanyak pembunuhan yang dia lakukan, kecuali satu, pembunuhan atas Said ibn Jubair.  Allah membalasnya 70 kali.

Allahu’alam

Alhamdulillah
Ditulis ulang dari status Salim A Fillah


Ayat Saat dalam Kesulitan

Tersebutlah seorang lelaki yang menempuh perjalanan dari Damaskus menuju Zabadani. Sesampai di tengah jalan, ia berjumpa seorang pria yang berniat menyewa keledainya. Walau tak mengenal pria itu, ia memperbolehkan untuk menyewa keledainya. Keduanya kemudian berjalan beriringan.
“Ayo lewat arah sini,” ajak laki laki penyewa keledai.

“Tidak, saya belum pernah melalui jalan ini. Silahkan tempuh jalan lainnya.” Jawabnya mengelak.

“Tenang saja,” rayu penyewa keledai, “Aku yang akan jadi penunjuk jalan.”

Keduanya pun berunding sampai laki laki pertama mengikuti saran laki laki yang menyewa keledainya.

Tidak lama sesudah itu, keduanya sampai di suatu lokasi yang sukar dilalui. Terjal dan curam. Laki Laki pemilik keledai menyaksikan ada sekian banyak mayat tergeletak di sana.

Tak disangka, pria menyewa keledainya turun sembari menodongkan sebilah pedang. “Turunlah cepat! Saya akan membunuhmu!”

Laki-laki pemilik keledai pun berlari sekuat kemampuannya. Dirinya berusaha menghindar, namun sia-sia dikarenakan sukarnya medan yang mesti dilalui.

“Ambil saja keledai kepunyaanku. Bebaskan saya,” pintanya. Nyawanya terancam.

“Pasti. Saya tak dapat menyia-nyiakan keledaimu. Namun, saya juga ingin membunuhmu.” Gertak si laki-laki. Bengis.

Tidak henti-hentinya, laki laki pemilik keledai ini menyampaikan nasihat. Dirinya pun membacakan ancaman-ancaman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi berkenaan dosa membunuh serta melakukan kejahatan secara umum.

Sayang, laki laki itu tak menggubris. Nafsu membunuhnya telah bulat. Tidak mampu dicegah. Mustahil diurungkan.

“Jika begitu,” kata pemilik keledai, “Izinkanlah aku mendirikan shalat dua rakaat saja.”

“Baiklah,” bentak laki-laki jahat, “Tapi jangan lama-lama!”

Qadarullah, seluruh hafalan laki-laki pemilik keledai hilang. Dikala sibuk mengingat-ingat, laki-laki tidak bernurani itu membentak dan menyuruhnya bergegas.

Akhirnya, teringatlah satu ayat oleh laki laki pemilik keledai ini. dia membaca firman Allah Ta’ala dalam surat ke 27 An-Naml  ayat 62:

“ Atau siapakah yg memperkenankan (doa) orang yang dalam kesusahan jikalau dia berdoa Kepada-Nya dan  yang menghilangkan kesulitan dan yang menjadikan kamu (manusia) yang merupakan khalifah di bumi? Apakah selain Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya) .”

Seketika itu juga dari mulut lembah muncul seorang pengendara kuda dengan tombaknya. Tombak itu dilemparkan dan tepat mengenai dada perampok jahat yang langsung tersungkur tak bernyawa.”

“Siapakah engkau?” Tanya pemilik keledai penuh heran sekaligus haru terimakasih.

“Akulah Hamba-Nya Dia yang memperkenankan doa orang yang dalam kesusahan jika ia berdoa Kepada-Nya dan yang menghilangkan kesulitan.”

Kisah mengagumkan ini pula dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim.

Wallahu a’lam.

Alhamdulillah

Cara Bersyukur

Seorang laki-laki bertanya kepada Abi Hazim, “Wahai Abi Hazim, bagaimana mata itu bersyukur?” Abi Hazim menjawab, “Jika Anda melihat sesuatu yang baik dengan mata Anda, jangan dirahasiakan. Sebaliknya, jika Anda melihat sesuatu yang jelek, rahasiakanlah.”

Tanya orang itu lagi, “Kalau tangan, bagaimana cara bersyukurnya?” Jawab Abi Hazim, “Janganlah mengambil sesuatu yang tidak hak dan tidak pantas, serta janganlah mencegah hak Allah dan hak orang lain yang berada di tanganmu.”

Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana dengan syukur telinga kita?” Kata Abi Hazim, “Jika engkau mendengar kebaikan, dengarkanlah dengan baik. Tetapi jika mendengar kejelekan, kuburkanlah.”

“Bagaimana cara perut kita bersyukur?” kembali ia bertanya. “Hendaklah bagian bawah perutmu berisi makanan, sebagian atasnya untuk mengisi ilmu.”

Akhirnya laki-laki itu bertanya, “Lalu bagaimana bersyukur kehormatan kita?” Abi Hazim menjawab, “Hanya diperuntukkan bagi istri sendiri, demikian juga sang istri hanya untuk suaminya sendiri.”

*

Abu Hazim dikenal bernama Salamah ibn Dinar al Madani, hidup sekitar 780 M. Merupakan generasi tabiin yang juga seorang penyampai hadist dan hidup pada saat muncul generasi awal sufi. Ia sering menyampaikan ajaran spiritual Islam terutama tentang zuhud, menolak kemewahan materi dan mendorong kontemplasi pribadi dan meditasi.

Alhamdulillah

Si Lepra, Si Gundul dan Si Buta

Dari Abu Hurairah ra, ia mendengar Rasulullullah SAW bersabda:

Ada tiga orang dari Bani Israil yang masing-masingnya berpenyakit lepra, gundul dan buta. Tuhan hendak menguji, lalu mengutus malaikat menemui mereka.

Malaikat datang lebih dahulu kepada yang berpenyakit lepra. Kata malaikat itu, ”Apakah sesuatu yang paling engkau sukai?” Jawabnya, ”Warna yang bagus dan kulit yang bagus. Orang banyak telah jijik melihatku. Malaikat itu mengusapnya lalu hilanglah penyakitnya. Kemudian diberi warna yag bagus dan kulit yang bagus.

Kata malaikat, ”Apakah harta yang yang paling engkau sukai?” Jawabnya, ”Unta.” Lalu ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan. Kata malaikat, ”Engkau akan diberi keberkatan.”

Kemudian malaikat itu datang kepada orang yang gundul seraya berkata, ”Apakah sesuatu yang paling engkau sukai?” Katanya, ”Rambut yang bagus dan gundul ini hilang dari aku karena orang banyak telah jijik melihatku.” Malaikat itu lalu mengusapnya, mala hilanglah gundulnya dan ia diberi rambut yang bagus.

Kata malaikat, ”Apakah harta yang paling engkau sukai?” Katanya, ”Lembu.” Malaikat itu lalu memberinya seekor lembu yang bunting seraya berkata, ”Engkau akan diberi keberkatan.”

Kemudian malaikat itu datang pula kepada orang yang buta seraya berkata, ”Apakah sesuatu yang paling engkau sukai?” Jawabnya, ”Mudah-mudahan Tuhan mengembalikan pengelihatanku supaya dapat melihat manusia.” Malaikat itu pun mengusapnya. Tuhan mengembalikan pengelihatannya.

Kata malaikat, ”Apakah harta yang paling engkau sukai?” Jawabnya, ”Kambing.” Malaikat lalu memberinya kambing yang bunting.

Sesudah itu beranaklah unta, lembu dan kambing. Maka orang-orang itu mempunyai lembah yang dipenuhi unta, lembah yang dipenuhi lembu dan lembah yang dipenuhi kambing.

Kemudian datanglah malaikat yang dahulu kepada orang yang tadinya berpenyakit lepra dalam rupa dan keadaan yang menyedihkan seraya berkata, ”Saya ini seorang laki-laki miskin yang telah melintasi bukit dalam perjalanan. Maka pada hari ini tiadalah yang menyampaikan melalui Tuhan. Kemudian saya datang kepada engkau untuk meminta dengan nama Tuhan yang telah memberi engkau dengan warna yang bagus dan harta berupa unta agar engkau sudi menghidupkan belanja dalam perjalananku.” Kata orang itu, ”Kewajiban-kewajiban yang lain masih banyak.”

Kata malaikat itu padanya, ”Seakan-akan saya tidak mengenal engkau. Bukankah engkau dahulunya berpenyakit lepra dan orang yang banyak jijik melihat engkau lagi miskin tetapi kemudian Tuhan memberi kebaikan dan kekayaan kepada engkau?” Kata orang itu, ”Harta ini saya warisi dan bapak dan nenek saya.”  Kata malaikat, ”Kalau engkau dusta Tuhan akan menjadikan engkau sebagaimana keadaan engkau dahulu.

Kemudian malaikat itu datang kepada orang yang dahulunya gundul dengan rupa dan keadaan yang menyedihkan lalu dikatakannya pula sebagai perkataan kepada orang tadi. Orang itu pun menjawab sebagai jawaban orang itu pula sebagaimana jawaban orang itu pula. Malaikat lalu berkata, ”Kalau engkau dusta, Tuhan akan menjadikan engkau sebagaimana keadaan engkau dahulunya.”

Kemudian dia datang kepada orang yang dahulunya buta dengan rupa yang menyedihkan, seraya berkata, ”Saya ini seorang laki-laki miskin dan telah melintasi bukit dalam perjalananku. Maka hari ini tiada yang akan menyampaikan melainkan Tuhan. Saya datang  kepada engkau untuk meminta dengan nama Tuhan yang telah memberi pengelihatan dan kambing kepada engkau untuk mencukupkan perbekalanku dalam perjalananku.

Kata orang itu, ”Saya dahulunya buta. Tuhan lalu mengembalikan pengelihatan saya. Dahulunya saya miskin dan Tuhan telah mengayakan saya. Sebab itu ambillah sesukamu. Demi Allah Hari ini saya tiada akan mencegah engkau mengambilnya karena Allah, berapa saja.” Kata malaikat itu, ”Peganglah harta engkau. Sesungguhnya kamu diuji. Tuhan telah rela kepada engkau dan marah kepada dua orang kawan engkau.”
HR Bukhari

Alhamdulillah

Tujuh Tangkai 100 Biji

Salah seorang sahabat Rasulullah SAW, Utsman bin Affan yang kelak menjadi khalifah muslimin ketiga adalah seorang pedagang besar Madinah. Suatu ketika Madinah mengalami masa paceklik yang sangat parah akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Tubuh-tumbuhan dan hewan banyak yang mati. Masyarakat Madinah banyak yang mengalami kelaparan.

Pada saat gawat itu, datang rombongan kafilah dari negeri Syam membawa barang dagangan yang sebagian besar berupa makanan. Rupanya barang dagangan itu kepunyaan Utsman bin Affan. Para pedagang Madinah berebutan ingin membelinya dengan maksud akan dijual kembali pada masyarakat yang memang sangat membutuhkan dengan harga berlipat-lipat. Mereka menawar barang dagangan itu dengan harga tiga kali lipat dari harga pembeliannya. Tetapi, tawaran yang menggiurkan itu ditolak oleh Utsman bin Affan.

”Maafkan saya, barang dagangan ini telah terjual dengan harga lebih besar dari itu!” Tentu saja para pedagang ini keheranan, siapa orang yang berani membeli dengan harga tinggi itu. Mereka pun bertanya, ”Wahai sahabat, siapakah orang yang telah membeli barang daganganmu dengan harga sangat tinggi itu?”

Utsman pun menjawab singkat, ”Allah!”

”Bagaimana caranya Allah memberikan keuntungan itu kepadamu?” Jawab Utsman, ”Allah menjanjikan kepadaku keuntungan tidak kurang dari 700 kali lipat, tidakkah kalian ingat janji Allah itu dalam Al Quran?” Lalu Utsman membacakan firman Allah SWT:

”Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, tak ubahnya sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai. Pada masing-masing tangkai terdapat 100 butir biji.” QS Al Baqarah 261

Dengan rasa takjub para pedagang itu bertanya, ”Apakah engkau akan sedekahkan dagangan yang sangat banyak ini?” Utsman pun menjawab, ”Benar, seluruhnya aku sedekahkan kepada masyarakat yang menderita karena paceklik yang parah ini!”

Allah SWT berfirman:
”Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (manafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.” QS Al Baqarah 245

Alhamdulillah

Menanti di Pintu Allah



Suatu kala, Fudayl bin Iyad, seorang pencuri yang menyatakan keislamannya, sedang berjalan ke masjid. Ia melewati sebuah rumah yang didalamnya ada seorang ibu yang sedang memarahi anak laki-lakinya. Lantaran kenakalan si anak, ibu sangat marah dan memukulnya. Si anak berteriak  dan berhasil membuka pintu lalu kabur. Masih dengan kesalnya, si ibu mengunci pintu rumah dari anaknya itu.

Ketika Fudayl pulang dari masjid, ia mendapati anak kecil tadi berbaring sesenggukan di depan pintu rumahnya. Mukanya sembab sehabis menangis. Ia hanya diam bersedih mengharapkan maaf dari ibunya. Tak berapa lama Fudayl lewat, hati si ibu telah lembut dan akhirnya membukakan pintu bagi anaknya itu.

Fudayl begitu tersentuh melihat pemandangan demikian. Ia dulunya adalah seorang pencuri. Bahkan saat ia telah menyatakan dirinya Islam, melaksanakan sholat dan puasa, Fudayl masih suka mencuri, terutama barang-barang dari rombongan orang dalam perjalanan.  Sampai suatu kali ia mendengar ayat Al Quran surat Al Hadid 16.

“Bukankah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah suatu masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”  QS Al Hadiid 16

Fudayl menyadari kesalahannya. Ia jera dan benar-benar tobat. Ketika menyaksikan sang ibu membukakan pintu bagi anaknya, mata air Fudayl berlinangan. Bahkan air mata itu sampai membasahi jenggotnya.  Ia berkata:

“Subhanallah, kalau saja seorang hamba selalu sabar menanti di depan pintu Allah, Allah pasti akan membukakan pintuNya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang tetap bersabar, Allah akan membuatnya sabar. Tak seorang pun menerima keberkahan lebih baik dan lebih besar daripada kesabaran.” (Shahih Bukhari)

Istri yang Qanaah

Suatu kali Hasan al-Bashri bercerita, “Aku mendatangi seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah. Akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli dari pedagang lain.”

Dua tahun setelah itu saat pergi berhaji, aku bertemu lagi dengan pedagang yang sama. Tapi, aku tak lagi mendengarnya memuji-muji dagangannya serta bersumpah.  Lantas aku tanyakan kepadanya, ”Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?” Ia menjawab, “Iya benar.”

Aku bertanya lagi, ”Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!”

Pedagang kain itu pun bercerita, ”Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizki, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizki yang banyak ia menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata:’Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang thayyib (halal). Jika engkau datang dengan sedikit rezeki, aku akan menganggapnya banyak, dan jika kau tidak mendapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain).”

Demikianlah perubahan sikap si pedagang karena berubahnya tabiat istrinya di rumah. Istrinya yang qana’ah atau suka menerima dan jiwanya selalu merasa cukup tak membuat suaminya menjadi orang yang berlebih-lebihan saat berdagang. Ukuran Rizki itu terletak pada keberkahannya, bukan pada jumlahnya.

Allah berfirman dalam surat An Nur 26:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”

Sumber : Kitab al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (5/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan
Alhamdulillah

Teman yang Abadi

 Sayidina Ali bin Abi Thalib ra pernah meriwayatkan bahwa begitu seseorang meninggal dunia, ketika jenazahnya masih terbujur, diadakanlah “upacara perpisahan” di alam ruh. Pertama-tama ruh mayat akan dihadapkan kepada seluruh kekayaannya yang dia miliki. Kemudian terjadi dialog antara keduanya.


Mayat itu berkata kepada seluruh kekayaannya, “Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu, sehingga aku lalai dan lupa untuk mengabdi kepada Allah, bahkan sampai aku tidak mau tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalam perjalananku ini.” Lalu harta kekayaan itu berkata, “Ambillah dariku hanya untuk kain kafanmu.” Jadi hanya kain kafanlah harta yang dapat dibawa untuk bekal perjalanan selanjutnya.


Sesudah itu mayat dihadapkan kepada seluruh keluarganya (anak-anaknya, suami atau istrinya), lalu mayat berkata, “Dahulu aku mencintai kalian, menjaga dan merawat kalian dengan sepenuh hatiku. Begitu susah payah aku mengurus kalian sampai lupa mengurus diri sendiri. Sekarang apa yang kalian mau bekalkan kepadaku pada perjalanan menuju Allah ini?” Kemudian keluarganya mengatakan, “Kami antarkan kamu sampai ke kuburan.”
Setelah itu, mayat akan dijemput oleh makhluk yang menjelma dari amalnya. Kalau selama hidup ia banyak beramal saleh, maka dia akan dijemput oleh makhluk yang berwajah ceria dengan memancarkan cahaya dan aroma semerbak, yang jika dipandang akan menimbulkan kenikmatan yang tiada taranya. Sebaliknya, bila waktu hidup sering membangkang pada perintah Allah dan RasulNya, maka si mayat akan dijemput oleh makhluk yang menakutkan, dengan bau yang teramat busuk.


Makhluk jelmaan itu lalu mengajak si mayat pergi. Bertanyalah si mayat, “Siapakah Anda ini sebenarnya? Saya tidak kenal dengan Anda.” Makhluk itu kemudian menjawab, “Akulah jelmaan amalmu sewaktu hidup dan aku akan selalu menerimamu dalam menempuh perjalanan panjang menuju ilahi.”


Perjalanan panjang yang mau tidak mau harus kita jalani kelak, akan ditemani oleh seorang “teman yang abadi” yang sebenarnya kita pilih sendiri. Alangkah bahagianya bila teman ini menyenangkan dan alangkah malangnya bila perjalanan jauh yang seolah-olah tak berujung ditemani sesuatu yang menyengsarakan. 


Sesungguhnya kubur adalah permulaan dari tempat-tempat akhirat. Kalau pemiliknya selamat darinya, maka apa yang ada sesudah itu lebih mudah baginya. Kalau pemiliknya tidak selamat darinya, maka apa yang ada sesudahnya adalah lebih berat. Rasulullah SAW menasehatkan,  kebinasaan umat Islam ada dalam dua hal, yaitu meninggalkan ilmu dan mengumpulkan harta. 


“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu!” QS Lukman 33

Kisah Pemuda yang Membuntuti Seorang Wanita


Suatu kala di masa kekhalifahan Umar bin Khatab ra ada seorang pemuda yang senantiasa datang ke masjid. Yahya bin Ayyub menceritakan, bahwa di Madinah seorang pemuda  yang menarik perhatian Amirul Mukminin Umar bin Khatab karena kerajinannya beribadah di masjid.

Suatu malam pulang sholat Isya, dia berpapasan dengan seorang wanita yang menghadang jalannya. Seketika itu juga hatinya tertambat pada wanita itu. Dia pun mengikutinya, hingga tiba di depan rumah wanita tadi. Ketika mengetahui dirinya dibuntuti, wanita itu membaca ayat Al Quran:

“Sesungguhnya orang-orang bertaqwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS Al a’raf 201).
Setelah mendengar kata-kata sang wanita, pemuda tadi langsung jatuh pingsan. Sang wanita memandangi keadaan pemuda yang pingsan itu.  Seperti orang yang meninggal saja karena pingsannya. Bersama pembantunya, dia akhirnya membawa pulang pemuda ke rumahnya dan mendapati ayah sang pemuda. Wanita tadi pulang dan sang ayah membawa anaknya masuk untuk merawatnya sampai sadar kembali.

“Apa yang menimpamu wahai anakku?” tanya ayahnya.

Si pemuda tak mau bicara. Setelah didesak beberapa kali akhirnya ia mengakui perbuatannya membuntuti si wanita sampai dibacakan ayat tadi. Tak lama usai bercerita, sang pemuda menghela nafas terakhirnya.  Ia langsung meninggal dunia.

Kejadian ini tentu saja terdengar oleh khalifah Umar bin Khatab. Beliau bertanya, “Mengapa kalian tidak memberitahukan kematiannya kepadaku?” Beliau pun pergi ke kuburan si pemuda. Khalifah  Umar menghampiri dan berdiri di samping kuburan seraya berkata, “Hai Fulan, dan bagi orang yang takut saat menghadap RabbNya, maka ada dua surga baginya.”

Lalu seolah-olah terdengar oleh Khalifah Umar bin Khatab suara dari dalam kubur pemuda itu, “Rabbku telah memberikannya kepadaku wahai Umar.”

Pada versi lain kisah ini disebutkan Al Hasan,  dari Umar ra  dia berkata, “Ada seorang pemuda pada zaman Umar bin Al Khatab ra, yang senantiasa datang ke masjid dan melakukan ibadah. Suatu kali hatinya tertambat kepada seorang gadis. Lalu dia menyatakan isi hatinya kepada gadis itu. Namun demikian, ia sadar dan ingat akan dirinya, lalu dia menghela nafas yang dalam dan pingsan. Pamannya mengetahui keadaannya, membawanya pulang ke rumahnya. Setelah sadar kembali, dia berkata, “Wahai paman, temuilah Umar dan sampaikanlah salamku padanya. Juga tanyakan kepadanya, apakah balasan orang yang takut akan bertemu dengan RabbNya…” Maka Umar berkata, “Kamu mendapat dua surga.”

Abu Hurairah dan Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah SAW berkhutbah sebelum wafatnya, yang di antaranya beliau bersabda,

“Barangsiapa mampu bersetubuh dengan wanita atau gadis secara haram, lalu Dia meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah menjaganya pada hari yang penuh ketakutan yang besar (kiamat), diharamkannya masuk neraka dan memasukkannya ke dalam surga.”

Malik bin Dinar berkata, “Surga An Naim berada di antara surga Firdaus dan surga Adn. Di dalamnya terdapat bidadari-bidadari yang diciptakan dari bunga-bunga surga. Surga itu ditempati orang-orang yang hendak melakukan kedurhakaan, lalu tatkala mengingat Allah, mereka meninggalkannya karena takut kepada Allah.”

Qatadah berkata, pernah disebutkan kepada kami bahwa Nabi SAW pernah bersabda,
“Tidaklah seseorang sanggup melakukan yang haram, kemudian dia meninggalkannya karena hanya takut kepada Allah, melainkan Dia akan mengganti yang haram itu di dunia sebelum akhirat dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”


Alhamdulillah

Kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW

Isra yang berarti perjalanan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Miraj saat Rasulullah berjalan ke langit sidratul Muntaha. Isra Mi'raj adalah peritiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW saat Beliau diperintah Allah melaksanakan sholat. Adanya perintah sholat ini menjadi pemisah dengan jelas siapa golongan orang Islam dan siapa yang bukan.





Maka Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi  sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebenaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. QS Al Israa 1.

Hadist yang shohih mengenai peristiwa Isra Miraj salah satunya pada riwayat Bukhari. Berikut adalah kisah perjalanan Rasulullah SAW ketika Isra Miraj:

Berita dari Annas bin Malik mengatakan, “Abu Dzar pernah bercerita bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Pada suatu waktu ketika aku berada di Mekah, tiba-tiba atap rumahku dibuka orang. Maka turunlah Jibril, lalu dibedahnya dadaku, kemudian dibersihkannya dengan air zam-zam. Setelah itu dibawanya sebuah bejana emas penuh berisi hikmat dan iman, lalu dituangkannya ke dalam dadaku, dan sesudah itu dadaku dipertautkannya kembali.

Kemudian ditariknya tanganku, dan ia membawaku naik ke langit dunia. Setelah tiba di langit pertama, Jibril berkata kepada pengawal, “Buka pintu!” Malaikat pengawal bertanya, “Siapa itu?” Kata Jibril, “Saya Jibril.” Kata pengawal, “Adakah orang beserta Anda?” Jawab Jibril, “Ada! Muhammad besertaku.” Tanya pengawal, “Sudah diputuskah dia?” Jawab Jibril, “Ya, sudah!”

Setelah pintu terbuka, maka kami naik ke langit pertama. Sekonyong-konyong kami bertemu dengan seorang laki-laki sedang duduk, di kanan kirinya tampak menghitam kelompok orang banyak. Apabila dia menengok ke kanan dia tertawa, tetapi apabila dia menengok ke kiri dia menangis.  Orang itu berujar, “Selamat datang wahai Nabi dari anak yang saleh.”

Aku bertanya pada Jibril, “Siapakah orang ini?”

Jawabnya, “Inilah Adam. Kumpulan orang yang banyak di kanan kirinya ialah roh anak cucunya. Yang sebelah kanan penduduk surga dan yang sebelah kiri penduduk neraka. Maka apabila ia menengok ke kanan, ia tertawa dan apabila ia menengok ke kiri ia menangis.”

Kemudian Jibril membawaku naik ke langit kedua. Ia berkata kepada pengawal, “Buka pintu!”
Penjaga pintu bertanya kepada Jibril seperti penjaga pintu yang pertama bertanya, kemudian ia membukakan pintu.

Kata Anas, “Rasulullah SAW menceritakan, bahwa di beberapa langit beliau bertemu dengan para Nabi, Adam, Idris, Musa, Isa, dan Ibrahim shalawatullahi alaihim, tetapi tidak diceritakannya di langit mana masing-masing berada, selain hanya menyebutkan, Adam di langit pertama, dan Ibrahim di langit ke enam.”

Kata Anas, “Tatkala Jibril beserta Nabi SAW bertemu dengan Idris, Idris mengucapkan salam, “Selamat datang, wahai Nabi dan Saudara yang saleh.”

Nabi SAW bertanya kepada Jibril, “Siapa ini?” Jawab Jibril, “Inilah Idris.”

Rasulullah meneruskan, “Aku bertemu Musa. Dia pun mengucapkan, Selamat datang, wahai Nabi dan Saudara yang saleh.” Aku bertanya, “Siapa ini?” Jawab Jibril, “Ini Musa.”

Kemudian aku bertemu dengan Isa. Isa pun berkata, “Selamat datang, wahai Saudara dan Nabi yang saleh.” Aku bertanya, “Siapa ini?” Kata Jibril, “Ini Isa.”

Setelah itu aku bertemu dengan Ibrahim. Dia pun mengucapkan, “Selamat datang, wahai Nabi dan anak yang saleh.” Aku bertanya pula, “Siapa ini?” Jawab Jibril, “Inilah Ibrahim alaihisalatu was salam.”

Sesungguhnya Ibnu Abbas dan Abu Hayyah al Anshari, kedua-duanya pernah bercerita bahwa Nabi SAW bersabda:

“Kemudian aku dibawanya naik ke tempat yang lebih tinggi, dimana aku dapat mendengar bunyi goretan pena.”

Kata Ibnu Hazm dan Anas bin Malik, Nabi SAW bersabda, “Allah SWT mewajibkan sholat atas umatku lima puluh kali sehari semalam. Maka aku turun membawa perintah itu. Ketika aku lewat di hadapan Musa, ia bertanya kepadaku, “Apa yang diperintah Allah kepadamu untuk dilaksanakan umatmu?”

Jawabku, “Allah SWT mewajibkan sholat lima puluh kali.” Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan sanggup melaksanakan.”

Maka kembalilah aku kepada Tuhanku, lalu dikuranginya sebagian. Kemudian aku kembali kepada Musa dan berkata, “Allah mengurangi seperdua.” Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu, sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.”

Maka kembali pulalah aku kepada Tuhanku. Lalu Allah menguranginya pula seperdua. Sesudah  itu aku kembali pula mengabarkannya kepada Musa . “Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu, sesungguhnya umatmu tidak sanggup melaksanakannya.”

Maka kembali pulalah aku kepada Tuhanku. Allah berfirman, “Walaupun lima, namun lima puluh juga. PutusanKu tak dapat dirubah lagi.”

Maka aku kembali pula mengabarkannya kepada Musa. Kata Musa, “Kembalilah kepada Tuhanmu.”
Jawabku, “Malu aku kepada Tuhanku.”

Kemudian Jibril membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha. Tempat mana ditutup dengan aneka raha, warna yang aku tak tahu warna-warna apa namanya. Sesudah itu aku masuk ke dalam surga, di mana di dalamnya terdapat mutiara bersusun-susun sedangkan buminya bagaikan kasturi.” HR Muslim
  
Alhamdulillah

Kisah Nabi Yaqub AS dan Malaikat Maut


Nabi Yaqub as adalah cucu nabi Ibrahim as dari anaknya Ishaq as. Beliau memiliki anak bernama Yusuf as yang kemudian juga diangkat Allah SWT sebagai nabi.

Pada kitab Zahri Riyadh disebutkan bahwa nabi Yaqub pernah bersahabat dengan malaikan maut. Suatu ketika malaikat maut datang mengunjunginya. Nabi Yaqub bertanya kepadanya, “Hai malaikat maut, engkau datang sekadar mengunjungiku atau hendak mencabut nyawaku?”

Malaikat maut menjawab, “Aku hanya datang berkunjung.”

Lalu Yaqub berkata, “Aku mohon engkau mau memenuhi satu permintaanku.”

Malaikat maut bertanya, “Apakah permintaanmu itu?”

Yaqub berkata, “Bila ajalku telah mendekat, tolong Engkau beritahukan kepadaku.”

Malaikat maut pun berkata, “Baiklah, nanti akan aku kirimkan kepadamu dua atau tiga orang utusan.”

Ketika Yaqub sampai ajalnya, datanglah malaikat maut padanya. Dan sebagaimana biasanya Yaqub pun bertanya, “Apakah kamu hanya berkunjung atau hendak mencabut nyawaku?”

Malaikat maut menjawab, “Kali ini aku datang untuk mencabut nyawamu.”

Dengan keheranan Yaqub bertanya,  “Bukankah telah berjanji kepadaku akan mengirimkan dua atau tiga utusan?”


Malaikat maut pun menjawab, “Telah aku lakukan itu. Keputihan rambutmu setelah hitam sebelumnya, kelemahan tubuhmu setelah kuat sebelumnya, kebongkokan tubuhmu setelah tegak sebelumnya. Tidakkah engkau sadar bahwa semua itu adalah utusanku pada anak Adam sebelum ia mati?”

Utusan mana yang telah datang kepada kita?

Alhamdulillah

Kisah Taubatnya Sang Pencuri Kain Kafan